Tips ala Rasulullah, Ini Cara Aman Pasien Jantung Tunaikan Puasa Ramadan


SURATKABAR.ID – Siapa bilang umat Muslim yang tengah menjalani terapi penyembuhan penyakit jantung dilarang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan? Karena mereka sebenarnya tetap bisa berpuasa, namun dengan menghindari beberapa hal.

Tim Medis Sultan Agung Cardiac Center RSI Sultan Agung Semarang, dihimpun dari laman Republika.co.id pada Minggu (12/5/2019), merekomendasikan puasa dengan cara Rasulullah SAW adalah yang paling tepat dijalani pasien penderita penyakit jantung tanpa membahayakan kesehatan.

Kepala Kelompok Staf Medik (KSM) Jantung dan Pembuluh Darah Sultan Agung Cardiac Center RSI Sultan Agung Semarang dr Adhitia Budy Prakoso SpJP (K) FIHA, menjelaskan bahwa penderita penyakit jantung pun tetap dapat melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh.

“Namun tentunya ada beberapa tips berpuasa yang harus dilakukan agar niat untuk menunaikan rukun Islam yang keempat tersebut tetap aman bagi penderita penyakit jantung,” jelasnya ketika ditemui di Semarang pada Minggu (12/5) lalu.

Apabila yang bersangkutan masih diharuskan menjalani terapi pengobatan, Adhitia mengatakan, mereka tak boleh meninggalkan jadwal tetap minum obat. Sejauh ini waktu ideal minum obat secara teratur adalah pagi, siang, atau malam.

Baca Juga: Galau Hadapi Bulan Ramadan Saat Menyusui? Ini Tips Aman Berpuasa untuk Ibu Baru Melahirkan

Dan di bulan Ramadan obat bisa dikonsumsi di waktu yang berbeda dari hari-hari biasa. “Misalnya pada pagi hari bisa diminum setelah makan sahur, siang hari diminum setelah berbuka puasa, serta untuk malam hari diminum sebelum beristirahat (tidur),” jelasnya.

Adapun hal yang penting diperhatikan adalah tetap mengupayakan asupan nutrisi dan air yang cukup bagi tubuh. Memang ada yang berbeda pada pasien penyakit jantung, di mana mereka dibatasi asupan cairan atau ada juga yang tak perlu membatasi asupan cairannya.

Masing-masing pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter pribadi secara langsung. Dengan begitu mereka tidak akan menemukan masalah berarti ketika menjalani terapi sembari memenuhi kewajibannya menunaikan ibadah puasa.

Sekalipun berpuasa, Adhitia tetap menyarankan para pasien penyakit jantung tidak meninggalkan olahraga. Sangat direkomendasikan melakukan aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki minimal 30 menit setiap hari. Lakukan rutin selama lima hari setiap pekan.

Terkait boleh tidaknya pasien penyakit jantung berpuasa, Konsultan Elektrifisiologi Semarang Cardiac Center RSI Sultan Agung Semarang dr Pipin Ardhianto SpJP (K) buka suara. Ia mengingatkan agar pasien penyakit jantung tidak melakukan ‘balas dendam’ ketika berbuka puasa.

Ini sama seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, di mana beliau tidak lantas gila-gilaan mengonsumsi apapun saat berbuka. Disarankan membatalkan puasa dengan meminum air putih, lalu melaksanakan salat magrib. Kemudian makan kurma dan jeda sebelum makan makanan utama.

“Pada prinsipnya bagi penderita penyakit jantung masih bisa melaksanakan puasa, sepanjang berpuasa seperti halnya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, agar tetap aman bagi kesehatan jantungnya,” tegas Pipin.