Kritik Target Ekonomi Nasional, Rizal Ramli: Kalau Gitu Ngapain Mau Jadi Presiden Lagi?


SURATKABAR.ID – Ekonom senior Rizal Ramli blak-blakan menyebut bahwa target pertumbuhan ekonomi yang dipatok Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sampai menyentuh angka 5,3  hingga 5,6 persen pada tahun 2020 sangatlah mengecewakan.

Pasalnya, menurut Rizal Ramli, angka tersebut tak ada bedanya dengan kinerja yang diraih Jokowi selama menjabat sebagai presiden selama 4,5 tahun terakhir, di mana pertumbuhan ekonomi mandek di angka 5 persen saja.

“Itu betul-betul pas-pasan, sangat mengecewakan. Tidak ada strategi dan inovasi baru. Hanya ‘business as usual’, sekedar numpang lewat doang,” ujar Rizal Ramli melalui keterangan pers pada Kamis (25/4), seperti yang dikutip dari laman Jawapos.com.

Menurut Rizal, rencana ekonomi 2020 yang medioker tersebut juga bakalan dihantui dengan nilai utang yang bukannya semakin berkurang malah makin menggunung dengan yield sekitar 8 persen yang mana tertinggi di kawasan Asia.

Hingga saat ini utang pemerintah pusat sudah menyebtuh angka Rp 4.567 triliun terhitung per Februari 2019. Adapun hingga akhir Maret 2019, cicilan bunga utang pemerintah Indonesia adalah sebesar Rp 70,6 triliun.

Baca Juga: Klaim Prabowo Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Rizal Ramli: Jokowi Bisanya Cuma 5 %

“Rencana Ekonomi 2020 yang medioker itu juga akan meneruskan ‘Trio-Deficits’, yaitu defisit Neraca Perdagangan sebesar – USD 193 juta (kuartal I-2019), defisit transaksi berjalan – USD 9,1 miliar, dan defisit APBN yang sudah tembus Rp 102 triliun pada kuartal I-2019.

“Tidak ada strategi dan blue print yang jelas untuk mengurangi Trio-Deficits tersebut, mungkin karena sudah terkesima dengan gembar-gembor dongeng keberhasilan ekonomi,” tukas mantan Anggota Tim Panel Ekonomi PBB tersebut.

“Kalau terlalu sering ‘mendongeng’, akhirnya tertipu sendiri dengan dongeng palsu itu, korban kampanye ‘post truth’. Tapi korban yang sesungguhnya adalah rakyat yang hidupnya semakin susah, dengan daya beli yang terus merosot,” seloroh Rizal Ramli pedas.

“Lho kalau gitu ngapain mau jadi Presiden lagi? Kok tega-teganya sekedar menghabiskan waktu tanpa perbaikan kinerja ekononi, dan tanpa  perbaikan nasib rakyat Indonesia? Sekedar melanjutkan kinerja ekonomi yang medioker dan ‘business as usual’ itupun pas-pasan,” imbuh Rizal kemudian.

Karena itu, Rizal menegaskan, ke depannya harus ada perubahan. Tak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi semakin tinggi, namun termasuk meningkatkan daya beli masyarakat, menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan upah.

Untuk mewujudkan semua itu tak dapat sekedar melanjutkan ekonomi yang mediocre atau meneruskan ‘business as usual’. Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini juga mengimbau kepada presiden baru yang akan dilantik pada Oktober mendatang untuk memperbaiki semua kesalahan.

“Itulah mengapa pemerintahan baru yang akan dilantik Oktober 2019 nanti harus segera membongkar dan memperbaiki RAPBN 2020 mediocre itu. Agar bisa mencapai pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat lebih tinggi,” tuturnya.

“Termasuk merumuskan strategi agar resiko ekonomi Indonesia berkurang dengan cepat. Mengubah strategi perdagangan & industri yang lebih bermanfaat dan unggul. Dan merumuskan strategi dan blue print agar Kesejahteraan Rakyat meningkat sejalan dengan peningkatan Kedaulatan Pangan, Energi, Air, dan Keuangan periode 2020-2024,” pungkasnya tegas.

Diketahui Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya menggelar sidang kabinet paripurna di Istana Bogor, Selasa (23/4) lalu. Dalam sidang kabinet paripurna tersebut yang menjadi agenda utama adalah pembahasan soal anggaran dan fokus kerja pada 2020.

Usai rapat, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada sejumlah target yang rencananya ditetapkan untuk tahun 2020, terutama dalam hal makro ekonomi yang menjadi salah satu soal target pertumbuhan ekonomi.

Sri Mulyani mengungkapkan, target pertumbuhan yang nantinya akan disasar adalah angka antara kisaran 5,3 – 5,6 persen. “Untuk awal ini kita berasumsi pertumbuhan ekonomi akan berkisar 5,3 – 5,6 persen, namun Presiden berharap kita bisa pacu sampai 5,6 persen,” ujar Sri Mulyani.