Ketika Material Impor Membayangi Pembangunan Ibu Kota Baru di Kaltim


SURATKABAR.ID – Pemerintah akan segera memulai pembangunan ibu kota negara baru di tahun 2020 mendatang. Lokasi ibu kota baru pun sudah ditetapkan sejak beberapa waktu lalu, yakni di Kalimantan Timur, tepatnya di irisan Kabupaten Penajam Paser Utara dan kutai Kartanegara.

Rantai pasok material dan peralatan konstruksi pembangunan ibu kota baru tersebut menjadi hal yang perlu dipersiapkan. Hal tersebut menjadi isu panas lantaran mayoritas suplai material dan juga konstruksi pembangunan infrastruktur di Kalimantan justru berasal dari luar wilayah tersebut.

“Yang jadi pertanyaan kitaa, pembangunan yang selama ini di Kalimantan ternyata memang hampir seluruh materialnya berasal dari luar Kalimantan itu sendiri,” ungkap Dirjen Bina Konstruksi Syarif Burhanuddin mengungkapkan, dikutip dari Detik.com pada Rabu (4/9/2019).

Lebih lanjut, Syarif mengungkapkan, diperlukan terobosan baru dalam penyediaan rantai pasok yang efektif dan juga efisien agar pembangunan infrastruktur pun dapat dieprcepat. Rantai pasok dalam hal ini yang dimaksud adalah terkait bahan material dan juga peralatan konstruksi.

Baca Juga: Ahok Diisukan Jadi Ketua Tim Pembangunan Ibu Kota Baru, Istana Beri Penjelasan Begini

Setidaknya ada empat material dan peralatan konstruksi yang menjadi bagian penting dalam pembangunan insfrastruktur saat ini. Keempatnya adalah semen, aspal, baja konstruksi dan tak ketinggalan alat berat.

Dan berdasarkan data dari ikatan ahli pracetak dan prategang Indonesia (IAPPI), untuk membantun rumah PNS di ibu kota baru estimasi kebutuhan beton pracetaknya saja mencapai 27 juta ton. Kebutuhan tersebut belum ditambah untuk pembangunan insfrastruktur lain.

Adanya rencana pembangunan ibu kota baru membuat kebutuhan akan material dan peralatan konstruksi pun bertambah. Apabila tak dipersiapkan sebaik mungkin, duplai material dan peralatan konstruksi yang sebelumnya sudah surplus bisa menjadi defisit.

“Demikian juga kalau estimasi pembangunan infrastruktur 2019 – 2024, maka akan kelihatan bahwa setiap tahun kita butuh lebih banyak beton pracetak, aspal, baja, alat berat, dan sebagainya. Apakah kita siap? Jangan-jangan kebanyakan impornya lagi nantinya,” tukas Syarif.