Kubu Prabowo Layangkan Gugatan Pemilu, MUI Beri Pesan Khusus pada Hakim MK


SURATKABAR.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengapresiasi langkah yang ditempuh Pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yakni menempuh jalur hukum mengenai perselisihan hasil Pemilu 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Hal tersebut, seperti yang dilansir dari laman Viva.ci.id pada Senin (27/5/2019), diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi.

“Saya kira ini merupakan pilihan yang sangat bijak dari pihak paslon 02 dan perlu kita apresiasi langkah-langkah hukum itu. Sehingga sedikit banyak bisa mengalihkan konstentrasi massa dari jalan ke arah persidangan,” ujar Zainut ketika ditemui di Jakarta pada Senin (27/5).

Dengan masuknya proses hukum, Zainut sangat berharap, tidak ada lagi gerakan-gerakan aksi massa di jalan-jalan. Ia mengimbau untuk berkonsentrasi dalam pengawalan proses persidangan di MK. Pasalnya, pada proses persidangan itulah perselisihan terkait sengkata pemilu dapat diselesaikan dengan baik.

Baca Juga: Ketika Alat Bukti BPN Prabowo-Sandiaga ke MK Tuai Sindiran Pedas dari Kubu 01

“Ya, tentunya kita meminta kepada para hakim konstitusi untuk bertindak secara terbuka, jujur, fair, dan juga independen. Karena pertaruhan bangsa ini ada di para hakim konstitusi kita,” imbuhnya dengan tegas.

Lebih lanjut, Ia menuturkan bahwa hakim MK bakalan menerapkan prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, transparansi dan independensi. Pasalnya, seperti diungkapkan Zainut, para anggota hakim MK merupakan orang-orang terhormat yang menjunjung tinggi sikap kenegarawanan.

Sembilan anggota hakim MK tersebut, menurut Zainut, datang dari tiga cabang kekuasaan negara, yakni eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Oleh karena itu bisa dipastikan mereka akan benar-benar menempatkan diri sebagai negarawan yang tak dapat diintervensi.

Mereka juga tidak dapat melancarkan tindakan-tindakan yang berisiko akan mencederai hukum itu sendiri. “Itu harapan kita semuanya,” ungkap Zainut.

Oleh karena itu, ia meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama mengawal proses persidangan dengan baik. Namun tetap menjaga kondisuvitas.

“Saya kira semangat rekonsiliasi yang sekarang sudah mulai dibangun, bagaimana merekatkan persatuan, persaudaraan, dan ini juga sudah harus mulai dikembangkan,” tuturnya.

Tak hanya itu, ia juga berharap agar ke depannya tak ada lagi tindakan-tindakan anarki yang berisiko mencederai demokrasi bangsa. Terlebih melihat proses tahapan pemilu yang sudah memasuki tahap paling menentukan, yakni melalui mekanisme penyelesaian perkara melalui jalur hukum.

Maka dari itulah, ia kemudian mengimbau kepada para tokoh bangsa beserta elite politik, untuk mulai mengurangi narasi-narasi yang dapat menimbulkan kemarahan dan menyebabkan suasana menjadi panas.

“Kita coba bangun narasi yang lebih menyejukkan, yang semangatnya rekonsiliatif, sehingga bangsa kita ini persaudaraannya tetap terjaga,” tuturnya.

Namun demikian, Zainut merasa sangat bersyukur, melihat tahapan pemilu telah berjalan dengan sangat baik. Meski rekapitulasi pemilu oleh KPU telah ditetapkan dan sempat terjadi pergolakan, insiden memprihatinkan, lantaran dari peristiwa itu jatuh banyak korban, mulai dari korban jiwa maupun luka.

“Tapi dengan kesigapan petugas, akhirnya gejolak massa yang mengarah kepada sikap anarki dan sikap brutal bisa diselesaikan dengan baik,” pungkasnya.