Ngeri! Sugeng Sempat Beginikan Korban Sebelum Memutilasinya


SURATKABAR.ID – Kasus temuan wanita mayat wanita termutilasi di Malang masih menjadi topik hangat yang menyorot perhatian masyarakat. Pengakuan terbaru dari terduga pelaku mutilasi di Pasar Besar Malang (PBM) di lantai II Jawa Timur itu membuat ngeri orang banyak. Sugeng ”Rombeng” Santoso (49) warga Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, mengaku di hadapan penyidik bahwa dialah yang membunuh dengan cara menggorok leher korbannya. Setelah itu jasad dimutilasi menjadi enam bagian.

Melansir reportase JPNN.com, Senin (20/05/2019), pengakuan ini berbeda dengan sebelumnya, di mana Sugeng ditengarai melakukan mutilasi setelah korban meninggal dunia.

”Sugeng sudah mengakui di TKP (kemarin sore) bahwa dia menggorok leher korban ketika masih hidup,” tutur sumber di internal Polres Malang Kota.

Pengakuan Sugeng itu sesuai dengan hasil analisis penyidik di tempat kejadian perkara (TKP). Dalam olah TKP, polisi menduga jasad yang belum diketahui identitasnya itu tidak dipotong menggunakan gunting. Bisa jadi menggunakan senjata tajam (sajam) seperti pisau maupun sejenisnya.

Hal itu tampak  jelas dari hasil potongan tubuh korban. Jika menggunakan gunting seperti yang disampaikan Sugeng di awal, potongannya tidak rapi.

Baca juga: Pelaku Mutilasi Malang, Pernah Sukai Adik Kandung Hingga Pengakuan Mengejutkan Para Tetangga

”Ini seperti ditebas (leher korban). Dua atau tiga kali tebasan,” ungkap sumber tersebut.

Temuan penyidik yang memperkuat pengakuan Sugeng sebagai pembunuh ialah ditemukannya bekas semburan darah di baju korban. Sumber itu meyakini jantung korban masih berdenyut sebelum atau saat dibunuh.

”Penyebab kematiannya adalah kehilangan banyak darah. Tapi, itu analisis sementara,” sambungnya lagi.

Apalagi tim psikiater mengemukakan Sugeng melakukan mutilasi dalam keadaan waras atau sadar. Bila pengakuan Sugeng benar, maka dia akan dijerat Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan.

”Intinya, pasal pembunuhan sudah memenuhi syarat. Kalau korbannya memang masih mister X,” imbuhnya.

Meski begitu, sumber terkait masih akan menguji pengakuan Sugeng. Pasalnya, sebelumnya dia mengaku hanya memutilasi korban. Itu pun setelah tiga hari meninggal sehingga dia tidak melakukan pembunuhan.

Sementara itu, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri enggan menjelaskan detail berkenaan pengakuan Sugeng yang diduga disampaikan kepada penyidik. Perwira polisi dengan dua melati di pundaknya itu masih terus mendalaminya.

”Penyelidikan jalan terus. Kami juga masih menunggu hasil labfor dan otopsi,” ujarnya kepada rekan wartawan Radar Malang (Jawa Pos Group).

Asfuri melanjutkan, semua kemungkinan bisa terjadi. Termasuk kemungkinan Sugeng membunuh atau kemungkinan adanya pelaku lain. Sementara Sugeng sengaja dikorbankan untuk mengelabui polisi.

”Semua kemungkinan memang ada. Tunggu saja, polisi terus menyelidikinya,” tukasnya.

Kini, Asfuri masih konsentrasi menindaklanjuti rekomendasi tim psikiater, yaitu merujuk Sugeng ke RSJ Lawang. Hasilnya akan menjadi pertimbangan penyidik guna memutuskan, apakah Sugeng memang merupakan pelaku pembunuhan tersebut atau bukan.

Selain itu, Asfuri juga mengakui bahwa hingga kini Sugeng belum ditetapkan sebagai tersangka. Namun penahanan tetap dilakukan atas permintaan keluarga.

”Kalau lewat dua kali dua puluh empat jam tidak ada status (tersangka), seharusnya dilepaskan. Tapi, keluarganya minta titip karena takut kalau Sugeng keluar akan melakukan kekerasan dan tindakan lain yang membahayakan masyarakat,” ungkap mantan Wakapolres Jayawijaya tersebut.

Diduga karena Menolak Berhubungan Intim

Lantas bagaimana dengan hasil pemeriksaan Suyitno, Asfuri mengaku belum menerima laporan hasil pemeriksaan. Kakak Sugeng itu diperiksa polisi lantaran namanya tertulis dalam kertas di TKP.

”Ya, saudaranya masih diperiksa. Nanti akan diinformasikan,” tegasnya.

Adapun Kasubdit III Jatanras Polda Jatim Leonard Sinambela menambahkan, Sugeng sudah dikembalikan ke Polres Malang Kota. Sebelumnya Sugeng diperiksa Labfor dan Labkesfor Polda Jatim untuk verifikasi sejumlah barang bukti dan alat yang ditemukan penyidik di TKP.

Polisi masih belum merampungkan proses verifikasi itu. Namun untuk penyelidikan lebih mendalam, Polda Jatim sudah menyerahkan kasus ini ke Polres Malang Kota guna ditindaklanjuti.

”Sekarang ditangani Polres Malang Kota. Kemarin kami hanya back-up ungkap dan bantuan teknis saja,” sebut Leonard kemarin.

Sementara itu, mengutip reportase Bangka.TribunNews.com, penjelasan Asfuri memaparkan bahwa pelaku awalnya mengajak korban ke lantai 2 Pasar Besar Kota Malang pada Rabu (08/05/2019), sehari setelah saling bertemu. Disana, korban diminta untuk memuaskan hawa nafsu pelaku. Namun korban menolak untuk berhubungan intim karena sedang sakit parah.

“Pelaku kecewa, mengajak berhubungan badan namun sakit. Korban sakit sehingga pelaku ini tidak bisa melampiaskan hasratnya untuk berhubungan badan dengan korban,” bebernya.

Karena kecewa, Sugeng lantas tega membunuh dan memutilasi korban.