Lava Mengalir Tanpa Henti Bawa Berkah Sepanjang Tahun, Inilah Keunikan Gunung Karangetang


SURATKABAR.ID – Pulau Siau yang terletak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, malam itu terlihat terang dengan semburat warna merah. Tidak ada yang berbeda dari suasana malam itu. Semuanya sama seperti malam-malam biasanya.

Adapun semburat terang merah itu bukan dari penerangan, melainkan lava yang meleleh dari dua puncak Gunung Karangetang. Jika lazimnya, masyarakat akan panik melihat penampakan tersebut, namun berbeda dengan warga yang tinggak di Pulau Siau.

Dilansir dari laman Detik.com pada Jumat (30/8/2019), Bupati Evaneglian Sasingen menjelaskan bahwa masyarakat setempat memang tidak panik meski mendapati adanya aktivitas seperti itu. Mereka bahkan tetap beraktivitas dengan normal.

“Kalau lava itu tidak pernah berhenti. Justru masyarakat di sini kalau gunungnya diam malah was-was. Mereka lebih senang gunungnya ada aktivitas seperti aktivitas ini dari dulu. Biasanya kalau diam (erupsi) akan besar. Dari dulu masyarakat sudah terbiasa,” kata Bupati Evangelian Sasingen, Rabu (14/8/2019).

Baca Juga: Muncul Penampakan Manusia Raksasa Saat Erupsi Gunung Agung, Ini yang Sebenarnya Terjadi

Menurutnya, meski Siau merupakan wilayah yang rawan bencana, namun berkat Gunung Karangetang, tanah di sana menjadi sangat subur. Bahkan disebutkan tanah vulkanik ini mampu membuat kualitas pala Siau menjadi unggulan.

“Jadi tambang masyarakat juga pasirnya untuk pembangunan, jadi emang jadi berkah untuk masyarakat. Kalau dampak negatifnya was-was kalau erupsi skala besar. Dampak positifnya lahan pertanian jadi subur, kalau erupsi besar lahan perkebunan jadi korban,” jelas Evangelian yang melanjutkan tampuk pimpinan suaminya tersebut.

Sementara itu, Penyelidik Bumi Muda PVMBG Gunung Karangetang Ugan Saing mengungkapkan bahwa gunung setinggi 1380 m dari permukaan air laut ini statusnya siaga sejak November tahun 2018 lalu.

“Sekarang adalah yang terakhir setelah 2015. Dimulai dari peningkatan kegempaan pada 23 November, peningkatan gempa gugusan di tanggal 25 berlanjut gempa guguran di tanggal 27-28 November. Adanya peningkatan kegempaan tersebut kami memutuskan untuk menaikkan status pada 12 Desember 2018 dan sampai saat ini status tersebut masih diberlakukan,” tuturnya.

Tidak seperti gunung api kebanyakan, menurut Ugan, Gunung Karangetang memiliki karakteristik yang cukup unik dengan sifatnya yang efusif. Gunung ini mengeluarkan lava dari kawah dan lavanya gugur dari puncak.

Guguran tersebut lalu menumpuk di titik tertentu dan terjadi guguran selanjutnya. “Jadi kayak estafet keluar dari puncak ke kawah dua mengalir menumpuk dia bisa gugur lagi dan itu bisa menyebabkan awan panas,” imbuh Ugan.

Ugan sendiri mengaku belum bisa memprediksi secara pasti aktivitas gunung api ini ke depannya. Segalanya tergantung pada data. “Berdasarkan data sampai saat ini untuk Karangetang belum ke arah sana. belum ada potensi tapi tidak menutup kemungkinan kalau kita ikuti datanya,” ujarnya tegas.

Oleh karena itu, sebagai langkah upaya penyelamatan sementara, pihak PVMBG telah menetapkan batas aman bagi warga setempat mendekati kaki gunung.

“Dalam radius 2.5 m pusat erupsi atau puncak dari kawah utama dan kawah selatan itu adalah wilayah steril yang tanpa ada penduduk pendaki wisatawan dan sebagainya. Yang sektoral barat laut utara itu daerah Batu Bulan antara sungai Batu Are dan Samuang itu juga 4 km harus steril dari penduduk,” pungkasnya.