Diperiksa 6 Jam Terkait Uang di Laci Meja Kerjanya, Begini Pengakuan Menag Lukman


SURATKABAR.ID – Lukman Hakim Saifudin selaku Menteri Agama telah menjalani pemeriksaan selama enam jam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah pemeriksaan, ia mengaku dirinya dicecar soal uang yang ditemukan di laci kerjanya. Menurut pengakuan Menag, sejumlah uang tersebut ialah akumulasi dana operasional, honorarium, serta perjalanan dinasnya.

Menukil reportase Republika.co.id, Kamis (23/05/2019), seperti diketahui penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang sejumlah Rp 180 juta dan 30 ribu dolar AS dari ruang kerja Menag.

“Iya (uang di laci meja kerja) saya jelaskan bahwa semua itu adalah akumulasi. Pertama, dana operasional Menteri yang saya simpan dalam laci meja kerja saya. Lalu juga sebagian dari honorarium yang saya terima saat saya memberikan kegiatan pembinaan, ceramah baik di internal Kementerian Agama maupun di luar Kementerian Agama,” beber Lukman di Gedung KPK Jakarta, Kamis (23/05/2019).

Lukman juga melanjutkan, selain itu, uang di dalam laci tersebut sebagian juga merupakan sisa dana perjalanannya, baik perjalanan dinas dalam negeri maupun luar negeri.

“Dari semua itu adalah akumulasi dari ketiga sumber tadi, yang lalu kemudian biasa saya simpan di laci meja kerja saya,” sebut Lukman kemudian.

Baca juga: Dugaan Suap Jual Beli Jabatan, Menag Lukman Hakim Kembali Diperiksa KPK

Lukman Terima Rp 10 Juta

Disebutkan Juru Bicara KPK Febri Diansyah, pemeriksaan terhadap Lukman sehubungan pendalaman beberapa informasi kasus suap Seleksi Jabatan di Lingkungan Kementerian Agama tahun 2018-2019.

Selain menyita uang ratusan juta dari laci meja kerja Menag, dalam persidangan praperadilan mantan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy (Rommy), tim hukum KPK menyebut adanya pemberian uang Rp 10 juta buat Lukman dari Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur Haris Hasanuddin.

Penerimaan uang tersebut juga diamini oleh Lukman. Namun ia mengaku sudah memulangkannya ke KPK.

Diketahui, KPK menetapkan Romi sebagai tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kemenag. Romi disinyalir mengatur jabatan di Kemenag pusat dan daerah.

Diduga, Romi menerima suap dari Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Haris Hasanuddin. Suap tersebut digelontorkan supaya Romi mengatur proses seleksi jabatan bagi kedua pihak penyuap terkait.

Selaku penerima suap, Rommy disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pihak penyuap, Muafaq Wirahadi dan Haris Hasanuddin dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Muafaq juga dijerat Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.