Upaya Pelurusan Sejarah Lewat Buku ‘Indonesia Tidak Pernah Dijajah’ yang Sempat Bikin Gempar


SURATKABAR.ID – Sejarawan Batara Richard Hutagalung, dalam merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74, kembali meluncurkan bukunya yang berjudul ‘Indonesia Tidak Pernah Dijajah’. Adakah maksud tersembunyi di balik itu semua?

Batara, melalui bukunya ini, dengan berani ingin meluruskan sejarah dan fakta-fakta yang selama ini dipercayai, baik oleh bangsa Indonesia dan juga dunia, bahwa Indonesia pernah berada di bawah jajahan Belanda 350 tahun lamanya.

“Saya yang hanya tamatan SMA menulis buku dan dibahas oleh 3 guru besar. Kita ingin mendengar bagaimana pendapat 3 guru besar terhadap hasil penelitian saya selama 25 tahun. Kok selama ini, hanya dibahas Belanda jajah Indonesia atau Jepang jajah Indonesia,

“Tidak ada pembahasan 5 tahun wilayah jajahan Belanda di Asia Tenggara direbut Inggris,” ujar Batara di pembukaan acara bedah bukunya yang digelar di Ruang KK I, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (19/8) dikutip dari Sindonews.com.

Baca Juga: Ikut Berjuang demi Kemerdekaan RI, Pilot AS Hilang Secara Misterius di Tengah Misi. Begini Kisahnya

Ia ingin bertukar pikiran dengan para ahli sejarah berkenaan dengan hasil penelitiannya yang menyebut Indonesia memang tidak pernah dijajah seperti yang banyak disebutkan di buku-buku sejarah tentang Republik Indonesia. Pasalnya, Indonesia baru terbentuk pada 17 Agustus 1945.

“Jadi intinya saya ucapkan terima kasih pada guru besar dan para peserta. Kita bertukar pikiran apakah benar pendapat saya bahwa Indonesia sebagai entitas politik baru ada pada 17 Agustus 1945 dan belum pernah dijajah,” tuturnya.

Buah pikiran Batara tersebut rupanya diamini para pembedah buku. Tak hanya memuji alur penulisan yang tidak membuat pembaca gampang bosan, para pembedah yang juga merupakan ahli sejarah dan concern terhadap sejarah ini pun membenarkan analisis yang dituangkan Batara dalam bukunya.

“Walaupun dia menyatakan dia tidak sejarawan, tapi karyanya lebih banyak dari sejarawan. Bukunya tidak membosankan, asyik juga membacanya, karena buku sejarah biasanya membisankan karena ditulis sejarawan. Karena faktanya harus dibuktikan juga. Suasana buku suasana nasionalisme Indonesia,” ujar Sejarawan Senior Taufik Abdullah.

Menurut Taufik, sejarah itu lebih dari sekedar memberitahukan apa yang terjadi di masa lalu, namun untuk menjelaskan siapa sebenarnya bangsa Indoensia. Dan memang fakta sebenarnya ketika nusantara dijajah Belanda masih Hindia Belanda.

“Karena sebelumnya Indonesia adalah Hindia Belanda. Jadi buku ini setelah saya baca adalah rentetan dari peristiwa (sejarah sampai kemerdekaan),” ungkapnya kemudian.

Sementara itu Diplomat RI Makarim Wibisono mengaku cukup dibuat bingung ketika menjawab pertanyaan ketika mengikuti acara persiapan sebelum menjadi diplomat di Australia pada tahun 1975, apakah benar Indonesia pernah menjadi negara jajahan Belanda selama 350 tahun.

Pada waktu itu salah seorang peserta dari Amerika Latin menanyakan apakah Indonesia yang berpenduduk 200 juta jiwa pernah dijajah Belanda yang merupakan negara kecil. Mendengar hal tersebut ia pun sempat bingung bagaimana menanggapi pertanyaan tersebut.

“Jadi saya pada waktu terima buku, Pak Batara memperkaya khasanah orang Indonesia untuk bisa menjawab pertanyaan orang luar. Pak Batara anak seorang pahlawan, Kolonel Dokter Wiliater Hutagalung, salah satu orang yang menyusun konsep perang gerilya. Saya nggak aneh kalau buku itu penuh semangat cinta Tanah Air,” papar Makarim pada kesempatan yang sama.

Makarim menilai, buku seperti ini sangat perlu disebarluaskan ke anak didik Indonesia, mengingat buku ini banyak memuat kisah heroik yang jarang diketahui publik. Selain itu, buku ini juga menggambarkan Belanda sebagai bangsa Belanda yang sesungguhnya, yang suka memeras, tanpa peri kemanusiaan yang beradab.

Sejak zaman VOC, Belanda tak hanya memperjualbelikan lada dan rempah-rempah, namun juga orang-orang dari Banda, Bali dan daerah-daerah lainnya sebagai budak.

“Saat bertugas di Capetown ada pasar budak yang dijalankan Belanda, ada list-list orangnya. Jadi memang kita kurang beruntung karena dijajah satu bangsa kecil, bukan hanya SDA, tapi juga SDM. Dalam buku ini dikatakan bahwa bangsa Belanda penjajah yang kejam,” ungkap Makarim lebih lanjut.

Oleh karena itu, menurutnya, gambaran tentang Indonesia telah dijajah oleh sebuah bangsa kecil selama 350 tahun sangat merugikan bangsa Indonesia. Padahal, fakta berkata, Indonesia sendiri baru berdiri pada 17 Agustus 1945. Sementara untuk wilayah yang kali pertama dijajah Belanda adalah Jayakarta, Banda, dan Maluku.

Bahkan pada 1900 Tapanuli masih merdeka. Selain itu, pada saat itu Kerajaan Badung dan Klungkung Bali pun masih memiliki kekuasaan penuh. “Saya hargai buku ini karena bisa menjawab kita terhadap pertanyaan bangsa-bangsa lain. Ini buku wajib buat sekolah supaya mereka bisa tahu,” imbuhnya.

Senada, Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar Marthen Napang, juga mengakui bahwa buku ‘Indonesia Tidak Pernah Dijajah’ karya Batara Richard Hutagalung ini merupakan salah satu literatur utama dan yang pertama yang sanggup meluruskan fakta-fakta sejarah di masa lalu.

“Buku Pak Batara salah satu literatur utama dan pertama untuk meluruskan fakta-fakta sejarah masa lalu. Sejarah selalu membawa kita pada 3 dimensi, masa lalu, masa kini, dan masa depan, memberikan inspirasi-inspirasi,” ujar Marthen.