Kisah Suami yang Menderita Lihat Istrinya Sering Pulang Telat dan Langsung Keramas


SURATKABAR.ID – Cerita tentang suami-suami yang takut istri ternyata bukan sekadar karangan belaka. Berikut adalah contoh seorang pria yang tak punya keberanian di depan istrinya. Kisah ini datang dari Jantan, nama samaran, warga Surabaya.

Diwartakan oleh JPNN.com, Kamis (18/7/2019), pria berusia 44 tahun tersebut bahkan tak memiliki nyali untuk buka suara. Padahal ia jelas-jelas mengetahui istrinya, sebut saja Karin, ada main di belakang dengan lelaki lain. Namun Jantan lebih memilih diam.

Ketika ditemui di Pengadilan Agama (PA) Kelas IA Surabaya, beberapa waktu yang lalu, Jantan ditemani saudara iparnya, panggil saja Anton. Anton lah yang kemudian mengungkapkan nasib malang yang dialami Jantan.

Sakno iku nasibe. Wes ra disenengi morotuo, ambek bojo yo disio-sio (Kasihan itu nasibnya. Sudah tak disukai mertua, sama istri juga disia-sia),” tutur Anton.

Baca Juga: Istri Rela Lakukan Perawatan Agar Aduhai, Suami Malah Selingkuh dengan Wanita Tua

Kehidupan rumah tangan Jantan dan Karin memang sejak awal pernikahan tidak begitu baik. Anton mengungkapkan, Jantan bisa dikatakan termasuk pria yang telat menikah. Selain itu, ada juga penyebab lainnya.

Anton menyebut bahwa usia Karin sudah di atas 30 tahun ketika menyandang status sebagai istri Jantan. Jantan sendiri melepas masa lajangnya lantaran ditawari menikah oleh ayah Karin. Tanpa melalui masa pengenalan terlebih dahulu, Jantan langsung menerimanya.

Hanya dalam waktu dua bulan, Jantan dan Karin pun melangsungkan pernikahan. Hingga akhirnya ketidaksukaan ayah Karin terhadap menantunya mulai terbaca. Alasannya bukan hal lain, yakni faktor ekonomi. Dan Karin pun ternyata tak menganggap Jantan sebagai seorang suami.

Wong tuwone dewe ae dibantahi aw, opo maneh bojoe (Orangtuanya sendiri saja dibantah, apalagi suami),” ungkap Anton yang menyebut Karin memiliki kepribadian yang keras dan tak mau menerima masukan apapun dari orang lain.

Tentu saja karena sifat yang dimilikinya tersebut, Karin bertindak seperti kepala keluarga. Segala keputusan ada di tangannya. Sementara Jantan hanya bisa menurut apapun perintah yang diturunkan oleh sang istri. Jantan memang bisa dibilang sangat sabar dan kalem.

Agar sang istri tak marah-marah, Jantan dengan relanya melakukan apa saja. Namun, tampaknya sang istri malah semakin ngelunjak dan tak sadarkan diri. Ia tak segan-segan menginjak-injak harga diri suaminya sendiri.

Puncak permasalahan adalah saat Karin bermain api dengan menyelingkuhi Jantan. Karin kembali berhubungan dengan kawan lama yang dipertemukan melalui media sosial Facebook. Karena keberadaan PIL tersebut, praktis Karin semakin tak menganggap Jantan ada.

Namun meski Karin lebih banyak menghadap layar ponselnya, Jantan tetap berdiam diri. Ia hanya punya Anton sebagai teman curhatnya. Karena tak ingin masalah berlarut-larut, Anton menyarankan Jantan untuk langsung bertanya pada Karin.

Curiga ya gak gelem takon langsung, malah bolak-balik curhate nang aku. Lha aku iso opo (Curiga pun tak mau bertanya langsung, malah bolak-balik curhat ke saya. Nah, saya ini bisa apa),” tutur Anton yang

Memang pernah Jantan menanyakannya langsung kepada sang istri, namun alih-alih mengakui kesalahannya, Karin malah balik mendamprat suaminya. Setelah itu, ia bahkan sampai tak menyapa Jantan selama berhari-hari.

Hal tersebut membuat Jantan kembali keok. Sedangkan Karin justru semakin main dengan berani. Ia mulai sering pulang terlambat. Dan parahnya begitu sampai di rumah, ia langsung mandi dan keramas. Sampai suatu saat, Karin membongkar kebusukannya sendiri dan menyodorkan surat cerai pada Jantan.

Tertulis dalam gugatan yang perlu ditandatangani Jantan, Karin menyebut suaminya tak sanggup memberi nafkah pada dirinya dengan benar. Jantan sendiri tak berkutik menghadapi berkas gugatan cerai tersebut. Ia mulai sadar diri tak mungkin mempertahankan istrinya.

Lapo lek ancene gak kenek dicekel yo culno. Opo maneh awake ra diregani nek omah (Kalau memang tidak bisa dipegang, ya dilepaskan. Apalagi dirinya (Jantan) tidak dihargai di rumah),” ujar Anton mengakhiri kisah sedih yang dialami Jantan.