Wow! Inilah Larangan untuk Wanita di Era Kartini Masih Hidup


SURATKABAR.ID – Hari Kartini yang diperingati tanggal 21 April setiap tahunnya menjadi salahs atu bentuk perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Pada era Raden Ajeng Kartini yang dilahirkan pada tahun 1879, ada tradisi yang harus diikuti oleh semua wanita.

Mulai dari wanita dilarang menuntut ilmu hingga jenjang yang tinggi, harus tinggal di dalam rumah alias dipingit, hingga menikah di usia yang sangat muda. Sementara itu wanita yang hidup di belahan dunia lain memiliki hak untuk melakukan banyak hal.

Dilansir Tempo.co dari Japanese Center for Research on Woman in Sport, Minggu (21/4/2019), sejarah wanita dan olahraga dimulai sejak abad ke-19. Pada masa Kartini hidup ini, wanita, terutama kalagan atas dan bangsawan di luar negeri banyak yang bermain tenis, golf, ski, menunggang kuda hingga menekuni olahraga panahan.

Dalam foto-foto yang mengabadikan kegiatan olahraga kaum wanita di masa itu, tampak mereka tengah melakukan aktivitas fisik meski harus menggunakan pakaian yang sekarang dipandang ribet dan jauh dari kata praktis.

Para pemain tenis wanita kala itu, contohnya, harus mengenakan rok sepanjang mata kaki, blus lengan panjang. Bahkan ada juga yang mengenakan baju terusan panjang dan berlengan panjang. Ditambah lagi topi yang jika dipakai sekarang lebih cocok untuk piknik, bukan olahraga.

Baca Juga: Antara Kegalauan R.A. Kartini dan Kitab Tafsir Al-Qur’an Perdana di Tanah Jawa

Atlet-atlet wanita juga tercatat sudah turut berpartisipasi dalam Olimpiade ke-2 tahun 1990. Olimpiade modern pertama yang digelar di Athena, Yunani – tempat asal Olimpiade kuno – tahun 1896 hanya diikuti oleh para atlet putra Yunani.

Menurut Komite Olimpiade Internasional (IOC), dari total 1066 peserta yang mewakili 19 negara, tak lebih dari 12 atlet putri yang unjuk kebolehan di Olimpiade ke-2. Ke-12 atlet wanita itu turun di dua cabang, yakni golf dan tenis saja.

Awal abad ke-20 itu, cabang olahraga renang mulai digemari para wanita. Hingga pada Olimpiade ke-5 yang digelar di Stockholm, Swedia, tahun 1912, olahraga air tersebut pun akhirnya ikut dilombakan.

Dari cabang tenis, atlet putri sudah ikut bertanding sejak tahun 1884 di Wimbledon. Artinya baru setelah tujuh tahun sejak turnamen akbar tersebut digelar kali pertama, nomor untuk petenis putri ikut dipertandingkan. Peraih juara putri Wimbledon pertama adalah Maud Watson.

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), menurut The Sport Journal, hingga tahun 1870 para wanita berolahraga hanya untuk bersenang-senang bukan berkompetisi, seperti berkuda, berenang, dan olahraga dayung.

Baru pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, wanita mulai melangkah memasuki era kompetisi. Ini dibuktikan dengan dibentuknya banyak klub olahraga, seperti klub atletik. Tenis, panahan, dan bowling baru populer di kalangan perempuan setelahnya.

Lalu bagaimana di Indonesia? Pada era Karrini, olahraga sebenarnya sudah dilakukan kaum wanita, namun dari kalangan perempuan Belanda. Saat itu korfball merupakan salah satu permainan yang cukup populer.

Olahraga yang mirip bola basket ini diciptakan oleh Niko Broekhuijsen tahun 1902. Di laman sejarah ada sebuah foto, di mana diperlihatkan sekumpulan para wanita dan pria Belanda di tengah-tengah acara main tenis.