Catatan Misterius Gua ‘Hantu’ di Sumatera Utara dengan Ribuan Lorong yang Belum Terjamah


SURATKABAR.ID – Tempat-tempat yang diselimuti misteri selalu sukses menarik orang-orang datang dan membuktikan sisi lainnya. Begitu juga Gua Kembar. Gua yang terletak di Sumatera Utara ini tak diketahui di mana ujungnya. Selain itu terdapat patung-patung dan dijadikan tempat ritual tertentu.

Berbeda dengan kebanyakan desa di wilayahnya, Desa Adin Tengah ini memiliki patung-patung batu yang menjadi bagian dari sejarah pendirian desa. Warga kerap menggelar ritual kecil di sana. Dan sekarang patung-patung itu seperti menjadi undangan bagi wisatawan.

Patung-patung tersebut terpahat di dinding batu di dekat pintu masuk Gua Kembar, yakni dua gua dengan pintu masuk yang masing-masingnya sangat mirip. Lokasinya di pinggiran Dusun Tambak Tajoh, Desa Adin Tengah, Kecamatan Salapian, Kabupaten langkat, Sumatera Utara, sekitar 80 km dari Medan.

Untuk mencapainya, Anda harus berjalan kaki sekitar 15 menit dari ujung desa melewati jalur menurun hingga sampai di kolam aliran anak sungai yang jatuhan airnya membentuk air terjun mungil. Dari sini, Anda bisa melanjutkan melalui jalan setapak, menanjak 20 meter hingga jejeran patung-patung.

Baca Juga: Dulunya Terendam Air, Intip Daya Tarik Si Candi Misterius di Magelang

Seperti yang ditukil dari laman Detik.com pada Minggu (8/9/2019), ada 10 patung di komplek ini. Sebagian besar masih diselimuti lumut. Patung-patung itu menggambarkan sosok pendiri kampung atau simantek kuta, dan seperti apa sistem kekeluargaan di desa tersebut.

Patung pertama merupakan patung pria, yakni patung Toga Sembiring Brahmana. Ia adalah sang pendiri desa. Sosoknya digambarkan mengenakan peci. Sementara itu di samping kiri patung utama, terdapat patung ibu beserta anaknya. Dan ada juga beberapa patung anak.

Tampak perbedaan antara patung utama dengan patung ibu. Jika patung utama mengenakan pakaian dan peci, patung ibu tampak tak mengenakan apapun. Selain patung-patung tersebut,  masih ada beberapa patung lain. Ada juga relief kapak dan kepala banteng.

Ada juga tulisan ‘MEN’ dan tulisan angka ‘1971’ yang menjadi petunjuk tentang waktu pembuatan patung-patung tersebut.

Jauh terpisah dari dinding utama, persisnya di bawah mulut gua terdapat beberapa patung. Namun identitaskelamin patung tersebut tak dapat dipastikan, karena bagian kepalanya sudah hilang. Selain itu, bagian kepala satu patung di dinding utama juga tak lagi ada di posisinya.

Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU) Suprayetno mengatakan sebagai bagian dari sejarah berdirinya desa tersebut, sudah pasti patung-patung batu itu menyimpan daya tarik tersendiri. Terlebih jika melihat posisinya yang berada di bentangan alam nan menghijau.

“Ini tentu menarik untuk dikunjungi. Selain kondisi alam yang baik, ada gua di sekitarnya yang juga masih misteri, karena disebut tembus hingga ke wilayak Kabupaten Karo,” jelas Suprayetno ketika ditemui di lokasi.

Lebih lanjut, Suprayetno menjelaskan kemungkinan gua-gua ini dulunya digunakan sebagai jalur migrasi para penduduk, termasuk sang pendiri desa, dari dataran tinggi Karo menuju kawasan Langkat ini. Oleh sebab itu, ia menilai, masih perlu dilakukan penelitian lebih dalam terkait ujung gua tersebut.

Dan terkait dengan pembuatan patung-patung batu tersebut, salah seorang keturunan pendiri desa, EdiUsaharaskita Tarigan (33), mengatakan, pamannya adalah salah satu pembuat patung-patung yang ada.

“Paman saya itu memang bisa membuat gambar maupun patung yang sangat mirip dengan aslinya. Selain paman saya, ada beberapa orang lain yang membuat patung-patung ini,” jelasnya.

Kisah lain dari tempat ini adalah areal patung yang sering dijadikan tempat digelarnya ritual kecil oleh warga. Ritual tersebut bersifat perorangan. Mereka biasanya menyalakan sebatang rokok yang kemudian diletakkan di ranting kayu.

Datangnya sejarawan di situs desa tersebut membuat masyarakat setempat diselimuti antusiasme. Harapan perkembangan ekonomi dari kunjungan wisatawan semakin besar. Selain itu banyak objek wisata di areal tersebut yang tak kalah menairknya untuk dikembangkan.

Gua Kembar yang juga disebut Gua Seribu Lorong karena memiliki banyak cabang lorong di dalamnya hanya salah satunya. Gua ini memang belum dieksplorasi lebih jauh. Kondisi di dalamnya tak hanya gelap, namun juga dihuni kelelawar.

Warga setempat menyebut gua ini Gua Umang yang artinya gua hantu. Cukup banyak kisah magis yang melingkupinya yang dipercaya oleh masyarakat desa tersebut.