Ijtima Ulama III Hasilkan 5 Poin Utama, Prabowo: Cukup Komprehensif dan Tegas


SURATKABAR.ID – Saat menyambangi Ijtima Ulama III dan Tokoh Nasional 3 yang berlangsung di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu(01/05/2019) kemarin, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto enggan berkomentar banyak. Ketua Umum Partai Gerindra itu hanya mengeluarkan sedikit komentar seraya melenggang pulang dari lokasi acara.

“Saya kira cukup komprehensif dan tegas, terima kasih,” ujar Prabowo singkat,  seperti dikutip dari reportase Tempo.co, Kamis (02/05/2018).

Prabowo diketahui ikut hadir di lokasi ijtima, meski tiba terlambat. Awalnya ia dijadwalkan hadir sekitar pukul 15.30 WIB. Namun dirinya baru tiba di lokasi pada pukul 16.20 WIB. Sebelumnya Prabowo menyampaikan orasi kebangsaan di acara Hari Buruh yang digelar oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia di Istora Senayan, Jakarta Pusat.

Setibanya di Hotel Lorin, Prabowo masuk ke lokasi acara Ijtima Ulama III yang berlangsung tertutup tersebut.

Sesampainya di sana, Prabowo didampingi sejumlah tokoh pendukungnya, antara lain yaitu Dewan Penasehat Partai Amanat Nasional Amien Rais, Wakil Ketua Partai Gerindra Fadli Zon, dan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Iman. Meski begitu, mereka tak keluar dari lokasi Ijtima secara bersamaan.

Baca juga: Wiranto Pertanyakan Untuk Apa Ijtima Ulama III Diagendakan?

Di sisi lain, melansir Tirto.ID, acara ini tidak dihadiri oleh Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut mempunyai agenda lain, yakni menghadiri serangkaian acara di Padang, Sumatera Barat.

5 Poin Utama Hasil Ijtima Ulama III

Ijtima Ulama ketiga ini sendiri menghasilkan lima poin utama. Mereka menyepakati kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif telah dilakukan oleh kubu pasangan calon Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dalam Pemilihan Presiden 2019.

Kelima poin utama tersebut dibacakan di akhir musyawarah oleh Ketua Dewan Pengarah Ijtima Ulama 3, Yusuf Martak.

Di poin pertama, mereka sepakat bahwa di pemilihan presiden 17 April lalu telah terjadi berbagai kecurangan dan kejahatan yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif. Atas dasar itu, mereka merekomendasikan poin kedua, yakni agar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mulai bergerak.

“Mendorong dan meminta kepada Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi untuk mengajukan keberatan, melalui mekanisme legal prosedural tentang terjadinya kecurangan dan kejahatan yang terstuktur sistematis dan masif,” tukas Yusuf.

Pada poin ketiga, Yusuf Martak dan kawan-kawan mendesak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mendiskualifikasi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden 01, Joko Widodo – Ma’ruf Amin.

Di poin keempat, mereka mengajak umat dan seluruh anak bangsa untuk mengawal dan mendampingi perjuangan penegakan hukum dengan cara syar’i dan legal konstitusional dalam melawan kecurangan dan kejahatan serta ketidakadilan.

“Termasuk perjuangan pembatalan atau diskualifikasi paslon capres cawapres 01 yang ikut melakukan kecurangan dan kejahatan dalam Pilpres 2019,” tandas Martak.

Sementara poin kelima memutuskan bahwa perjuangan melawan kecurangan, kejahatan, serta ketidakadilanialah bentuk amar ma’ruf dan nahi mungkar konstitusional serta sah secara hukum. Hal ini dilakukan dengan dengan menjaga keutuhan negara Republik Indonesia dan kedaulatan rakyat.

Pembacaan hasil ijtima di depan wartawan ini tidak dihadiri oleh Prabowo yang sebenarnya berada di lokasi. Bersamaan dengan pembacaan ini, Prabowo melenggang keluar hotel dan enggan berkomentar banyak.