Tumbuh di Keluarga Sekte Titisan Yesus, Pria Ini Baru Mengetahui Fakta Pahit di Usia 15 Tahun


SURATKABAR.ID – Dibesarkan di tengah-tengah sekte yang mempercayai Hari Kiamat sudah dekat hingga usia 15 tahun, Ben Shenton baru mengetahui kebenaran pahit tentang hidupnya ketika polisi datang menggerebek rumah terpencil di Danau Eildon, Australia, untuk membubarkan sekte tersebut.

Hingga Agustus 1987, dirangkum dari laman Tribunnews.com pada Sabtu (24/8/2019), sejumlah anak di Australia, termasuk Ben Shenton, dikumpulkan oleh instruktur yoga yang glamor dan karismatik, Anne Hamilton Byrne. Ia membujuk pengikutnya bergabung dengan sekte yang disebutnya ‘Keluarga’.

Para anggota yang dikumpulkannya sejak tahun 1960-an mempercayai bahwa Anne merupakan titisan Yesus Kristus. Dan sekiranya kiamat terjadi, mereka memiliki kewajiban untuk mendidik orang-orang yang berhasil selamat dari bencana tersebut.

Anne disebut sebagai ibu Ben dan anak-anak yang lain. Wanita ini mengajarkan anak-anak tersebut untuk menghindari orang luar dengan menggunakan mantera yang berbunyi: tak terlihat, tak terdengar, tak diketahui.

Anggota sekte lainnya, yang mereka kenal sebagai ‘bibi’, membantu merawat para anak. Mereka diharuskan bangun setiap pukul 5 pagi dan menjalani rutinitas yang sama setiap harinya, yakni yoga, meditasi, belajar, yoga, meditasi, mengerjakan PR, dan tidur.

Baca Juga: Wow! Hanya dengan Selembar Voucher ‘Sakti’, Semua Utang di Dunia Bisa Terlunasi

Ketika polisi datang menyerbu tempat tersebut, tidak banyak anak-anak yang ada di sana. Namun diyakini pernah ada 28 orang anak yang tinggal di rumah terpencil itu.

Anak-anak malang tersebut hanya mendapat makanan vegetarian dan hukuman sudah menjadi hal biasa. Tak jarang para ‘bibi’ menenggelamkan kepala anak-anak tersebut di dalam air. Atau di lain waktu, mereka menaruh tangan anak-anak di atas lilin yang menyala hingga nyaris terbakar.

Sedangkan Anne, jika ia berada di rumah, juga terkadang memukuli anak-anak tersebut dengan sepatu hak tinggi. “Menyaksikannya saja cukup untuk bikin emosi kami terluka,” tutur Ben ketika dimintai pengakuan tentang pengalaman pahitnya.

Anne Hamilton-Byrne

Sekte tersebut berada di bawah kendali Anne yang menggunakan obat-obatan agar anak-anak tenang. Wanita ini terus-menerus mencekoki anak-anak dengan obat penenang, seperti Mogadon dan Valium. Sementara orang dewasa dan remaja mendapat LSD pada upacara ‘pembersihan’ yang digelar rutin.

Menurut Anne, ini satu-satunya cara agar para pengikutnya tetap taat dan tidak berpaling darinya.

Ben sendiri mengaku sangat tidak menyukai proses dirinya tumbuh di masa-masa tersebut. Namun ia tak memiliki pilihan lain.

Danau Eildon, Australia

“Ketika cuma itu realitas yang disediakan bagi seorang anak, mereka tak punya pembanding,” tuturnya. “Tak ada penjelasan lain bagi kami.”

Dan semua akhirnya berubah ketika polisi datang.

Pada malam pertama setelah terlepas dari Danau Eildon, Ben tiba-tiba tersadar bahwa dirinya tak harus bertemu dengan Anne lagi. “Rasanya pertama kalinya dalam hidup saya bebas,” ungkap Ben.

Ben Shenton kecil

Tetapi masalah yang lebih besar ternyata bari dimulai. Ben baru saja mengetahui fakta pahit bahwa ibunya bukanlah Anne, melainkan ‘bibi’ bernama Joy yang selama ini ia benci.

Ben juga mengetahui bahwa anak-anak lain di sana bukan saudaranya, melainkan hanya anak dari anggota sekte lain atau anak yang tak punya orangtua yang kemudian dipungut oleh Anne. Ia juga akhirnya memahami bahwa Anne bukanlah titisan Yesus Kristus.

Ben Shenton remaja usai diselamatkan polisi

Di sekolah, Ben berjuang keras untuk bisa membuatnya diterima. Ada tida orang temannya di sekolah yang mencoba mengajaknya berteman, namun Ben menolak. Ini bukan hal yang aneh, mengingat Ben dan anak-anak lain yang selama hidup dalam sekte tak pernah mengetahui apa itu persahabatan.

“Ketika kita membangun pertemanan dengan seseorang, kita punya hal-hal bersama, kepentingan bersama, berbagi opini dan sebagainya,” ujar Ben. “Saya tak pernah punya hal seperti itu.”

Ben berjuang untuk mengatasi depresi dan keinginan besar bunuhdiri yang mencapai puncaknya pada suatu malam di tahun 1988. Dalam perjalanan di pedalaman Australia saat itu ia merasa sangat sendirian.

Beruntung gurunya mendekat dan mengingatkannya, “Akan butuh waktu bagimu utnuk belajar cara berhubungan.”

Nasihat dari gurunya tersebut ia terapkan dengan mempelajari perilaku orang kemudian menganalisis hasil tindakannya pada orang lain.

Anne Hamilton-Byrne dan suaminya tiba di pengadilan di Melbourne tahun 1993

Pada saat yang sama, ia keluar dari rumah yatim piatu karena diangkat anak oleh satu keluarga. Ia pun mulai pergi ke gereja untuk beribadah. Ia mendapat pekerjaan di IBM dan bekerja di sana selama 22 tahun.

Ben baru merasa akrab dengan dunia barunya. Ia menikah dan memiliki dua anak yang kini berusia 18 dan 20 tahun.

Selama itu hubungannya dengan sang nenek mulai dekat. Ben sering mampir ke sana. Joy, ibunya, tinggal di luar negeri dan sesekali ke Australia. Pada tahun 2006, saat Ben mengunjungi neneknya, ia bertemu dengan sang ibu di sana.

Ketika itu keduanya belum pernah berbicara satu sama lain sejak Ben mengetahui bahwa joy merupakan ibu kandungnya. Ben teringat dulu Joy pernah berkata, “Jangan pernah mengunjungi aku, aku tak akan membukakan pintu untukmu!”

“Ia berjanji kepada Anne untuk tak berhubungan dengan saya,” papar Ben. “Tapi itu tak berarti kami tak saling peduli.”

Ben Shenton dan ‘saudara’-nya di keluarga sekte terlarang

Keadaan berubah, Joy terlihat lebih ramah. Sedang Ben merasa bahwa ia perlu memaafkan ibunya karena agamanya mengajarkannya hal tersebut.

Joy sendiri masik dekat dengan Anne. Meski begitu ia kemudian memutuskan tetap berhubungan dengan Ben, putranya.

Di tahun 2012, Joy mengunjungi Ben dan mengajaknya menemui Anne yang tinggal di panti jompo karena demensia.

Atas kejahatannya, Anne tak pernah dipenjara. Satu-satunya hukuman yang dijatuhkan pada Anne hanya denda sebesar Aus$ 5.000 atau setara dengan Rp 47 juta lantaran memalsukan dokumen. Pihak berwenang gagal menuntutnya atas kejahatan yang lain karena kekuranan bukti.

Ben memenuhi ajakan Joy karena penasaran. Ketika bertemu, Anne langsung memberi sambutan hangat pada Joy, namun ia sama sekali tak ingat dengan Ben.

Itu kali terakhir Ben bertemu Anne sebelum wanita tersebut meninggal pada Juli lalu di usianya yang ke-97.

Ben merasakan gejolak kelegaan usai meninggalnya Anne. Dalam bayangannya, Anne masih tetap sosok yang jahat karena berkaitan dengan sekte tersebut. Dan pada diri Anne tak terlihat adanya penyesalan sedikit pun.

Saat ini Ben akhirnya dapat menatap masa depan dengan membuka situs web-nya sendiri. Dalam situs bernama Rescue the Family, Ben ingin mendidik orang-orang mengenai sekte, organisasi totaliter dan juga kekuatan kehendak bebas.

Selain itu, Ben juga menulis buku yang diberi judul Life Behind the Wire, yang isinya adalah pelajaran dari masa kecilnya. Ia juga menuliskan bahaya sekte-sekte terlarang yang ia pernah alami. “Saya telah menyesuaikan hidup saya dengan kenyataan,” pungkasnya.