Beredar Kabar Mahfud MD Keturunan Kaki Tangan Belanda di Zaman Penjajahan, Ternyata Begini Faktanya


SURATKABAR.ID – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD tengah digempur dengan kabar tak menyenangkan di media sosial. Netizen ramai menyebutkan bahwa di dalam tubuh eks Hakim Konstitusi ini mengalir darah pengkhianat.

Ada pun yang dimaksud dengan darah pengkhianat tersebut, seperti dilansir dari laman Kumparan.com Minggu (19/5/2019), adalah bahwa Mahfud keturunan orang Madura, yakni Bangkalan, yang membelot ke Belanda di era kolonial. Ia disebut-sebut merupakan keturunan Raden Arya Omong Koro.

Disebutkan dalam pesan berantai yang luas tersebar di aplikasi WhatsApp dan media sosial bahwa sangat wajar jika Mahfud kerap menunjukkan sikap nyinyir kepada suatu kubu. Pasalnya, ia dicap sebagai keturunan orang Indonesia yang dahulu menjadi kaki tangan penjajah.

“Aryo Onong Koro kaki tangan Belanda. Dia pernah dikirim ke Aceh oleh Belanda pada tahun 1824 untuk melawan pejuang Aceh, hasilnya gagal total,” demikian bunyi petikan dari pesan berantai tersebut.

Sebelum pesan ini mencuat, Mahfud MD sendiri pernah menjadi sorotan. Pangkal permasalahannya tak lain dan tak bukan adalah cuitannya mengenai beberapa daerah di Indonesia. Termasuk salah satunya Aceh, yang mana dulu merupakan daerah radikal.

Baca Juga: Dituding Provokator oleh Hendropriyono, Ternyata Ini yang Dilakukan Keturunan Arab Selama Perjuangan Kemerdekaan

Mengutip Kumparan dari situs Kementerian Komunikasi dan Informatika, terkait isu tersebut keluarga Mahfud MD sendiri sudah menyuarakan bantahan. Mereka menyebut bahwa Mahfud sama sekali tak memiliki darah Bangkalan Madura. Ia adalah orang Pamekasan yang numpang lahir di Sampang.

Lantas Siapakah Sebenarnya Raden Arya Omong Koro?

Jika ditilik dari berbagai dokumen sejarah berbahasa Belanda yang sering digunakan sejarawan Tanah Air, mulai dari KITLV.nl, hingga koran sezaman seperti Java Bode, catatan terkait nama Raden Arya Omong Koro tak sekali pun ditemukan di dalamnya.

Catatan tentang sosok yang dimaksud dalam pesan tersebut lebih merujuk ke satu nama, yakni Raden Arya Majang Koro, bukan Arya Omong Koro.

“Di Bangkalan telah wafat Raden Majang Koro, pensiunan Kolonel dari Korps Barisan,” bunyi tulisan di koran Java Bode edisi 23 Oktober 1906. Hal ini membuktikan tak ada orang yang bernama Raden Arya Omong Koro.

Kolonel Raden Ario Majang Koro yang dilahirkan sekitar tahun 1832 sendiri merupakan keturunan bangsawan dari Bangkalan. Ia masuk ke dunia militer, disebutkan dalam ‘Onze vestiging in Atjeh’ karya G.F.W Borel, pada 15 Agustus 1848 sebagai sukarelawan tentara di Surabaya. Adapun nama kelompok tersebut adalah Kaboen Surabaya.

Sejak itu kariernya di dunia kemiliteran semakin menanjak. Ia mendapat promosi menjadi kopral pada tanggal 16 Januari 1850. Dan pada 25 Juni 1850 ia kembali mendapatkan kenaikan pangkat sebagai sersan. Pada tahun 1873, Raden Ario Majang Koro yang masih berpangkat mayor dikirim ke Aceh.

Paul t’Veer, dalam tulisannya ‘Perang Aceh dan Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje’, menyebutkan ekspedisi pertama Aryo Majang Koro di Tanah Rencong berada di bawah pimpinan Mayor Jenderal JHR Kohler. Namun sang pemimpin tewasterbunuh pada 14 April 1873, tepat di depan Masjid Raya Aceh.

“Sebagai mayor Korps Barisan, Majang Koro memimpin pasukan yang terdiri dari orang-orang Madura ke Aceh, pada 1873-1874,” demikian bunyi tulisan Paul t’Veer dalam bukunya.

Ketika itu, Majang Koro berhasil mendesak mundur lawan. Berkat kesuksesannya tersebut ia pun mendapat penghargaan Ridder Willems-Orde dengan pangkat colonel titurer. Majang Koro berpulang di Bangkalan pada 1906.