Undangan Open House dari Imam Mahdi Bikin Gempar Warga Depok, MUI Langsung Turun Tangan


SURATKABAR.ID – Seorang pria di Kampung Perigi, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat, sukses menggemparkan warga. Pasalnya ia mengaku sebagai Imam Mahdi. Sontak peristiwa tersebut menyita perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kasus, seperti yang dihimpun dari laman Viva.co.id, baru terungkap usah ada undangan halal bihalal atau open house bersama Imam Mahdi, Sang Pembaharu, ramai diperbincangkan pengguna media sosial. Dalam undangan tertulis acara digelar pada 6 Juni 2019 (Lebaran kedua) bertempat di Padepokan Trisula Weda, Jalan Haji Komad II, Kampung Perigi, Sawangan, Depok.

Baru diketahui belakangan, pria yang mengaku sebagai Imam Mahdi itu adalah Winardi. Ia mengklaim telah memiliki setidaknya 70 orang pengikut yang umumnya merupakan warga luar dari sejumlah daerah.

Surat undangan yang tersebar luas itu pun langsung membuat gempat masyarakat sekitar. Sejumlah warga yang dibuat resah, bahkan hingga nyaris terbakar emosinya lantas melaporkan temuan itu ke lurah, camat dan kepolisian. Hingga akhirnya MUI Kota Depok turun tangan menindaklanjuti.

Baca Juga: Ganti Kalimat Syahadat Hingga Jual Tiket Surga Seharga Rp 2 Juta, Ini Sosok Nabi Palsu Abdul Muhjib

Winardi beserta sejumlah pengikutnya lalu digiring untuk proses pemeriksaan di kantor kecamatan setempat pada Rabu (29/5) malam. Ketua MUI Kota Depok KH Dimyati Badruzzaman mengungkapkan hasil dari musyawarah alias tabayun atau konfirmasi antara pihaknya dengan sejumlah tokoh ulama terhadap Winardi dan murid-muridnya diambil kesepakatan bahwa ajaran yang dibawa Winardi adalah ajaran sesat dan menyesatkan.

Dalam hal ini, Dimyati mengungkapkan, merujuk pada penjelasan Al-Qur’an serta hadis Nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam tiga buku, di mana judulnya khusus berkaitan langsung dengan Imam Mahdi.

“Orang yang tak lagi sesuai dengan ajaran hadis maka ini salah, keliru, dan tidak benar. Maka ini ajaran yang menyimpang. Kami meminta agar dia (Wardi) bertaubat dan gelar ImamMahdi agar ditinggalkan, dan muridnya agar meninggalkan karena tidak sesuai dengan ajaran,” tegas Dimyati.

Apabila Winardi beserta para pengikutnya tetap ngotot memegang kepercayaan yang dianutnya, dikhawatirkan akan menimbulkan konflik besar.

“Namun Alhamdulillah beliau tadi sudah mengaku taubat dan mengucap dua kalimat syahadat. Saya pertegas bahwa beliau sudah mengucap dengan tegas bahwa beliau bukan Imam Mahdi,” tegas Dimyati.

Terkait dengan hal tersebut, Dimyati juga melarang adanya aktivitas tertentu, baik mingguan atau bulanan yang digelar di padepokan tersebut. “Apabila terjadi lagi, maka forum juga akan melakukan sikap selanjutnya pada beliau,” imbuhnya.

Sementara itu, Winardi sang Imam Mahdi palsu sendiri sudah menyampaikan permohonan maaf di depan warga dan sejumlah tokoh ulama serta aparat juga para pengikutnya yang ikut dihadirkan di Kantor Kecamatan Sawangan.

“Saya Winardi. Malam hari ini mengaturkan mohon maaf, khususnya baik ulama atau tokoh agama di Sawangan dan Depok juga masyarakat, apabila merasa resah,” akunya.

Winardi berjanji akan menutup padepokan tersebut dan emminta para pengikutnya untuk tak lagi mempercayainya sebagai Imam Mahdi. “Mohon maaf bilamana terjadi kesalahan dan ketidakstabilan di masyarakat,” ujar Winardi disambut pekikan takbir dari sejumlah warga.

Sementara itu, di tempat yang sama, Kapolsek Sawangan Komisaris Suprasetyo, mengaku lega karena kasus ini dapat terselesaikan tanpa ada hal yang tidak diinginkan. Ia kemudian mengimbau kepada warga agar dapat menahan diri dan terus menjaga lingkungan agar tetap kondusif, terutama di wilayah Sawangan.

“Jika ada hal-hal yang tidak sesuai, silakan laporkan ke kami. Segera akan kami tindaklanjuti,” tegas Komisaris Suprasetyo.