Wabah Misterius dan Mematikan Serang 60 Warga Sulsel, Gejala Aneh Hingga Ruqyah Massal


SURATKABAR.ID – ‘Virus aneh’ tengah menghantui warga Dusun Garonggong, Desa Tuju, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel). Gara-gara virus tersebut sudah empat warga dilaporkan meninggal dunia, sementara sebanyak 50 orang mengalami gejala serupa.

“Sejauh ini sudah ada empat warga kami yang meninggal dunia, akibat penyakit aneh yang menyerang salah satu dusun di Desa Tuju ini,” tutur Kepala Desa Tuju, Kecamatan Bangkala Barat, Andi Indrawati Naim (37), Jumat (3/5) siang, seperti yang dikutip dari laman Tribunnews.com.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penyakit tersebut tiba-tiba datangnya dan langsung menyerang banyak warga dalam kurun waktu bersamaan. Tanpa membedakan usia, penyakit tersebut juga menyerang anak-anak hingga orang tua.

1. Gejala Penyakit Aneh

Ada pun warga Dusun Garonggong yang terserang virus aneh itu mengalami gejala awal seperti kepala pusing, demam, mengigau, hingga mual-mual. Bahkan ada warga yang sampai kehilangan kesadarannya lantaran penyakit tersebut.

Baca Juga: Tewas Mengenaskan AKibat Santet, Pesan Terakhit Wanita Ini Ungkap Rahasia Mengerikan

Menindaklanjuti kasus penyakit yang menyerang massal tersebut, Plt Kadis Kesehatan Jeneponto Syafruddin Nurdin mengungkapkan bahwa setelah dilakukan pengecekan laboratorium, diketahui mereka negatif chikungunya dan juga zika. Karena itu korban hanya mendapat obat penurun deman.

2. Dilakukan Ruqyah Massal

Gara-gara penyakit aneh itu, warga pun berinisiatif menjalani ruqyah dengan harapan agar penyakit yang menyerang mereka segera pergi. Setidaknya ada sekitar 350 warga yang telah diruqyah dipandu Ustaz Israil dibantu lima anggotanya.

“Sampai sekarang kita tidak tahu penyakit apa yang menyerang warga di kampung ini karena saat itu kebanyakan masyarakat di sini langsung sakit,” tutur warga Dusun Garonggong Rais ketika dimintai konfirmasi pada Kamis (2/5) lalu.

Ada insiden mengejutkan ketika ruqyah berlangsung. Seorang warga bernama Erna (25) mengalami kesurupan ketika diruqyah.

3. Sudah Berlangsung Selama Sepekan

Plt Kadis Kesehatan Jeneponto Syafruddin Nurdin mengungkapkan bahwa sudah sejak sepekan terakhir masyarakat diserang gejala penyakit aneh. Mulai dari mual, mengigau, hingga tak sadarkan diri.

“Seminggu yang lalu itu kita sudah dapat laporannya. Setelah kita dapat laporan lebih dari tujuh jam setelah kita dengar kasus ini tim gerak cepat turun mengambil alih semuanya,” jelas Syafruddin.

“Kemungkinannya ini sebagai sebuah penyakit yang kita anggap langka di Jeneponto,” tegasnya. “Kita sudah koordinasikan dengan provinsi. Dan pusat tim provinsi sudah turun bersama kita dan melakukan pemeriksaan karena ini kita anggap sebagai demam berdarah, diperiksa ternyata bukan demam berdarah. Dianggap sebagai tipes diperiksa ternyata juga bukan tipes. Dianggap malaria kita periksa juga bukan malaria,” pungkasnya tegas.

4. Dilakukan Pengujian Sampel Darah Warga

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Dr dr Bahtiar Baso menuturkan bahwa pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan telah melakukan uji laboratorium terhadap sampel darah warga yang meninggal dunia akibat penyakit aneh tersebut. Namun hasilnya diketahui negatif.

Awalnya pasien tersebut dicurigai terserang penyakit typoid karena mengalami gejala seperti demam yang sangat tinggi. Oleh karena itu tim dokter pun melakukan penanganan sesuai dengan ciri-ciri yang ditunjukkan penyakitnya. Namun usai diuji lab ternyata hasilnya negatif.

“Tim dokter merasa awalnya ini typoid. Pasalnya sama dengan ciri-cirinya. Tapi setelah dicek malah negatif,” ujar Bahtiar, Jumat (3/5).

Tak berhenti sampai di situ, tim dokter kembali mengambil sampel darah untuk diuji malaria dan chikungunya karena dibuat penasaran dengan penyakit tersebut. Namun hasil lab kedua penyakit itu sama-sama negatif.

Dikarenakan tiga penyakit mematikan dengan tanda-tanda demam belum diketahui penyebabnya, akhirnya pihak Dinkes mengambil alih untuk dilakukan uji lab di Jakarta. Dinkes Sulsel mengajukan permohonan untuk dilakukan uji lab di Kementerian Kesehatan guna mengecek apa yang sebenarnya terjadi.

Pada saat ini perhatian Dinkes Sulsel terpusat pada adanya virus leptospirosis yang berasal dari air kencing tikus. Menurut Bahtiar, apabila hal ini yang terjadi maka akan sangat berbahaya bagi masyarakat lain yang masih sehat.

Hal itu dikarenakan kontaminasi lingkungan berisiko memicu penyebaran virus mematikan tersebut terjadi lebih cepat. “Pekan depan kita sudah tahu hasilnya, saya memohon ke Jakarta agar ini cepat ada hasilnya,” ujar Bahtiar.

5. Sekitar 60 Warga Mengalami Deman Serentak

Bahtiar menilai, penyakit misterius yang menyerang Kabupaten Jeneponto ini tak boleh disepelekan. Mengingat berdasarkan informasi terakhir yang ia terima, ada sebanyak 60 orang yang mengalami demam bersamaan.

Dari 60 korban, ada 6 warga yang dilarikan ke rumah sakit terdekat, yakni puskesmas di Kabupaten Takalar. Namun tak lama usai ditangani, 3 dari 6 warga yang mendapat perawatan medis tersebut menghembuskan napas terakhir.

“Jadi kenapa pasien ini pergi di puskesmas yang ada di Takalar, karena jaraknya lebih dekat dari rumahnya. Memang dia warga Jeneponto. Tapi kalau ke kotanya Jeneponto itu butuh waktu ebrjam-jam yang bisa lebih banyak lagi jatuhkan korban jika lambat tertangani medis,” jelas Bahtiar.

6. Kemenkes Mengambil Sikap

Sementara itu, Kementerian Kesehatan akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Sulsel untuk menindaklanjuti wabah aneh yang menyerang Dusun Garonggong, Desa Tuju, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto, Makassar, Sulsel.

Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan bahwa pihak Kemenkes masih berupaya mencari informasi mengenai virus aneh yang telah merenggut 3 nyawa itu.

“Iya, lagi dicari infonya karena belum ada laporannya. Kita akan klarifikasi ke Dinkes Sulsel ya,” ujar Nadia, Senin (6/5) kemarin.