Buka-Bukaan! Bowo Mengaku Dapat Uang Rp 2 Miliar dari Menteri Perdagangan


SURATKABAR.ID – Bowo Sidik Pangarso yang merupakan anggota DPR mengakui dirinya mendapat uang Rp 2 miliar dalam pecahan dolar Singapura dari Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Buka-bukaan, Bowo mengatakan hal ini saat diperiksa penyidik komisi antikorupsi pada Selasa (09/04/2019) lalu.

Mengutip Tempo.co, Senin (22/04/2019), narasumber Tempo pada Jum’at (19/04/2019), menuturkan Bowo mengungkapkan hal tersebut sewaktu diperiksa penyidik komisi antikorupsi Selasa (09/04/2019).

Dalam pemeriksaan itu, Bowo menuturkan ceritanya bahwa uang itu kemudian menjadi bagian dari duit Rp 8 miliar yang dimasukan Bowo ke dalam 400 ribu amplop untuk serangan fajar.

Pemeriksaan pada 9 April itu merupakan kali pertama Bowo diperiksa sebagai tersangka kasus suap kerja sama pengangkutan pupuk antara PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia.

Bowo disangka menerima total Rp 1,2 miliar dari Manager Marketing PT HTK Asty Winasti untuk membantu perusahaan kapal itu memperoleh kontrak pengangkutan pupuk.

Baca juga: Bowo Blak-Blakan, Sebut Nusron Wahid Minta 400 Amplop untuk Serangan Fajar

Dugaan Terima Uang Tak Hanya dari Satu Sumber

Meski begitu, KPK menduga Bowo tak cuma menerima uang dari satu sumber lantaran lembaga anti-rasuah tersebut mendapatkan bukti telah terjadi penerimaan lain terkait jabatan BSP, selaku anggota DPR.

Berbekal bukti itu tim penindakan KPK pada 28 Maret 2019 bergerak ke kantor PT Inersia Tampak Engineer di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Di sana, KPK menyita 400 ribu amplop berisi pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu dengan jumlah Rp 8 miliar.

KPK menengarai Bowo akan membagikan uang itu saat hari pencoblosan untuk serangan fajar. Bowo ialah calon legislatif inkumben dari daerah pemilihan Jawa Tengah II.

Kepada penyidik saat diperiksa, Bowo uang Rp 2 Miliar itu diterima dari Enggartiasto agar dia mengamankan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi Melalui Pasar Lelang Komoditas, yang akan berlaku akhir Juni 2017.

Ketika itu Bowo merupakan pimpinan Komisi VI DPR yang salah satunya bermitra dengan Kementerian Perdagangan dan Badan Usaha Milik Negara.

Enggar diduga meminta Bowo mengamankan Permendag itu lantaran adanya penolakan dari sebagian besar anggota dewan dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung awal Juni 2017.

Anggapan Dewan, gula rafinasi yang masuk pengawasan pemerintah tak seharusnya dilelang secara bebas dalam kendali perusahaan swasta.

Bowo kepada penyidik menyebutkan pada masa istirahat RDP, Enggar menghampirinya lalu mengatakan bahwa nanti akan ada yang menghubunginya.

Beberapa minggu kemudian, orang kepercayaan Enggar menghubungi Bowo untuk mengajak bertemu di Hotel Mulia, Jakarta Selatan pada pertengahan Juni 2017. Saat itulah, Bowo menerima uang Rp 2 miliar dalam pecahan dolar Singapura tersebut.

Adapun Saut Edward Rajagukguk selaku pengacara Bowo mengatakan, kliennya kemudian menyimpan uang itu dalam tabungan untuk persiapan dana Pemilu 2019.

“Si menteri tidak mengetahui uang ini kemudian ditaruh ke dalam amplop,” paparnya.

Pengacara Belum Tahu Pengakuan Kliennya

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengaku belum mengetahui pengakuan Bowo tersebut.

“Saya cek dulu,” cetusnya.

Lebih lanjut, juru bicara KPK, Febri Diansyah mengungkapkan lembaganya telah mempunyai bukti sumber lain penerimaan Bowo, meski enggan merincinya.

“Masih didalami penyidik,” ujarnya.

Pada Kamis (18/04/2019), Menteri Enggartiasto Lukita menerima tim Majalah Tempo selama satu setengah jam di ruangannya di Kemendag. Menteri Enggartiasto Lukita menuturkan banyak hal, namun meminta agar seluruh penjelasannya tidak dikutip (off the record).