Kisah Viral Warga Magetan yang Harus Rela Serahkan Motor Agar Bisa Semayamkan Jenazah Sang Ayah


SURATKABAR.ID – Kisah tentang warga yang tak diizinkan mengambil jenazah keluarganya kembali mewarnai media pemberitaan. Kali ini datang dari warga Magetan yang tidak dapat membawa pulang jenazah sang ayah lantaran terhalang masalah biaya rumah sakit.

Menukil Grid.ID, pada Jumat (9/8/2019), warga Magetan bernama Lilik Puryani terpaksa menyerahkan sepeda motornya sebagai jaminan karena tak sanggup melunasi tagihan rumah sakit untuk perawatan ayahnya yang mencapai total Rp 5 juta.

Lilik menjelaskan bahwa sang ayah masuk rumah sakit untuk mendapat perawatan pada Sabtu (3/8) lalu. Namun berselang satu hari, beliau menghembuskan napas terakhirnya. “Bapak saya masuk rumah sakit hari Sabtu dan meninggal hari Minggu dengan menggunakan BPJS,” jelas Lilik, Senin (5/8).

Dan terkait insiden yang menimpa Lilik, warga Desa Godang Karang Rejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tersebut, pihak rumah sakit menegaskan bahwa semua itu sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Baca Juga: Viral Kisah Jenazah yang Ditandu 60 KM, Warga Rampi Ungkap Kekecewaan Mendalam pada Jokowi

Tak hanya meninggalkan sepeda motor beserta surat kendaraan lengkap, Lilik juga menyerahkan uang sebesar Rp 500.000 kepada pihak rumah sakit agar diperbolehkan membawa jenazah sang ayah untuk disemayamkan.

Wanita tersebut mengaku dirinya terpaksa mengambil tindakan tersebut karena memang tidak mampu membayar tagihan rumah sakit yang jika ditotal mencalai lebih dari Rp 6 juta. Rupanya, jumlah tersebut adalah denda keterlambatan pembayaran BPJS.

“Yang saya pikirkan bagaimana bapak bisa cepat dibawa pulang dan dikuburkan. Saya heran, rumah sakit beralasan membayar denda keterlabatan BPJS,” ujar Lilik yang mengakui pembayaran BPJS ayahnya terlambat premi selama 3 bulan.

Akan tetapi ia menegaskan bahwa masalah keterlambatan tersebut sudah dilunasi sebulan sebelum sang ayah dirawat di RSI Aisyah Madiun. “Kalau ada maslaah, kenapa tidak dibicarakan di depan? Pihak BPJS saya membayar juga bilang kartunya sudah bisa dipakai, jadi menurut saya tidak ada masalah.”

Puhak RSI Aisyah Madiun pun buka suara menanggapi kabar tersebut. Kabag Keuangan RSI Aisyah Kota Madiun Fitri Saptaningrum menjelaskan kronologi di balik kasus almarhum Sabarudin, ayah dari Lilik Puryani, yang memang sebelumnya sempat memeriksakan diri ke poli saraf.

Menurut hasil pemeriksaan, Sabarudin terpaksa harus menjalani rawat inap untuk opname. Pasalnya ketika dibawa ke RS tersebut, ternyata kondisi Sabarudin sudah mengalami struk ringan dengan riwayat gagal ginjal. Dan karena timbul gagal jantung, ia pun dirawat di ICU.

Akan tetapi ketika dilakukan pengecekan, kartu BPJS pasien ternyata memiliki beban denda keterlambatan pembayaran premi sebesar Rp 228.000. “Pasien baru menyadari denda itu muncul saat harus dirawat inap,” jelas Fitri.

Ketika itu keluarga pasien memang sudah membayarkan tunggakan premi, namun untuk denda belum terbayarkan. Saat akan melakukan pembayaran itu adalah hari Sabtu dan untuk waktu pembayaran denda hanya dilayani hingga pukul 12.00 WIB siang saja.

“Dan kami berikan waktu 3X24 jam untuk membayar denda karena banyak aksus seperti ini,” imbuhnya kemudian.

Fitri menambahkan bahwa kasus yang dialami keluarga almarhum Sabarudin ini karena memang pihak keluarga pasien masih memiliki tanggungan denda BPJS. Jadi informasi yang beredar bahwa keluarga pasien diminta melunasi biaya rumah sakit itu adalah tidak benar.

Dan memang berdasarkan prosedur rumah sakit tersebut, setiap pasien yang akan pulang diharuskan untuk melunasi biaya perawatannya terlebih dahulu. “Justru masalah yang dihadapi keluarga pasien terkait BPJS karena masih ada denda yang belum dibayar,” tuturnya.

Sebelumnya sering ada kasus keluarga pasien yang hanya menyerahkan KTP sebagai barang jaminan tanpa adanya itikad baik begitu pasien dipulangkan dari rumah sakit. Oleh karena itu, Fitri menyebut pihak manajemen hanya menerima jaminan yang memiliki nilai atau yang dapat diuangkan.

“Kami belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Tanpa ada jaminan yang berniali uang mereka tidak berinisiatif untuk kembali ke rumah sakit. Kami berusaha berbaik hati, tetapi ternyata malah mereka tidak menyelesaikan masalah administrasinya,” pungkas Fitri.