Mencetak Intelektual Muda yang Kritis atau yang Anarkis?


Demonstrasi lagi, demonstrasi lagi. Sejak era reformasi digulirkan, sudah tidak terhitung berapa banyak aksi demonstrasi yang mencuat baik secara damai atau yang berujung anarkis.

Memang hal ini bukan salah dari para ‘pahlawan reformasi’ karena tidak sedikit yang ikut dalam upaya penggulingan mantan Presiden Soeharto menganggap bahwa keterbukaan dan transparansi yang diharapkan juga keterbebasan masyarakat terhadap belenggu pemerintah seperti yang terjadi di era Orde Baru sudah melenceng jauh dari tujuan semula.

Kembali ke masalah demonstrasi, pada hari Senin (9/5) lalu, puluhan orang yang membawa dan mengenakan atribut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdemo di depan kantor KPK karena memprotes ucapan Wakil ketua KPK, Saut Situmorang saat menghadiri sebuah acara di salah stasiun televisi di Tanah Air.

Dalam pernyataannya, Saut mengatakan, “Mereka (anggota HMI) adalah orang cerdas ketika masih menjadi mahasiswa, akan tetapi mereka korup dan jahat saat sudah menjadi pejabat.”

Pernyataan Saut ini menyingung beberapa pejabat yang juga merupakan alumni dari HMI yang kini harus meringkuk di balik penjara karena kasus korupsi.

Tentu saja, dikarenakan membawa nama HMI dalam pernyataan itu, para anggota dan beberapa alumni HMI yang lain menganggap bahwa Saut telah mencemarkan nama baik dan juga memberikan pernyataan yang tidak sesuai terhadap organisasi tersebut.

Dikarenakan hal itu, mereka akhirnya mendatangi kantor KPK dan berorasi serta meminta Saut untuk keluar dan menemui massa yang sudah marah atas pernyataan tersebut.

Dalam tuntutannya, massa HMI yang diwakili kordinatornya menuntut agar polisi menangkap Saut karena melakukan tindakan tidak menyenangkan dan memberikan pernyataan yang terkesan menuduh, meminta KPK memberikan sanksi etik kepada Saut sampai dengan meminta pria tersebut mundur dari jabatannya dan meminta maaf secara resmi kepada HMI.

Sayangnya, alih-alih melakukan demonstrasi damai, justru aksi yang dilakukan jauh dari kata intelek dan seperti tidak berpendidikan. Vandalisme, pengerusakan sejumlah obyek, membuat macet sekitar Jalan HR Rasuna Said sampai dengan membuat beberapa polisi mengalami cedera merupakan isi dari aksi demonstrasi berujung anarkis oleh massa HMI tersebut.

Mencoba untuk membongkar setiap kata dari pernyataan Saut, ada kalimat “Mereka korup dan jahat saat sudah menjadi pejabat.” Dalam hal ini memang Saut sebelumnya mengaitkan antara HMI dengan para alumnusnya yang pada akhirnya terjerumus dan berurusan dengan hukum. Akan tetapi, tidak ada pengerucutan bahwa nantinya semua alumnus HMI akan menjadi seperti itu, bahkan tidak ada penjabaran bahwa HMI adalah organisasi pencetak koruptor, bukan?

Jika merunut pada pernyataan tersebut tentunya Saut tidak salah mengucapkannya karena dia tidak mengatakan kalimat dengan unsur tuduhan karena siapa saja memiliki potensi untuk melanggar hukum, bahkan seorang kepala negara sekalipun. Hanya saja, para massa HMI menjadi marah karena merasa organisasi mereka disangkutpautkan tanpa melihat struktur dan diksi dari kalimat yang diucapkan Saut.

Ditambah lagi, aksi anarkis yang dilakukan massa HMI pada hari Senin tersebut selain tidak mencerminkan seseorang yang memiliki intelektual tinggi, juga menyalahi visi, misi dan peraturan yang diberlakukan di HMI sendiri, yaitu seperti yang tertulis dalam Pasal 4 AD HMI, yaitu mencetak kader berintelektual dan kritis, bukannya yang suka melakukan tindakan anarkis.

Lantas, dalam hal ini, siapa yang salah dan siapa yang benar? Jika ada pertanyaan seperti itu, maka akan muncul segudang jawaban baik yang pro dan kontra karena semua memiliki persepsi dan pandangan masing-masing akan tindakan yang dilakukan oleh massa HMI tersebut.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaJupiter Diciduk Polisi Saat Akan Pesta Sabu
Berita berikutnyaDi Jakarta Bela Rakyat Kecil, di Pati Yusril Bela Pengusaha Lawan Warga