Kejam! Di Desa Ini Wanita yang Hamil di Luar Nikah Akan Dibuang ke Pulau Terpencil untuk Mati


SURATKABAR.ID – Bagi masyarakat Indonesia yang mengusung nilai-nilai luhur Budaya Timur, hamil di luar nikah sampai sekarang ini masih menjadi aib bagi keluarga. Meskipun mungkin hukuman sosialnya sudah tidak seperti dahulu lagi, namun tetap saja mereka yang hamil di luar nikah masih dianggap rendah dan dipermulakukan. Biasanya, jalan keluar yang diambil adalah menikahkan anak tersebut.

Namun hal tersebut berbeda 100 persen dengan salah satu budaya di Uganda. Gadis yang hamil di luar nikah dianggap menjadi aib dan harus dibuang dan diasingkan ke pulau terpencil. Sadisnya lagi, saat dibuang mereka tidak diberi makan ataupun juga minum. Tujuan dibuang ke Pulau Terpencil ini memang supaya gadis ini mati.

Mereka dibiarkan hidup di pulau terpencil, jika beruntung akan ada yang menyelamatkannya. Dilansir dari BBC, awa seorang wartawan bernama Patience Atuhire yang menemui seorang korban selamat dari hukuman tersebut. Namanya adalah Kyitaragabirwe.

Baca juga: Disebut Netizen Belum Bisa Move On dari Ariel, Begini Tanggapan Luna Maya

“Saat keluarga saya mengetahui bahwa saya hamil mereka menyuruh saya menaiki sampan, dan membawa saya ke Akampene (pulau hukuman), saya tinggal disana tanpa makanan ataupun air minum,” paparnya.

Tidak sedikit korban yang meninggal di pulau hukuman tersebut. Kyitaragabirwe sendiri juga sudah hampir mati lantaran kelaparan dan kedinginan. Namun beruntungnya, di hari kelima ia ditolong oleh nelayan dan dibawa pulang untuk dijadikan istri.

Sejak kejadian itu, Kyitagabirwe tinggal di Desa Kshungyera yang memang lokasinya tidak jauh dari Pulau Hukuman tersebut. Di dalam traidsi Bakiga, perempuan muda hanya boleh hamil setelah menikah. Karena itulah pria yang menikahi gadis perawan juga menerima mahar dan ternak.

Baca juga: Lah! Punya Suami Idaman yang Super Romantis dan Penuh Pengertian, Wanita Ini Malah Minta…

Sementara mereka gadis yang hamil di luar nikah merupakan aib yang membawa kesialan. Karena itulah ia dibuang ke pulau hukuman. Praktik ini berlanjut bahkan setelah penjajah tiba di Uganda pada abad ke-19, sampai akhirnya dilarang.