Jangan Diisap atau Diikat, Lakukan Ini Saat Digigit Ular Berbisa


SURATKABAR.ID – Iskandar (44), satpam di Gading Serpong, tewas usai digigit ular weling, ular nomor empat paling berbisa di dunia. Korban, diungkapkan istrinya, sempat mengisap bekas gigitan ular weling. Namun nyawanya tetap tak terselamatkan.

Apa yang harus dilakukan ketika kita mendapatkan gigitan dari ular berbisa? Berikut penjelasannya dari pakar penanganan gigitan hewan berbisa (toksinolog), sekaligus penasihat temporer WHO untuk gigitan ular, dr Tri Maharani, dilansir dari laman Detik.com, Sabtu (24/8/2019).

Disebutkan dr Tri Maharani, setidaknya ada enam langkah yang harus dihindari ketika Anda digigit ular berbisa. Pertama, jangan bawa ke dukun, jangan diisap, jangan mengeluarkan darahnya, jangan diikat, jangan dipijat, dan jangan menggunakan obat-obatan herbal.

“Jangan sedot darahnya. Orang Indonesia berpikir setelah digigit ular, maka bisa ular masuk lewat pembuluh darah. Padahal, bisa ular itu masuk ke kelenjar getah bening dulu,” ungkap wanita penyabet gelar Doktor biomedis dari Universitas Brawijaya yang akrab disapa Maha.

Baca Juga: Setelah Digigit Ular, Seorang Pria Gigit Istrinya. Ini yang Kemudian Terjadi

Ia menyebutkan, tidak ada gunanya menyedot darah bekas gigitan ular, mengingat bisa ular tidak mengandalkan pembuluh darah, melainkan kelenjar getah bening. Selain itu, tidak akan ada gunanya juga mengikat kencang-kencang bagian tubuh dengan tujuan menghambat aliran pembuluh darah.

“Jangan ikat bagian tubuh yang terkena gigitan ular. Justru cara tersebut menjadikan aliran darah berhenti dan bagian tubuh yang diikat akan mengalami kematian jaringan, akibatnya harus diamputasi,” tutur Maha lebih lanjut.

Langkah pertama yang wajib dilakukan saat digigit ular berbisa, dijelaskan Maha, bukan menghambat aliran darah, namun menghambat peredaran bisa ular ke sekujur tubuh korban. Caranya? Dengan imobilisasi, atau mencegah agar bagian tubuh yang terkena gigitan tidak bergerak.

“Tujuan imobilisasi adalah menunda racun menjalar ke seluruh tubuh dan merusak organ-organ tubuh kita,” ujarnya.

Misalnya, jika jari tangan Anda tergigit ular weling atau ular berbisa lainnya, ganjal gerak tangan dengan jepitan dua balok kayu dari ketiak hingga ke ujung tangan. Jangan membebat terlalu kencang, ikat sebatas hingga tangan tidak dapat banyak bergerak.

“Cara ini agar kelenjar getah bening tidak mengalirkan bisa ular ke seluruh tubuh. Bila otot-otot itu bergerak, maka kelenjar getah bening akan mengalirkan bisa ular itu,” jelas Maha.

Yang sering terjadi, korban gigitan ular banyak bergerak ke sana dan ke mari karena panik atau keinginan mencari pertolongan. Dan apabila racun sudah menyebar ke seluruh tubuh, maka neurotoksin atau racun syaraf yang dikandung bisa ular bakal berdampak sistemik.

“Antivenom diberikan di fase yang menuju ke arah sistemik,” kata Maha. Jika penanganan terlambat didapatkan korban dan racun terlanjur menyebar ke sekujur tubuh, antivenom akan sulit menyembuhkan korban.

Namun jika penanganan pertama sudah seperti yang dianjurkan, yakni dengan melakukan imobilisasi, maka antivenom dapat lebih efektif dalam bekerja melawan racun ular.

Selain itu, Maha juga menyarankan agar pihak korban gigitan ular berbisa segera melakukan panggilan telepon ke layanan Kementerian Kesehatan RI yang berkalu dalam skala nasional di nomor 119. Atau juga bisa menelepon nomor darurat yang disediakan Kementerian Komunikasi dan Informatika di 112.

“Teleponlah nomor darurat 119 atau 112, pasti ambulan datang dan ditolong,” pungkas Maha.