Menag Lukman Mengakui Telah Terima Uang dari Haris, Tetapi…


SURATKABAR.ID – Menteri Agama (Menag) Lukman hakim Saifuddin telah menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih kurang empat jam lamanya, pada Rabu (8/5), sejak pukul 10.00 WIB hingga 14.40 WIB.

Lukman, seperti yang dirangkum dari laman Jawapos.com, mengaku menunjukkan sikap kooperatif selama pemeriksaan terkait kasus jual beli jabatan yang menyeret mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (Rommy).

“Tentu saya bersyukur bahwa hari ini bisa memenuhi kewajiban konstitusional saya selaku warga negara. Saya harus kooperatif dengan lembaga hukum ketika dimintai keterangan sebagai saksu,” ujar Lukman ditemui di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, pada Rabu (8/5).

Ia kemudian mengakui tidak ada unsur paksaan ketika dirinya memberikan kesaksiannya di hadapan para penyidik. Lukman juga menyebut bahwa pihak KPK telah bekerja secara profesional dalam menangani kasus tersebut.

“Saya merasa nyaman dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan oleh mereka. Jadi saya merasa bersyukur semua prosesnya berlangsung dengan lancar dan tidak ada kendala apa pun,” jelas Lukman.

Baca Juga: Kelanjutan Kasus Rommy, KPK Sebut Menag Terima Uang dari Haris Hasanudin

Sementara itu terkait dengan dugaan penerimaan uang senilai Rp 10 juta, Lukman buka suara. Ia mengaku menerima uang tersebut. Akan tetapi ia menegaskan telah menyerahkan uang sebesar Rp 10 juta itu kepada penyidik lembaga antirasuah.

“Sudah lebih dari sebulan yang lalu uang itu sudah saya laporkan kepada KPK. Saya serahkan kepada KPK karena saya merasa tidak berhak untuk menerima uang itu, jadi itu yang bisa saya sampaikan,” ujar Lukman tegas.

Politisi PPP ini menolak memberikan penjelasan secara terperinci mengenai materi pemeriksaan penyidik KPK pada dirinya. “Saya harus menghormati dan menghargai proses yang sedang berlangsung, sehingga saya merasa tidak pada tempatnya,” tukas Lukman.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengaku bakal mendalami dugaan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin telah mengantongi uang sebesar Rp 10 juta.

Fakta mengenai aliran uang panas tersebut, diberitakan, baru terungkap ketika digelarnya sidang praperadilan mantan Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy).

“Pokoknya apapun yang ada di dalam sidang itu pasti penyidik akan mengejar,” jelas Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan ditemui di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan pada Selasa (7/5) malam.

Namun demikian, Basaria menjelaskan bahwa pihaknya masih harus mempelajari serta mendalami terkait hal tersebut. Nantinya, jika mengumpulkan semua bukti dan informasi memadai sudah terkumpul maka pihaknya baru akan mengambil langkah selanjutnya mengenai aliran uang tersebut.

“Tapi apakah itu benar atau tidak sampai sekarang laporan belum masuk,” ujarnya.

Awalnya, Tim Biro Hukum KPK menjelaskan soal kronologi kasus tersebut, mulai dari pengintaian, operasi tangkap tangan (OTT) hingga penetapan tersangka serta penahanan. Tak hanya itu. Disebutkan juga ada bukti berjumlah 30 buah, berupa surat, dokumen, sadapan, dan uang.

“Serta keterangan dari sekurang-kurangnya tujuh orang termasuk keterangan pemohon (Rommy) yang diperoleh penyelidik termohon di taham penyelidikan,” ujar anggota tim biro hukum KPK ketika membacakan surat jawaban dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa.

Pada kasus ini, tersangka mantan Ketum PPP Romahurmuziy diduga telah mengantongi uang suap sebesar Rp 300 juta. Uang tersebut diduga ia terima dari tersangka mantan Kakanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanudin dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhamad Muafaq Wirahadi.

Adapun rincian dari uang Rp 300 juta yang diterima Rommy adalah, sebanyak Rp 250 didapat dari Haris, sementara Rp 50 juta diserahkan oleh Muafaq.

Uang panas tersebut diduga diberikan untuk tujuan memuluskan proses pengisian jabatan di Kemenag Jatim. KPK juga menaruh curiga bahwa Rommy tak bermain seorang diri dalam menerima aliran suap tersebut.