Menelusuri Jejak Sejarah Eksistensi Yahudi di Bumi Nusantara


SURATKABAR.ID – Belum lama ini, media internasional Haaretz membuat laporan mengenai komunitas Yahudi di Indonesia. Koran yang bermarkas di Tel Aviv, Israel tersebut menurunkan laporan bertajuk Inside the Secret World of Indonesia’s Jewish Community.

Mengutip laporan JPNN.com, Rabu (01/05/2019), Haaretz menguraikan soal Yahudi di Indonesia yang kini menjadi komunitas tersembunyi. Para penganut Yudaisme di Indonesia harus menyembunyikan identitas keimanan mereka sebagai minoritas.

Dalam artikel yang diterbitkan pada 22 April 2019 itu, sejarah Yahudi di Indonesia dibeberkan. Bisa dibilang, umat Yahudi sudah eksis di Nusantara selama berabad-abad.

Dalam rangka disertasi doktoralnya, Dr Ayala Klemperer-Markman dari Universitas Haifa, Israel pernah meneliti asal mula Yahudi di Nusantara. Penelitian Ayala menunjukkan adanya Yahudi yang menginjakkan kakinya di Nusantara pada abad ke-17.

Waktu itu penganut Yudaisme bekerja sebagai klerek ataupun pedagang Dutch East India Company, yang lebih dikenal dengan istilah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ayala merujuk pada tulisan Jacob Halevy Saphir (1822-1886). Saphir ialah utusan kerabian dari Yerussalem.

Baca juga: Soal Keberadaan Agama Yahudi, Menag: Memang Dilindungi UU Sejak Tahun 1965

“Tiba di Nusantara pada 1861,” ujar Ayala menguraikan tentang Saphir.

Laporan Saphir menjadi rujukan mengenai awal keberadaan Yahudi di wilayah Bumi Nusantara. Dalam tulisannya, Saphir melaporkan tentang sekitar 20 keluarga Yahudi Askenazi dari Belanda di Batavia (sekarang Jakarta), Surabaya dan Semarang.

Saphir dalam laporannya mengekspresikan kekhawatiran tentang masa depan Yahudi di Nusantara.

“Karena mereka tidak menjalankan tradisi Yahudi dan banyak yang menikah dengan perempuan non-Yahudi,” ungkap Ayala,melansir laporan Saphir.

Dalam sebuah tulisan, Ayala menceritakan, laporan Saphir membuat komunitas Yahudi di Amsterdam mengirim rabi ke Nusantara untuk mengatur kehidupan komunitas pengikut Yudaisme di Batavia dan Semarang. Namun, rabi itu meninggal dunia sebelum menyelesaikan tugasnya.

Di luar itu, ada sekelompok Yahudi dari Irak; terutama Bagdad dan Basra; serta Aden yang menetap di Nusantara. Hanya saja, dari sudut pandang agama, gelombang migrasi Yahudi dari Irak dan Aden ini tidak berdampak signifikan.

Memasuki tahun 1291, seorang utusan lain bernama Israel Cohen tiba di Tanah Jawa. Berdasarkan catatan Cohen saat itu, jumlah umat Yahudi di Jawa diperkirakan sekitar 2.000.

Cohen yang seorang zionis juga berpendapat seperti Saphir soal komunitas Yahudi yang tidak taat memegang tradisi. Ikhtiar Cohen di Nusantara meninggalkan jejak dengan terbitnya surat kabar Eretz Israel pada periode 1926 hingga 1939 di Padang, Sumatera Barat.

Selama era 1930 hingga 1940, komunitas Yahudi di Indonesia terus berkembang. Hal ini tak lepas dari kondisi di Eropa waktu itu.

Holocaust saat Nazi merajalela membuat banyak Yahudi Eropa mencari perlindungan ke wilayah lain. Sebagian dari mereka mengungsi ke wilayah-wilayah jajahan Belanda termasuk Indonesia.

Sebagian besar dari mereka ialah warga negara Belanda ataupun negara lain di Eropa. Menjelang masa penjajahan Jepang pada 1942, jumlah Yahudi di Indonesia sekitar 3.000 orang.

Namun, saat Indonesia berada di bawah kependudukan Jepang pada 1942, kaum Yahudi di Nusantara dikirim ke kamp interniran. Prof Rotem Kowner, ahli tentang sejarah Jepang di Universitas Haifa punya catatan soal itu.

Ia menuturkan, tekanan Jerman terhadap penguasa Jepang selama era Perang Dunia II memaksa populasi Yahudi mengasingkan diri.

“Yang kemudian diperkuat tendensi anti-Semitisme di antara penduduk lokal dan anti-Semitisme di antara kelompok-kelompok warga Jepang yang menjadi bagian pasukan pendudukan di Indonesia,” ungkapnya.

Dan kini, umat Yahudi di Indonesia masih menghadapi kondisi yang tak mudah.

“Anda harus memahami sejarah di balik kebencian terhadap Yahudi,” tukas Rabi Benjamin Meijer Verbrugge yang biasa memimpin peribadatan pengikut Yudaisme di pinggiran Jakarta.

Rabi Benjamin dan beberapa Yahudi lain di Indonesia merupakan keturunan Belanda. Dia harus menghadapi rasa benci masyarakat lantaran kakeknya dulu menjajah Indonesia.

Di sisi lain, Rabi Benjamin juga harus menghadapi kebencian karena dirinya berdarah Yahudi.

“Jadi kami menghadapi dua jenis masalah: satu adalah warisan Belanda kami, lainnya adalah sentimen anti-Yahudi,” paparnya menambahkan.