Menyelami Nuansa Mistis Ritual Suran, Warga Mengaku Diikuti Bau Wangi Usai Ambil Air di Sumur Tua


SURATKABAR.ID – Setiap tanggal 7 Muharram atau 7 Sura di Desa Banyuraden terlihat lebih ramai dari hari-hari biasa. Seperti terkena magnet, ribuan warga tertarik berkumpul di satu titik, yakni di Dukuh Modinan. Malam itu adalah malam tradisi ritual Kirab Suran Mbah Demang Modinan Cokrodikromo.

Terlihat abdi dalem pura pakualaman mengambil air dari sebuah sumur tua di kediaman Mbak Demang Cokrodikromo dengan diiringi srokalan atau shalawatan dari warga. Air tersebut lalu dibawa ke Pura Pakualaman untuk menjamas pusaka Pakualaman.

Begitu kirab mulai berjalan, warga akan berebutan untuk mengambil air dari sumur tersebut.

“Warga percaya air tersebut bisa menyembuhkan sakit dan membuat awet muda,” ungkap salah seorang warga Banyuraden bernama Samasta, seperti yang dikutip dari laman Liputan6.com, pada Jumat (30/8/3019).

Baca Juga: Menguak Misteri Air Samudera Atlantik dan Pasifik yang Tak Bisa Menyatu di Teluk Alaska

Ki Demang Cakradikrama yang bernama kecil Asrah, sangat terkenal. Meski semasa remajanya nakal, namun ia rajin bertapa. Suatu waktu, ia memenangkan sayembara memberantas kejahatan di sekitaran Kali Bayem dan Kali Dowangan. Atas jasanya tersebut ia diangkat menjadi mandor perkebunan tebu.

Saat terjadi kemarau panjang, tak sedikit perkebunan tebu di daerah tersebut mengalami kekeringan. Ki Demang yang saleh pun menjalankan salat istikharah memohonkan turunnya hujan. Doanya diijabahi Sang Pencipta hingga kemarau panjang yang menyiksa pun berakhir.

Cakradikrama yang dilahirkan pada tahun 1896 lalu diangkat menjadi Demang wilayah tersebut. Ia dianugerahi rumah lengkap dengan sumur tua yang hingga detik ini tak pernah kering, meski kemarau melanda.

Air sumur yang oleh Pakualam ke-7 diberi nama toya tobating Allah, yang berarti air taubat kepada Ilahi, tersebut kemudian dijadikan salah satu dari 7 air sumber yang digunakan untuk menjamas pusaka Pakualaman.

Sampai sekarang, tradisi Suran Mbah Demang Modinan Cokrodikromo 7 Sura ini masih terus dijaga dan diyakini membawa keberuntungan.

Kirab Toya Taubatan Allah ini berawal mula di Dusun Modinan dan berhenti beberapa saat di Balai Desa Banyuraden, sebelum kemudian diteruskan kembali menuju Pura Pakualaman. Beberapa bregada prajurit dan warga sekitaran Banyudaren beramai-ramai mengikuti kirab tersebut.

Di pagi hari sebelum puncak acara, yakni tepat pada 7 Sura, di rumah bekas kediaman Ki Demang, segala persiapan pembuatan sesaji Suran Kademangan dan sesaji salawatan dimulai.

Selain itu dibuat juga kendhi ijo yang berupa nasi putih lengkap dengan lauk pauk dari kelan atau sayur tholo dan gudhangan bumbu tumbuk. Kemudian dibungkus menggunakan daun pisang. Bungkusan ini terlihat mirip seperti kendhi berwarna hijau, karena itu disebut ‘kendhi ijo’.

Kendhi ijo ini nanti di siang harinya akan dibagikan pada warga di sekitar tempat upacara. Tak jauh berbeda seperti di tempat lain, prosesi pembagian kendhi ijo ini diwarnai dengan perebutan warga. Mereka percaya, siapa yang berhasil mendapatkan kendhi ijo akan mendapat rezeji sepanjang tahun/

“Sebetulnya ini sanepan (perlambang), bila kita berusaha, maka insyaAllah rezeki akan selalu ada,” tutur Samasta, warga yang setiap tahun selalu mengikuti upacara ini.

Nuansa mistis masih sangat terasa, terutama di tempat ritual sumur tua. Beberapa masyarakat mengaku mencium bau wangi dari air sumur tersebut pada saat-saat tertentu.

“Saya pernah ikut mengambil air, yang terjadi kemudian, bau wangi mengikuti saya berhari-hari,” sebut Joko, salah seorang warga yang pernah ikut mengambil air sumur tersebut.