Bikin Nangis, Inilah Pesan Terakhir Petugas KPPS Sebelum Meninggal


SURATKABAR.ID – Mimin Sumarni masih sangat mengingat pesan terakhir yang disampaikan Fery Yunus, suaminya, sebelum menghadap Sang Pencipta hanya berselang sehari usai bekerja sebagai petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 02 Menteng, Jakarta Pusat.

“Harus teliti, ini kan urusan negara. Ini urusan nasib rakyat ke depan,” ujar Mimin sembari menirukan kata-kata sang suami ketika terakhir kali berpesan kepada warga di TPS 02 Menteng ketika hari pencoblosan 17 April lalu, dikutip dari Okezone.com.

Wanita 47 tahun ini mengungkapkan, sebelum akhirnya tutup usia sang suami tak menunjukkan tanda-tanda sakit. Disebutkan Mimin, Yunus hanya punya keluhan sakit gigi. “Cuma dia ada sakit gigi. Sudah 45 tahun, pasti sakit gigi karena bolong,” jelasnya.

Yunus diketahui merupakan satu di antara 144 petugas KPPS yang meninggal dunia sejauh ini menurut data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hingga berita diturunkan, belum ada catatan medis mengenai hal yang menjadi penyebab kematian para petugas.

Selain banyaknya korban meninggal yang jatuh, dalam penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan kali ini terpantau sebanyak 883 petugas KPPS yang tersebar di 25 provinsi di Indonesia dilaporkan sakit sampai Rabu (24/4).

Baca Juga: Inilah Komentar Jokowi Terkait Puluhan Petugas KPPS yang Meninggal

Anggota KPU Evi Novida Ginting menjelaskan data kematian ini dikumpulkan dari laporan pihak penyelenggara pemilu tingkat KPU kabupaten dan kota. “Laporan dari kabupaten/kota menyampaikan ke provinsi. Dan provinsi menyampaikan kepada kita,” ujarnya.

Menurut informasi, Yunus diketahui menggantikan salah satu anggota KPPS yang tengah jatuh sakit pada hari H Pemilu 2019 tersebut. Yunus membantu sang istri, Mimin Sumarni yang memegang tanggung jawab sebagai Ketua KPPS.

Diketahui, proses penghitungan suara di TPS tempat Yunus bertugas baru rampung pada pukul 23.00 WIB. “Karena pas penghitungan sampai malam, mungkin kelelahannya di situ. Ada yang lihat dia pukul-pukul pinggang. Lelah,” ungkap Mimin.

Usai mengantar kotak suara ke kantor kecamatan, Yunus baru pulang ke rumah sekitar pukul 01.00 WIB. Ketika tiba di rumah, Yunus tak memperlihatkan tanda-tanda kondisi kesehatannya terganggu. Ia bahkan sempat bercanda dengan keluarganya.

“Sempat minta air teh hangat, ya sudah saya bawakan dua. Eh, kata dia, banyak banget. Ya, kan buat suamiku tercinta,” tutur Mimin menirukan apa yang ia katakan kepada sang suami saat mengenang masa-masa terakhir kebersamaannya dengan Yunus.

“Tapi jam 4 pagi membangunkan saya sambil bilang, kok sakit dada saya. Langsung bawa ke rumah sakit. Langsung ditangani, pasang rekam jantung. Dokter bilang hasilnya serangan jantung. Saya tidak sangka diambil hari itu,” ujar Mimin sembari menyeka air mata.