Miris! Siswa Berprestasi Tak Diluluskan Karena Berani Protes Kebijakan Kepsek


SURATKABAR.ID – Kabar tak mengenakan kembali datang dari dunia pendidikan. Kali ini lantaran mengkritik kebijakan sekolah, siswa kelas XII jurusan IPS SMAN 1 Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Aldi Irpan, dinyatakan tidak lulus ketika pengumuman pada Senin (13/5) lalu.

“Saya tidak lulus, karena dianggap terlalu berani melawan kebijakan kepala sekolah. Saya dianggap tidak menurut. Itu alasan kepala sekolah tidak meluluskan saya,” ungkap pelajar malang tersebut ketika dimintai konfirmasi melalui telepon, Kamis (16/5), dikutip dari Tribunnews.com.

Siswa peraih peringkat dua di jurusannya dengan total nilai 192 ini mengungkapkan kejadian yang disebut-sebut menjadi alasan kepala sekolahnya marah. Ketika itu, Selasa (22/1), teman sekolahnya dianggap melakukan pelanggaran aturan sekolah karena memakai jaket di lingkungan sekolah.

Padahal pada saat itu Sembalun yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani tengah diselimuti cuaca yang sangat dingin karena masih musim penghujan. Tak terima dengan perlakuan yang didapatkan rekannya, Aldi pun memprotes kebijakan kepala sekolahnya melalui wali kelas dan guru lainnya.

Mengingat suhu udara yang sangat dingin, para siswa tetap mengenakan jaket meski sudah masuk lingkungan sekolah. Rupanya hal tersebut dinilai sebagai pelanggaran aturan sekolah.

Baca Juga: Viral! Mahasiswi IPB Mengaku Beasiswanya Dicabut Karena Jadi Mualaf

Adalah Holikul Amin, kawan satu jurusan Aldi, lalu dipukul dan dilempar bak sampah oleh sang kepala sekolah karena dicap telah melanggar aturan dengan mengenakan jaket di dalam lingkungan sekolah.

“Padahal ketika itu kawan saya sudah lepas jaketnya di parkiran sekolah malah dipukul dan dilempar bak sampah. Banyak kebijakan kepala sekolah yang tidak sesuai dan tidak adil. Tetapi kawan-kawan saya tidak berani mengutarakan. Saya berani mengutarakannya demi kawan-kawan saya,” ujar Aldi.

Tak selesai sampai di situ. Puncaknya terjadi ketika Aldi menuliskan status di akun media sosial Facebook miliknya. Ia memprotes lantaran para siswa yang terlambat masuk sekolah malah dipulangkan. Padahal waktu itu ada jalanan di Sembalun yang longsor membuat banyak siswa datang terlambat.

Selain itu, mereka juga harus berjalan kaki melewati jalan yang becek dan juga licin. Belum lagi ditambah dengan kondisi jalanan yang rusak karena memang pada saat itu sedang ada proyek pelebaran jalan di Desa Sembalun.

Kami siswa SMAN 1 Sembalun tolong hargailah perjuangan kami, kami ingin sekolah untuk masa depan kami agar kami bisa membahagiakan kedua orangtua kami pendidikan diperuntukkan untuk siswa bukan untuk dipersulit, tolong lihatlah perjuangan kami….. Salam Demokrasi,” tulis Aldi.

Turut disertai dalam status yang diunggah Aldi pada 16 Januari 2019 lalu tersebut beebrapa foto siswa yang mengenakan seragam sekolah tampak tengah berjalan kaki di jalanan yang tak hanya rusak, namun juga becek.

Rupanya status Facebook tersebut yang kemudian menyebabkan Aldi beserta sejumlah kawannya dipanggil ke ruang kepala sekolah. Lalu di sana, kepala sekolah meminta klarifikasi mengenai status yang ia tulis di akun medsosnya tersebut.

Tak gentar, Aldi langsung mengutarakan pendapat bahwa banyak kebijakan dari sekolah yang dinilai tak berpihak pada para siswa. Larangan mengenakan jaket di sekolah meski saat itu sedang hujan dan cuaca dingin, serta peraturan yang meminta siswa pulang jika terlambat hanya beberapa di antaranya.

“Kepala sekolah meminta saya mengumpulkan seluruh siswa yang setuju dengan pendapat saya. Jika banyak siswa yang setuju dengan saya dan bersedia berkumpul, kepala sekolah akan mengubah kebijakannya,” jelas Aldi.

“Saya berhasil mengumpulkan 200 kawan-kawan saya, tetapi ketika semua berkumpul bukannya menepati janji, kepala sekolah justru memojokkan saya di hadapan seluruh siswa dan guru. Dia tidak menepati janjinya,” keluh Aldi penuh kekecewaan.

Kasus lain terjadi saat digelar try out pada Senin (6/5) lalu. Aldi dimarahi oleh salah seorang guru karena ia mengenakan seragam putih abu-abu. Ia pun diminta pulang dan dilarang mengikuti try out. Aldi mengaku seragam yang seharusnya ia pakai hari itu basah lantaran hujan.

Ia dengan tegas menolak dipulangkan. Ia bahkan menanyakan seragan guru BP yang ternyata tak sesuai dengan peraturan. Pasalnya guru seharusnya mengenakan seragam hitam putih. Lantaran protes tersebut, pihak sekolah pun menggelar rapat untuk mengeluarkan Aldi dari sekolah.

Diminta Pindah Sekolah dan Diancam Tak Diluluskan

Aldi kemudian dipanggil ke ruang kepala sekolah dan ditanyai apa keinginannya. Ia hanya menjawab ingin agar peraturan sekolah yang ada saat ini diubah. Ketika itu kepala sekolah malah mengancam tidak akan meluluskannya dan meminta Aldi untuk pindah sekolah.

“Saya akan dibiayai jika mau pindah sekolah. Tapi saya menolak tetap tidak mau karena saya akan ujian. Kepala sekolah mengancam tidak akan meluluskan. Saya tetap menolak. Kepala sekolah akhirnya mengatakan ‘Terserah kamu, saya sudah menyerah’,” tutur Aldi panjang lebar.

Kepala sekolah memintanya untuk menanggung risiko karena dianggap telah melawan, menentang, dan tak bersikap hormat pada guru.

Menanggapi hal tersebut, Rusman, kakak ipar Aldi yang membantu menangani kasus Aldi menuturkan, pihak keluarga sangat kecewa dengan keputusan kepala sekolah yang dirasa tidak adil.

Sebelumnya, kepala sekolah sempat mengutus dua orang guru untuk datang ke rumah Aldi dan mengatakan jika ia ingin lulus, Aldi didampingi orangtuanya harus meminta maaf kepada kepala sekolah. Dan Aldi bersama orangtuanya menuruti permintaan tersebut.

“Kepala sekolah justru sebut permintaan maaf itu tidak diterima karena dilakukan di hari Minggu bukan jam kerja. Begitu kata kepala sekolah. Dan adik saya tetap dinyatakan tidak lulus karena keputusan kepala sekolah. Guru-gurunya banyak yang nangis karena tahu Aldi anak baik dan peringkat dua di jurusannya,” ujar Rusman.

Orangtua Aldi yang bekerja sebagai petani pun mengaku tak dapat melakukan apa pun. Mereka menyerahkan kasus tersebut pada pihak sekolah. Pihak keluarga hanya berharap kebijakan sekolah bisa berubah dan Aldi dinyatakan lulus. Dengan begitu ia dapat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Organisasi Aliansi Gerakan Reforma Agraria (Agra), Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), dan Pembaru mendampingi Aldi. Mereka sempat melakukan pertemuan dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru kurikulum, tim kesiswaan, dan BP, Rabu (15/5) lalu.

Namun demikian kepala sekolah menolah mencabut keputusannya. Adapun alasan sang kepala sekolah adalah karena Aldi dan keluarganya tak pernah datang untuk meminta maaf dan membicarakan masalah tersebut.

Pada pertemuan tersebut, kepala sekolah menjelaskan alasan dirinya tidak meluluskan Aldi. Menurutnya, Aldi dianggap terlalu sering menentang dan melawan kebijakan dari sekolah.

Rusman menurutkan bahwa ia menyaksikan sendiri bagaimana guru-guru dan kawan-kawan sekolah memeluk Aldi dengan wajah sendu. Mereka mengatakan bahwa Aldi tak pantas mendapatkan perlakuan tak adil dari kepala sekolah.