Mengenal Gories Mere, Perintis Densus 88 yang Jadi Target Pembunuhan Berencana


SURATKABAR.ID – Dari keempat nama pejabat negara yang disebut menjadi sasaran kelompok pembunuh bayaran, Gories Mere merupakan salah satunya. Namanya memang jarang terdengar selama pemerintahan Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi). Lantas siapakah sosok Gories Mere ini?

Dikutip dari reportase Detik.com, Rabu (29/05/2019) Gories Mere merupakan purnawirawan perwira tinggi Polri. Pangkat terakhir yang disandangnya saat masih aktif di Polri adalah komisaris jenderal polisi (komjen pol) atau jenderal bintang tiga.

Gories pensiun dari kedinasannya di Polri sejak 2012. Dia diangkat menjadi Staf Khusus (Stafsus) Presiden Jokowi di bidang intelijen pada Juli 2016.

“Iya, sudah ada penambahan dua orang stafsus. Jadi Pak Gories Mere sama Pak Diaz Hendropriyono. Keppresnya sudah terbitkan beberapa minggu yang lalu,” tukas Mensesneg Pratiko di kompleks Istana, Jakarta, Senin (11/07/2016) silam.

Semasa aktif di Polri, prestasi menonjol Gories di ranah pemberantasan kejahatan narkotika. Gories ialah perwira yang memimpin perburuan ‘Ratu Ekstasi’ Zarima, yang kedapatan mempunyai 29.667 butir ekstasi, hingga ke Amerika Serikat pada 1996.

Baca juga: Tito Sebut 4 Tokoh Ditarget, Fadli Zon: Jangan Lebay, Jangan Mengalihkan Isu

Pimpin Perburuan Pelaku Bom Bali I 

Prestasinya di bidang pemberantasan teroris juga gemilang. Dia memimpin perburuan pelaku bom Bali I yang terjadi pada 2002. Gories berhasil melacak keberadaan teroris asal Malaysia yang menjadi aktor intelektual pengeboman, yakni Dr Azhari.

Gories adalah salah satu perwira yang merintis pembentukan Densus 88 Antiteror Polri dan akhirnya diangkat menjadi Kepala Densus (Kadensus) 88 Antiteror Polri. Kendati diberi job bintang tiga sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Gories tetap aktif pada kegiatan oprasi penangkapan teroris.

Pada 2010, Gories, yang saat itu telah menjadi Kepala BNN, ikut serta dalam penggerebekan teroris di Medan, Sumatera Utara.

Disebutkan oleh Ketua Badan Pengurus Kontras saat itu, Usman Hamid, keterlibatan Gories dalam operasi itu bukan lagi menjadi tanggung jawabnya.

Usman mengkritik pimpinan Polri saat itu, Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. Ia mengatakan, jika Gories masih diperlukan di Densus Antiteror, mengapa ditugasi di BNN.

Mengutip berbagai sumber, Gories lahir di Flores Timur pada 17 November 1954. Dia adalah lulusan AKABRI tahun angkatan 1976. Pada 2011, atau kurang-lebih setahun sebelum pensiun, Gories pernah mendapat teror bom buku.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap nama tokoh nasional yang diancam akan dibunuh kelompok perusuh 21-22 Mei. Nama Gories Mere masuk daftar target pengancam.

“(Dari) Pemeriksaan resmi, mereka menyampaikan nama Pak Wiranto, Pak Luhut Menko Maritim, ketiga itu Pak Kabin, keempat Gories Mere,” ujar Tito dalam jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/05/2019).

Selain itu, kelompok pengancam menargetkan pimpinan lembaga survei. Namun Tito enggan menyebut siapa nama yang dimaksud.