Ikut Berjuang demi Kemerdekaan RI, Pilot AS Hilang Secara Misterius di Tengah Misi. Begini Kisahnya


SURATKABAR.ID – Seluruh rakyat Indonesia hari ini, Sabtu (17/8/2019), serentak merayakan kemerdekaan RI yang ke-74. Upacara bendera digelar di berbagai instansi. Bendera merah putih ikut menyemarakkan perayaan.

Catatan sejarah mengatakan Indonesia pernah berada di bawah jajahan Belanda selama ratusan tahun yang kemudian disusul Jepang. Ada begitu banyak pejuang yang rela mempertaruhkan nyawa demi merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

Dari sekian banyak nama pahlawan Indonesia, ada jasa seorang warga asing, yakni Amerika Serikat, tentang bagaimana ia ikut andil memperjuangkan dan merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Fakta penting ini sayangnya jarang diketahui publik.

Seperti dilansir laman Tribunnews.com pada Sabtu (17/8/2019) dari buku Soekarno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, entah dari mana asalnya, suatu hari muncul seorang pemuda dengan perawakan tinggi, rambut pirang, dan bola mata biru.

Baru berusia 26 tahun, pemuda ini melangkah gagah menghampiri Presiden Soekarno dan memperkenalkan diri. Ia mengungkapkan niatnya membantu bangsa Indonesia yang pantang menyerah dalam berjuang mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Baca Juga: 8 Tokoh ‘Non-Pribumi’ Ini Berjasa Perjuangkan Kemerdekaan RI

“Namaku Bob Freeberg. Aku orang Amerika. Aku seorang pilot dan menaruh simpati pada perjuangan Anda. Bantuan apa yang dapat kuberikan?”

Sebelumnya, tepatnya pada Juni 1947, pemuda bernama lengkap Bobby Earl Freeberg tersebut menerbangkan pesawat C047 Dakota. Ia menempuh perjalanan selama 14 hingga 15 jam menuju negara terasing, Indonesia. Nyaris sendirian, Bob saat itu hanya berbekal peta navigasi besar.

“Di sana Pulau Jawa hanya tergambar sepanjang 10 sentimeter,” ujar penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia Petit Muharto Kartodirdjo, sahabat Bob, dikutip dari buku karya Paul F Gardner, berjudul Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of U.S.-Indonesian Relation.

Bob sendiri merupakan seorang mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dari Parsons, Kansas. Tanpa gentar ia mengajukan diri melakukan penerbangan untuk republik yang baru saja terlahir, Indonesia.

Ia kali pertama bertamu Petit ketika membawa C-47 untuk sebuah perusahaan di Filipina, CALI. Selanjutnya ia membeli Douglas DC-3 yang diguankannya untuk kepentingan Republik Indonesia.

“Ia kemudian membeli Douglas DC-3 untuk diterbangkan demi kepentingan Republik. Kami menyebut pesawat itu RI-002, sebab nomor RI-001 disiapkan  untuk pesawat presiden di masa yang akan datang,” jelas Petit.

Kala itu, Belanda melakukan pemblokadean pada pelabuhan dan mengawasi wilayah udara dengan sangat ketat.

Di bawah kontrak Pemerintah EI, Bob mengemudikan pesawat yang membawa muatan perbekalan medis dari Palang Merah Amerika Serikat dan kargo lain di malam hari.

Ia juga membantu menyelundupkan vanila, kina, dan karet dari Indonesia untuk di bawa ke luar negeri. Selain itu ia juga membawa senjata, pakaian dan obat-obatan masuk ke Tanah Air.

Jasanya membantu TNI menjalankan operasi militer tak terhitung. Ia dipercaya menjadi pilot operasi penerjunan pertama AURI menembus blokade Belanda pada 17 Oktober 1947. Bob juga membawa perwakilan RI menemui pejabat PBB di negara lain.

Kala itu hanya pesawatnya yang bisa mondar-mandir keluar dan masuk wilayah Indonesia.

RI-002 yang dipiloti Bob juga mengantar Soekarno berkeliling Sumatera dan mengumpulkan sumbangan rakyat untuk mendukung perjuangan RI. Itulah perjalanan perdana sang presiden ke luar Jawa. Pada saat itu rakyat Aceh menyumbangkan 20 kg emas.

Emas tersebut lalu digunakan untuk membeli pesawat Dakota yang kemudian diberi nama Seulawah yang berarti gunung emas. Akhirnya RI-001 tak hanya sekadar nomor registrasi. Sejak itu ia telah menjadi kapal terbang yang nyata.

Entah apa alasan Bob mengambil keputusan untuk menginjakkan kaki di Indonesia. Ia merupakan seorang penerbang bayaran. Uang merupakan tujuan hidupnya.

Dikutip dari situs Smithsonian, Bob sebenarnya berencana menabung dan kembali ke tanah airnya di Amerika Serikat.

“Ia sudah bertunangan dengan seorang perawat yang ditemuinya di Manila,” tutur Marsha Freeberg Bickham, keponakannya.

Tetapi dari surat-surat yang ia tujukan pada keluaganya terkuak sisi lain. Bob mengaku dirinya tergerak mendapati ketidakadilan yang dirasakan rakyat Indonesia di bawah jajahan Belanda.

“Sungguh mengagumkan melihat orang-orang yang meyakini kemerdekaan, yang telah dinikmati rakyat Amerika, dan berjuang untuk meraihnya,” tulis Bob.

“Ia juga menulis tentang anak-anak yang telanjangtanpa pakaian, kelaparan, dan bagaimana ketabahan rakyat Indonesia. Bob menulis tentang bagaimana masyarakat menggunakan bambu runcing dan menyerbu pasukan Belanda yang berdenjatakan senapan mesin,” ungkap Bickham.

Sementara itu, Petit sendiri mengaku tak mengetahui apa yang membuat Bob nekat datang ke Indonesia. “Apa pendapatnya tentang perjuangan kami, atau alasan perjuangan kami, kami tak pernah tahu dan tak pernah menanyakannya. Ia juga tak pernah mengutarakan opininya.”

Tetapi, imbuh Petit, Bob datang ke Yogyakarta untuk uang. “Namun, saat melakukannya, ia tak pernah mengeluh soal cuaca seburuk apa pun, berapa jumlah penumpang, atau soal berat kargo yang harus diangkut,”

“Ia makan makanan yang sama dengan kami. Ketika tak ada akomodasi, ia akan tidur di sayap RI-002, membuarkan kru dan para penumpangnya terlindung di dalam kabin,” ungkap Petit.

Penerbangan Maut

Saat itu 29 September 1948, ketika pesawat kargo Douglas DC-3 lepas landas dari Yogyakarta. Ikut terbang bersamanya lima awak dan satu penumpang. Selain itu ia juga membawa perbekalan medis serta 20 kilogram emas dari Cikotok, Banten, untuk nantinya ditukar dengan pesawat baru di India.

Akan tetapi, mereka tak pernah kembali.

Beberapa saat usai mengudara dari Tanjung Karang, jejak pesawat raib tanpa bekas. RI-002 hilang secara misterius di siang bolong. Hal yang nyaris mustahil menimpa penerbangan dengan pilot sehandal Bob.

Tahun 1978, berselang 30 tahun dari kejadian nahas tersebut, dua petanu menemukan puing pesawat di pedalaman hutan. Ada bagian jasad manusia. Namun jenazah Bob masih tak diketahui rimbanya. Bob seperti tidak pernah berada di pesawat tersebut.

“PBB mencarinya, demikian juga dengan Australia. Semua mencari, namun tak bisa menemukannya,” tutur Bickham. “Pihak Belanda mengaku tak pernah tahu soal dia.”

Saat menghilang, Bob baru berusia 27 tahun. Statusnya adalah tunangan perawat Angkatan Laut AS yang ia temui di Manila, Filipina. Awalnya sang pilot berniat pulang ke tanah airnya pada Natal tahun itu.

Selama bertahun-tahun, keluarga Bob medengar berbagai desas-desus atau rumor mengenai keberadaan Bob.

Ada dua orang yang mengaku melihat Bob mendekam di penjara Belanda. Sementara seorang pria Inggris yang berprofesi sebagai wartawan mengungkapkan dirinya mendengar kabar pilot tersebut tertangkap Belanda.

“Mereka mengontak kakek dan nenekku dan mengatakan mereka mungkin telah menemukannya. Namun tak ada bukti kalung nama (dog tag). Pilot US Navy selalu mengenakannya hingga ia meninggal dunia. Jadi, kami masih yakin, jasadnya belum ditemukan,” tutur Bickham.

Bertekad menguak kebenaran sebenarnya, di tengah pencariannya Bickham menemukan sejumlah bukti. Di antaranya adalah memi Departemen Luar Negeri AS dan dari CIA. Di dalam memo tersebut tertulis pamannya ditangkap dan mendekam di balik penjara.

“Saya menemukan, pesawatnya ditembak jatuh pihak Belanda dan ia kemudian dibawa ke penjara. Itu yang sesungguhnya. Temuan terakhir mengungkapkan ia ada di penjara Belanda pada 1949,” katanya, dikutip dari situs Parsons Sun.

“Memo dari Kedubes AS di Bangkok bertanggal 13 Januari 1949 menyebut, bahwa Bob dilaporkan ditahan di penjara Tanjang (mungkin Tanjung) Pinang dekat Palembang. “Kedubes mendapat informasi bahwa subjek telah dipindah ke Penjara Glodok di Batavia,” demikian isi memo. “Batavia kini disebut Jakarta,” paparnya.

Dan dokumen kedua merupakan data rahasia CIA tertanggal 3 Juni 1949 yang dikirim untuk Departemen Luar Negeru, US Navy, Angkatan Udara, NSRB, dan juga FBI.

“Di dalamnya disebutkan, di Borneo (lokasi pasti tak disebutkan) Belanda memiliki kamp konsentrasi besar, yang di dalamnya ada sejumlah tahanan dari Eropa, dari kewarganeragaan berbeda dan Amerika,

“Di antara mereka adalah Bobby Freeberd, pilot AS yang terbang untuk Republik Indonesia dan menghilang pada musim gugur 1948.”

Bickham menjelaskan, bahkan meski sudah berlalu 60 tahun, namun dokumen tersebut masih bercam ‘rahasia’.

Sejumlah pencarian rahasia digelar untuk menemukan kebenaran dari pesawat yang dipiloti Bob. Akan tetapi dikatakan hanya ada peralatan medis di dalamnya. Emas sebanyak 20 kg yang konon diangkut Bob, hilang tanpa jejak.

Selalu penasaran dengan kasus hilangnya sang paman secara misterius, Bickham baru memutuskan mencari pada 2009.

Bobby Freeberg memang diakui sebagai orang Amerika yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Ia adalah pahlawan,” ujar Direktur Gedung Arsip Nasional Tamalia Alisjahbana.

Ayah Bickham, Paul, telah berpulang tanpa mengetahui bagaimana nasib sang kakak hingga akhir hayatnya. Sebelum menghembuskan napas terakhir pada Januari 2009, ia mewariskan tak kurang dari 200 surat Bobby Freeberg dan mewasiatkan anak perempuannya mencari tahu keberadaan sang pahlawan.

Sementara itu, tunangan Bob, perawat Angkatan Laut yang diketahui berasal dari Deposit, New York, juga telah tutup usia pada 2009 lalu. Seumur hidupnya, wanita itu tetap melajang. “Ia menanyakan soal Bobby di ranjang kematiannya,” pungkas Bockham.