Mengenal Al-Zahrawi, Dokter Islam yang Paling Berpengaruh di Benua yang Mayoritas Beragama Lain


Mengenal Al-Zahrawi, Dokter Islam yang Paling Berpengaruh di Benua yang Mayoritas Beragama Lain

Adalah Al-Zahrawi, seorang dokter Islam yang paling berpengaruh selama Abad Pertengahan. Dalam periode itu, terjadi banyak hal besar di Eropa, terutama bersatunya kembali daerah bekas jajahan Kekaisaran Romawi Barat di bawah dorongan Raja Charlemagne pada abad 5. Hal itu juga memicu munculnya monarkhi-monarkhi nasional yang ditandai dengan Reformasi Protestan, penjelajahan samudera, dan kebangkitan humanisme.

Pada Abad Pertengahan, sistem Perang Salib kemudian dibentuk sebagai upaya untuk menahan gempuran pengaruh Islam dari Timur Tengah. Meski gesekan antara umat Islam dan Kristen sedang gencar kala itu, peran Al-Zahrawi sebagai seorang dokter atau lebih tepatnya ahli bedah yang mumpuni tak bisa tergantikan. Saking populernya, tak terhitung jumlahnya anak muda dari seluruh penjuru Eropa yang datang kepadanya untuk belajar ilmu kedokteran.

Di benua Barat, pria bernama lengkap Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi ini lebih dikenal dengan sebutan Abulcasis. Al-Zahrawi lahir di Zahra, yang berada di sekitar Kordoba, Spanyol. Selama karirnya, dia juga sempat menjadi dokter kerajaan pada masa Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah. Walau ketenaran sudah di genggaman, Al-Zahrawi tetap dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan suka menolong.

Dia kerap mengingatkan kepada para dokter yang lain untuk selalu berpegang pada norma dan kode etik kedokteran, yaitu tak memakai profesi dokter hanya untuk meraup keuntungan materi. Kala itu, Kordoba memang menjadi tempat favorit untuk melakukan bedah di Eropa. Hal ini tentunya juga karena pengaruh Al-Zahrawi yang begitu tersohor di benua tersebut.

Sosok Al-Zahrawi pun semakin dikenal dunia setelah dia mengeluarkan buku Al-Tasrif, sebuah kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid. Dalam buku itu, kita bisa menemukan beragam topik mengenai kedokteran, seperti misalnya persalinan dan kesehatan gigi. Karena ada begitu banyak informasi yang ditulis secara rinci oleh Al-Zahrawi dalam Al-Tasrif, buku itu lantas dijadikan sumber utama untuk ilmu kedokteran di Eropa. Hebatnya, pengaruh Al-Tasrif di dunia kedokteran Eropa bisa berlangsung selama lima abad.

Buku tersebut juga sering dijadikan rujukan oleh para pakar kedokteran, seperti Guy de Chauliac misanya. Dia adalah seorang ahli bedah asal Prancis yang pernah mengutip Al-Tasrif hampir lebih dari 200 kali. Dan bukan cuma berjasa di bidang kedokteran, Al-Zahrawi juga dikenal sebagai penemu sederetan produk kosmetik seperti deodoran, hand lotion, dan pewarna rambut.

Al-Zahrawi diketahui tutup usia pada tahun 1013 M. Itu terjadi dua tahun setelah kotanya diserang dan dihancurkan selama Abad Pertengahan. Dan karena jasa Al-Zahrawi sangat besar di dunia kedokteran, pemerintah pun mengabadikan namanya sebagai nama jalan, yakni Calle Albucasis.

Di jalan itu, masih berdiri kokoh sebuah rumah yang dulunya ditinggali oleh dokter Islam tersebut. Karena nilai sejarahnya sangat tinggi, rumah itu pun kemudian dialihfungsikan sebagai cagar budaya oleh Dinas Pariwisata Spanyol.