Ahmad Dhani: Waspadai Penangkapan Penculikan Tokoh Atas Nama Makar II


SURATKABAR.ID – Terdakwa kasus pencemaran nama baik melalui video ‘idiot’ sekaligus musisi Tanah Air Ahmad Dhani Prasetyo lagi-lagi menuliskan surat dari balik jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo.

Dalam suratnya kali ini, seperti yang dirangkum dari laman CNNIndonesia.com pada Kamis (9/5/2019), Ahmad Dhani menyinggung mengenai tudingan makar jilid II.

“Waspadai penangkapan penculikan tokoh atas nama makar II. Makar I terjadi 2 Desember 2016,” ujar suami Mulan Jameela melalui suratnya yang diterima redaksi CNNIndonesia.com pada Kamis (9/5).

Melalui surat tersebut, pentolan band Dewa 19 ini awalnya menyinggung mengenai proses situng yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam gelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Ahmad Dhani mengimbau kepada KPU untuk segera menghentikan proses situngnya. Menurut Dhani, proses itu harus sesegera mungkin diaudit terlebih dahulu secara jujur. Pasalnya, menurutnya selama ini dalam penghitungan tersebut terjadi banyak kesalahan hingga calon presiden yang salah unggul.

Baca Juga: Mulan Jameela dan Ahmad Dhani Diprediksi Gagal Melenggang ke Senayan

Apabila KPU tak segera menghentikan perhitungan tersebut, maka, Dhani menyebut, gerakan people power akan terjadi dalam waktu dekat dan diprediksi akan semakin membesar seperti bola salju.

“Gerakan people power sudah pasti mulai menggelinding bagaikan bola salju,” tulis mantan suami Maia Estianty tersebut.

Lebih lanjut, Dhani menyebutkan jika nanti people power memang benar-benar terjadi, maka pihak kepolisian akan menangkapi para tokoh atas tudingan telah berbuat makar. Ia pun mencatut nama sejumlah orang, termasuk salah satunya Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

“Apa Polri mau membela rezim curang? Let us see. Apa TNI mau membela rezim curang? Sejarah akan membuktikan,” imbuhnya.

Dhani juga sempat menyinggung bahwa resim sekarang ini telah mengorbankan banyak nyawa demi melanggengkan kekuasaan. Hal tersebut, ujarnya, sangat jelas terlihat dari begitu banyak petugas TPS yang meninggal dunia dalam gelaran pesta demokrasi lima tahunan ini.

Menyoal kejadian tersebut, politisi dari Partai Gerindra ini kemudian melemparkan kesalahan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia bahkan tak segan-segan mengatakan bahwa penyelenggaraan pilpres tahun ini merupakan pilpres paling berdarah.

“Apakah kali ini rezim harus mengambil banyak nyawa rakyat untuk melanggengkan 2 periode? Pasca pilpres, Jokowi menambah satu prestasi lagi, pilpres paling berdarah,” ujar Dhani.

Tak hanya Jokowi. Dalam suratnya, Ahmad Dhani juga sempat menyinggung DPR-MPR, NU Banser serta Muhammadiyah yang menurutnya tak memberikan sikap apa pun terkait ratusan petugas TPS yang berguguran.

“DPR-MPR, NU Banser dan Muhammadiyah, bungkam ada 500-an korban KPU Airlines. Buta atau tuli?” katanya ketus.