Klaim Dalangi Aksi Pembakaran Surat Suara di Nduga, Terkuak Motif Kelompok Kogoya


SURATKABAR.ID – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) akhirnya angkat bicara mengaku bertanggung jawab soal kasus pembakaran surat suara pemilu di Kabupaten Nduga, Papua. Mereka menyebut kelompok bersenjata yang dipimpin Egianus Kogoya sebagai dalang di balik insiden tersebut.

Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom, seperti dihimpun dari laman CNNIndonesia.com pada Kamis (25/4/2019), membenarkan kabar sesuai laporan yang telah diterimanya. “Ya, benar. Kami sudah terima laporan,” ujar Sebby melalui pesan singkat, Rabu (24/4).

Adapun motif di balik pembakaran surat suara di Kabupaten Nduga di Distrik Meborok, Senin (22/4) oleh kelompok yang berada di dalam garis komando TPNPB tersebut disebut-sebut sebagai bentuk penolakan terhadap program pemerintah.

Sebby menambahkan, kelompoknya hanya ingin Papua merdeka dengan hak politiknya sendiri. “Menolak semua program pemerintah Indonesia dan menuntut hak politik bangsa Papua untuk mereka sendiri,” sebutnya.

Kelompok Kogoya juga dikabarkan berada di balik aksu penyerangan pasukan TNI di halaman Kantor Distrik Nirkuri, Nduga. Akibat serangan dadakan tersebut, dua prajurit TNI mengalami luka. Hal itu diakui Kapendam XVII Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi.

Baca Juga: BPN Pertanyakan Informasi Babinsa yang Tak Lagi Kawal Kotak Suara

Aidi mengatakan kedua prajuritnya sudah mendapatkan perawatan medis di RSUD Timika dan saat ini dalam keadaan stabil.

Tak hanya di Distrik Meborok. Sebelumnya video pembakaran surat suara di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, juga beredar luas. Usai dilakukan penyelidikan, polisi menyatakan surat suara yang dibakar adalah surat suara Pemilu 2019 yang dinyatakan tak lagi terpakai.

Kapolres Puncak Jaya AKBP Ari Purwanto mengungkapkan hal tersebut usai terlebih dahulu meminta konfirmasi dari Panitia Pemilu Daerah dan Panwas Distrik yang tengah berada di ibu kota kabupaten tersebut, di Mulia, untuk rekapitulasi surat suara.

“Kamu langsung cek ke Ketua PPD dan Panwas Distrik yang sedang berada di Mulia,” jelas Ari, Rabu (24/4). “Mereka mengakui memang betul video itu terjadi di Tingginambut. Namun mereka sampaikan bahwa yang dibakar oleh warga itu adalah dokumen-dokumen yang tidak diperlukan lagi,” imbuhnya.

“(Sementara) dokumen negara yang penting seperti rekapan, berita acara distrik, C1 plano, dan lainnya, semua sudah dibawa ke Mulia untuk rekapan rekapitulasi,” tutur Ari.

Menurutnya, terkait pembakaran surat suara dan juga kotak suara yang viral dan ramai diperbincangkan setelah beredar luas di media sosial itu merupakan bentuk ketidaktahuan masyarakat.

“Kami menduga warga tidak paham soal itu dan mereka membakarnya (kotak dan surat suara). Tetapi dokumen penting sudah diamankan atau dibawa oleh PPD dan Panwas Distrik untuk rekap suara di Mulia,” tutur Ari.

Satu suara, Dandim 1714/Puncak Jaya Letkol Inf Agus Sunaryo menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan terkait informasi atau video viral tersebut.

“Memang benar ada peristiwa itu, tapi dokumen pentingnya sudah ada di perangkat penyelenggara. Tadi saya bersama Pak Kapolres Puncak Jaya AKBP Ari Purwanto sudah cek langsung,” tegasnya.