Di Balik Viralnya Akar Bajakah Si Obat Kanker, Ada Sosok Yazid Sang Pencetus


SURATKABAR.ID – Akar Bajakah yang diklaim berpotensi menyembuhkan kanker hingga detik ini masih ramai diperbincangkan publik luas. Tak sedikit masyarakat yang memberikan respons positif terkait hal ini. Mereka bahkan sampai mengeluarkan seruan ‘Patenkan Bajakah’.

Semua itu, ditukil dari laman Detik.com pada Sabtu (17/8/2019), berawal ketika nenek dari salah satu siswa yang melakukan penelitian terhadap akar Bajakah, Yazid Rafly Akbar, terkena kanker p******a 40 tahun silam.

“Ayah saya coba pakaikan obat dari Bajakah itu lalu sembuh sampai sekarang,” ungkap Yazid ketika ditemui, pada Jumat (16/8) kemarin.

Untuk keperluan riset di sekolah, Yazid menggandeng dua kakak kelasnya, yakni Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri, meneliti tanaman Bajakah. Hasil penelitian kemudian dilombakan di Bandung dan Korea. Tak disangka, mereka menerima penghargaan juara pertama di kedua ajang bergengsi tersebut.

Baca Juga: Gawat! Marak Obral Akar Bajakah 100 Ribuan di Toko Online, Onat Kanker yang Viral Ini Terancam Eksploitasi

Adapun Bajakah sendiri sebenarnya merupakan sebutan untuk akar bagi orang Dayak. Jenis tanaman ini pun tidak sedikit. Ia menyebutkan bisa ada ratusan Bajakah di hutan.

Keluarga Yazid telah secara turun menurun menggunakan Bajakah. Ayah Yazid sejak kecil kerap mengikuti kakek Yazid membelah hutan guna mencari Bajakah. Akan tetapi hingga saat ini, spesifikasi jenis Bajakah yang digunakan dalam penelitian tersebut belum dipublikasikan.

“Saya orang Dayak. Saya yang dari kecil ikut bapak saya dulu ke hutann nyari (Bajakah). Jadi saya yang tahu gimana ciri-ciri, bentuk, dan tekstur Bajakah itu,” tutur ayah Yazid, Daldin.

“Saya gak tahu kalau di keluarga lain, tapi sebenarnya ini turun temurun hanya di keluarga kami saya,” imbuh Daldin kemudian.

Dan menanggapi seruan ‘Patenkan Bajakah’ yang ramai disuarakan masyarakat, Daldin memang menaruh harapan besar di masa depan hal tersebut bisa terwujud.

“Ya, itu nantilah. Kita juga sempat koordinasi sama Pemda. Intinya bagaimana tetap bisa mengobati orang banyak. Tapi ya, balik lagi semuanya butuh proses. InsyaAllah sih (patenin Bajakah) kita lihat saja situasi ke depan. Kita tetap koordinasi sama Pemda,” tuturnya.

Senada dengan Daldin, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Palangkaraya Mi’razulhaidi juga sangat berharap Bajakah bisa dipatenkan untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa terjadi ke depannya.

“Ya, jangan sampai juga ini kan udah turun temurun dan anak didik kami juga yang neliti terus ada orang-orang yang punya niatan negatif ke hutan kami. Memang paling tidak harus dipatenkan. Tapi kita ga bisa kan sendiri. Ini kan aset bangsa, aset semua, jadi kita harus koordinasi,” pungkas Mi’razulhaidi.

Ingin Masuk Teknik Sipil

Ada hal menarik dari sosok Yazid Rafly Akbar, karena ia sendiri ternyata memiliki cita-cita yang jauh dari tanam-tanaman. Ya, ia mengaku akan melanjutkan studinya ke jurusan teknik sipil. Namun demikian ia berharap penelitian terkait dengan akar Bajakah dapat dilanjutkan kembali.

“Ya, walaupun cita-cita saya mau masuk teknik sipil, tapi saya bangga bisa mengembangkan ini untuk membantu orang banyak. Bermanfaatlah gitu,” ujar Yazid ketika ditemui di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta Selatan, pada Sabtu (17/8).

“Ke depannya, ingin sekali dikembangkan menjadi obat untuk masyarakat luas dan dipatenkan. Namun, saat ini harus diteliti lebih lanjut untuk memastikan khasiatnya,” imbuh Yazid.