Penghasilannya Rp1,3 Miliar per Bulan dari Jualan Nasi, Kok Bisa?


SURATKABAR.ID – Bagaimana jika Anda berhasil mendapatkan omset hingga milyaran Rupiah dari hanya berjualan nasi? Tentu akan menarik sekali rasanya. Hal ini berhasil dilakukan oleh usaha penjualan nasi lemak Ibu Saleha di Malaysia. Sebagaimana diketahui, nasi lemak menjadi salah satu kuliner khas Negeri Jiran. Menunya hampir mirip dengan nasi uduk asal Indonesia yang notabene sederhana.

Nasi lemak berisi komposisi dari nasi putih dengan campuran santan, sambal, telur rebus, ikan teri dan kacang, serta ayam goreng hingga mentimun. Harganya pun  terbilang murah meriah,yakni sekitar Rp 10.000 hingga Rp 12.000. Nasi lemak yang merupakan makanan khas Suku Melayu ini memang umum ditemukan di Malaysia. Biasanya menu yang kerap dihidangkan saat sarapan ini dianggap sebagai salah satu hidangan nasional Malaysia. Bahkan terkadang nasi lemak juga di jual di Indonesia, Singapura, hingga Brunei. Namun siapa yang menyangka dengan menjual nasi lemak seseorang bisa menjadi kaya raya?

Dikutip dari halaman Viva.co.id, Senin (06/05/2019), Saleha Abdullah awalnya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi sekarang, ia bisa menghasilkan 400 ribu Ringgit atau sekitar Rp 1,3 miliar per bulan hanya dengan menjual nasi lemak.

Saleha diketahui telah memulai bisnis nasi lemaknya ini sejak 10 tahun lalu. Menurut laporan Worldofbuzz, Minggu (05/05/2019), Saleha menuturkan bahwa ide membuka warung nasi lemak ini dipicu oleh suaminya.

“Idenya datang dari suami saya. Saat itu saya sedang bekerja dengan almarhumah ibu saya di sebuah warung kecil,” ujarnya sambil mengenang.

Baca juga: Dari China Hingga Belanda, Inilah Jejak Negara Asing dalam Kuliner Nusantara

Sejak saat itulah suaminya ingin Saleha memperluas bisnis mereka dengan menjual nasi lemak di Kampung Pandan.

“Saya mulai dengan hanya satu kilogram beras. Itu terjual habis dan saya harus menambahkan lebih banyak pasokan beras untuk ke depannya,” ungkap Saleha.

Dan singkat cerita, mulailah Saleha lebih serius lagi dalam menekuni bisnisnya.

Kemudian pada tahun 2009, dengan bermodalkan uang 3 ribu ringgit atau setara Rp 10 juta, Saleha memberanikan diri buka kios nasi lemak.

“Saya mulai konsisten dan hemat dengan uang yang saya habiskan. Akhirnya saya membuka sebuah kios di pinggir jalan dengan 20 karyawan,” sebut Saleha.

Selagi bisnisnya makin berkembang, meski perlahan namun pasti, Saleha mulai membeli truk untuk membantu logistik dan mencari bantuan Foodpanda guna meningkatkan bisnisnya.

Bagi yang masih belum familiar dengan Foodpanda, ini merupakan layanan pesan-antar makanan melalui situs atau aplikasi. Berbeda dengan layanan pesan-antar lainnya, pelanggan Foodpanda yang kantornya berpusat di Berlin, Jerman ini tidak melangsungkan pemesanan makanan lewat telepon, melainkan lewat situs resmi Foodpanda dan aplikasi.

Kiosnya Pernah Dihancurkan

Seperti banyak perjuangan pada umumnya, usaha nasi lemak Saleha pun tak lepas dari cobaan. Dulu, dia pernah mengalami hal yang tak menyenangkan. Salah satunya yakni ketika ada pemilik bisnis lain yang iri padanya  lantas melaporkan kiosnya ke pihak berwenang.

“Saya sedih melihat pemilik bisnis lain yang iri dengan kios saya. Lalu dia menggunakan MPAJ (pihak berwenang) untuk menyita meja dan kursi saya, menghentikan kami dari operasi,” ungkap Saleha, mengutip Grid.ID.

Kendati begitu, Saleha pantang menyerah. Sewaktu kiosnya dihancurkan, dia berhasil membeli sebuah bangunan di Sri Rampai, Wangsa Maju dengan biaya RM 3,8 juta (Rp 13 miliar). Dan pada akhirnya, Nasi Lemak Saleha tetap menjadi nomor satu.

Lama kelamaan, kerja keras dan usaha Saleha semakin berbuah manis. Kini, Nasi Lemak Saleha merupakan makanan populer dan terkenal  di Lembah Klang, sebuah wilayah di Malaysia yang berpusat di Kuala Lumpur, yang mana wilayah ini dekat dengan Selangor.

Bahkan, imbuh Saleha, usahanya yang bernama ‘Nasi Lemak Saleha’ ini ternyata sukses menarik banyak perhatian media lokal maupun internasional.

Sewaktu ditanya tentang apa rahasianya, Saleha hanya berbicara soal metode memasaknya saja.

“Saya tidak pernah mengubah apa pun dalam resep saya, karena saya takut orang akan lari jika saya mengubah resep. Tidak ada yang unik tentang Nasi Lemak saya. Hanya saja metode memasaknya perlu benar. Serta Anda harus tulus dalam apa yang Anda lakukan,” tukasnya bercerita.