Kasus Yuyun di Antara Seksisme dan Pemikiran M***m Pria


Beberapa hari lalu, kembali kasus p*********n terjadi dengan korban seorang remaja perempuan yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Lebong, Bengkulu, bernama Yuyun.

Banyak orang sontak marah dan berduyun-duyun mengutuk ulah para preman yang sebagian besar telah tertangkap oleh pihak kepolisian tersebut. Hal dikarenakan, tidak hanya m********a saja, remaja berusia 14 tahun ini juga ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan kondisi yang cukup mengenaskan setelah diperkosa beramai-ramai.

Seperti terkomando, hashtag dan dukungan untuk Yuyun menyeruak dan diikuti banyak orang. Hashtag yang bertuliskan #Nyalauntukyuyun ini bertujuan untuk terus mengangkat kasus ini agar segera diselesaikan dan pelakunya dihukum seberat-beratnya serta agar menumbuhkan sikap waspada bagi setiap perempuan di Indonesia akan aksi serupa yang kapan saja dapat terjadi.

Uniknya, seperti tidak ada rasa simpati atau kasihan terhadap nasib yang menimpa Yuyun, sempat ada celoteh dari pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mengatakan bahwa jelas saja Yuyun menjadi korban p*********n karena mengenakan pakaian yang mengundah syahwat dan itu merupakan suatu hal yang biasa karena pada dasarnya pria adalah makhluk visual yang dapat tergoda dan terpancing jika ada wanita memancing hasratnya.

Tentu saja pandangan atau pemikiran seperti itu mendapatkan reaksi keras, terutama dari kaum Hawa. Bagi mereka pandangan seperti itu tidak logis atau masuk akal karena tindak kriminal p*********n tidak akan memandang apakah sang korban mengenakan pakaian seksi atau tertutup rapat.

Menurut banyak wanita, korban perkosaan sangatlah beragam, tidak harus selalu wanita yang mengenakan pakaian seksi saja melainkan juga balita, wanita yang mengenakan pakaian sopan dan tertutup sampai dengan anak laki-laki.

Bahkan disanggah pula bahwa p*********n selalu dilakukan jika korban berada di tempat sepi da waktu malam hari, padahal pada kenyataannya tindak perkosaan terjadi di mana dan kapan saja. Tidak harus menunggu siang atau malam, sepia tau ramai, jika sang pemerkosa sudah ingin menyalurkan hasratnya dan mencari korban, maka setiap saat aksi tersebut dapat terjadi.

Selain itu, anggapan bahwa korban perkosaan hanya dialami oleh wanita yang berparas cantik dan bertubuh seksi saja, ditambah dengan yang gemar mengenakan pakaian sedikit terbuka juga tidak selamanya benar, karena siapa saja dapat menjadi korban perkosaan tanpa melihat kategori.

Menurut banyak laki-laki, kaum Adam memang manusia visual yang akan memproyeksikan apa yang mata mereka tangkap, terutama yang berkaitan dengan hal berbau seksual. Para pria merasa memiliki hak untuk menikmati karena menganggap wanita tidak dapat melindungi diri sendiri dengan mengenakan pakaian seksi.

Akan tetapi satu hal yang tidak diketahui para pria adalah, semua wanita memiliki hak untuk mengenakan pakaian jenis apapun, seperti halnya laki-laki, bahkan memiliki hak untuk t*******g tanpa harus ada seseorang yang menikmati setiap lekuk tubuhnya (terlepas dari hukum agama, adar dan norma).

Jadi, bukan ketelanjangan atau seksinya wanita beserta pakaian yang harus diberantas, melainkan pemikiran dari kaum laki-laki yang harus dibatasi dan diperbaiki. Ditambah lagi, setiap manusia, termasuk pria di dalamnya adalah ciptaan Tuhan yang dikharuniai akal dan pikiran, jadi mereka dapat membedakan mana yang benar dan salah juga dapat memberikan rem untuk diri sendiri. Maka dapat dikatakan tindak p*********n itu terjadi bukan karena faktor lain, akan tetapi karena memang ada niat dan moral dari sang pelaku yang sudah rusak.