Kasus Perkosaan Bukan Hanya Yuyun, Bersikap Adillah Jika Ingin Bersimpati!


Memang tidak dapat digeneralisasikan bahwa Indonesia merupakan ‘markas’ bagi para pemerkosa, akan tetapi menjadi satu hal yang miris melihat banyaknya kasus p*********n yang terjadi belakangan ini di Tanah Air yang notabene masyarakatnya adalah agamis.

Sekali lagi, memang orang beragama saja tidak cukup untuk dapat dikatakan bebas dari segala hal yang jauh dari maksiat, karena tidak sedikit orang yang memiliki pengalaman dan ilmu agama tinggi juga tersandung kasus pencabulan dan sejenisnya.

Beberapa waktu lalu, perhatian hampir seluruh rakyat di Indonesia tertuju terhadap kasus p*********n yang dilakukan oleh 14 pemuda mabuk dan melakukan aksi bejatnya terhadap seorang remaja perempuan berusia 14 tahun, bernama Yuyun.

Sontak saja banyak orang marah dan mengutuk aksi keji tersebut, terlebih sang korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan serta tidak bernyawa dengan luka di beberapa bagian di tubuhnya. Banyak orang yang melakukan aksi solideritas dengan mengunggah video, foto atau aksi damai bertajuk “Nyala untuk Yuyun” yang diikuti dengan hashtag #Nyalauntukyuyun.

Sayangnya, aksi solideritas tersebut nampaknya hanya tertuju pada satu korban saja karena hanya berselang beberapa hari saja, ada lagi satu kasus serupa yang menimpa seorang bocah asal Lampung Timur, bernama Mistianah.

Dia diperkosa dan dibunuh dengan keji oleh pelaku dan tidak banyak orang yang mengetahui atau juga melakukan aksi serupa seperti yang dilakukan untuk Yuyun. Lantas, apakah aksi-aksi tersebut hanyalah ikut-ikutan saja agar dikatakan mempunyai simpati dan lebih kekinian?

Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan tersebut. Akan tetapi yang dapat digarisbawahi adalah dengan semakin populernya berbagai situs jejaring sosial dan juga aplikasi chat yang digunakan oleh mayoritas masyarakat Indonesia, aksi ikut-ikutan tersebut semakin mudah dijumpai dan terjadi di mana dan kapan saja.

Bahkan ketika ada suatu kasus yang populer di Indonesia, maka ratusan atau bahkan ribuan orang akan melakukan aksi simpati sama dan teleransinya menjadi berkurang ketika muncul suatu kasus yang sama setelahnya.

Mungkin hal tersebut adalah suatu reaksi manusiawi yang muncul dan dilakukan serentak karena memang ada dorongan hati untuk melakukannya dan ketika terjadi kasus yang sama, maka sudah bukan menjadi tren baru yang patut diikuti kembali. Bahkan dapat saja menghilang begitu saja ketika ada kasus lain yang berbeda dan menjadi populer.

Akan tetapi, korban tetaplah korban, tidak peduli baru atau tidak, semua memerlukan dukungan tanpa beda. Sayangnya, hal tersebut kurang begitu dipahami secara nyata oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia.

Memang, kasus seperti ini tidaklah hanya terjadi sekali di Indonesia. Masih ingatkah Anda dengan kasus Sum Kuning atau banyak lagi tindak p*********n lain yang pernah terjadi sebelum ini? Kenapa reaksi masyarakat berbeda? Well, hanya Anda sendiri yang dapat menjawabnya.