Prabowo Klaim Sebagai Pemenang, Masinton: Ini Kan Jadi Lucu-lucuan


SURATKABAR.ID – Politikus Indonesia dari PDI-P dan mantan aktivis yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Masinton Pasaribu, mengutarakan rasa herannya atas sikap capres 02 Prabowo Subianto yang telah mendeklarasikan diri sebagai presiden Indonesia. Sejauh ini capres 02 Prabowo telah menggelar tiga kali konferensi pers untuk mengklaim kemenangannya di Pilpres 2019. Menurut hasil hitung tim internal kubu 02, suara rakyat sudah 62 persen memenangkan Prabowo di pemilihan presiden tahun ini.

Menanggapi hal tersebut, Masinton Pasaribu mengatakan aksi Prabowo itu hanya untuk lucu-lucuan. Seperti dikutip dari laporan JPNN.com, Minggu (21/04/2019), Masinton Pasaribu menilai bahwa klaim kemenangan yang dilakukan Prabowo itu adalah wajar. Namun, yang tidak boleh adalah mengklaim sudah menjadi pilihan rakyat dan akan menjadi presiden berikutnya.

“Siapapun boleh (klaim kemenangan), tapi kalau menyatakan kamilah yang lebih pilihannya rakyat, kamilah yang akan dan sudah menjadi pilihan rakyat dan menjadi presiden selanjutnya, ini kan jadi lucu-lucuan,” kata Masinton di diskusi bertajuk ‘Pemilu Serentak Yang Menghentak’ di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/04/2019).

Lebih lanjut, Masinton meminta agar para kandidat tidak terlalu bereaksi dulu terhadap hasil hitung cepat atau quick count. Apalagi jika sampai menyebut hasilnya tidak valid hanya karena hasil yang dimunculkan tidak sesuai dengan harapan dan keinginannya.

“Para kandidat jangan reaksioner terhadap hasil quick count. Santai saja,” imbuh Masinton Pasaribu.

Baca juga: Mengejutkan! Prabowo Siap Akui Kekalahan di Pilpres 2019, Kalau….

Masinton menyebutkan, quick count hanyalah merupakan metode ilmiah untuk menyampaikan informasi ke rakyat. Sehingga hal itu haruslah tetap dihormati. Namun, hasil akhir pemilu sendiri bukan berdasarkan quick count, melainkan tergantung hasil hitung resmi KPU melalui tahapan berjenjang.

“Kita hormati metode ilmiah yang harus kita hormati bersama, tidak perlu kita tanggap, reaktif,” paparnya.

Ia juga menandaskan perlunya sikap adil dalam merespon hasil quick count dari sejumlah lembaga survei terpercaya Tanah Air.

“Tidak perlu kita tanggapi reaktif meskipun itu hasilnya berbeda. Sama kita jangan juga menggunakan standar ganda ketika kepentingannya ‘oke sama kita’, kita bilang ‘yes’. Ketika tidak oke dengan target kita, kita tolak. Ini kan nggak fair,” ungkap Masinton yang berada di kubu capres Joko Widodo, melansir Detik.com.

Di tempat sama, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Pipin Sopyan menyebutkan aksi deklarasi yang dilakukan Prabowo bukan tanpa alasan. Mantan Danjen Kopassus itu disebut mempunyai tim khusus yang sudah melakukan penghitungan mereka sendiri.

“Jadi tentu dasarnya Prabowo memiliki tim khusus untuk menghitung dari berbagai daerah. Dan dilihat memang ada perbedaan dengan data quick count,” ujar Pipin.

Pipin juga mempersoalkan metode quick count. Pasalnya metode yang digunakan hanya berdasarkan sample sekitar 2.000 TPS. Padahal jumlah TPS seluruh Indonesia lebih dari 800 ribu.

“Ini ironis, seolah semua selesai dengan quick count,” tukas Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga itu.

Sementara itu, Founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik (KedaiKOPI), Hendri B Satrio memastikan bahwa data quick count ialah data yang riil sesuai dengan hasil di TPS yang telah dipilih sebagai sample. Terlepas dari adanya kecurangan atau tidak, hal itu bukan terletak di dalam proses hitung cepat tersebut.

“Data quick count nggak pernah bohong, data quick count apa adanya,” beber Hendri memungkasi.