Mitos atau Fakta? Benarkah Kerokan Bisa Sembuhkan Masuk Angin?


SURATKABAR.ID – Di zaman yang serba modern seperti sekarang ini teknik pengobatan tradisional, seperti kerokan, masih dipercaya ampuh mengatasi gejala tidak enak badan. Kerokan memang biasa dipilih ketika tubuh terasa pegal-pegal, keluar keringat dingin, atau masuk angin.

Lalu, sebenarnya bagaimana kerokan berfungsi hingga dapat menghilangkan tanda-tanda masuk angin?

Pertama-tama yang perlu dipahami adalah masuk angin sering disalahartikan oleh beberapa masyarakat. Pasalnya, seperti yang dihimpun dari laman Jawapos.com pada Kamis (18/4/2019), gejala yang kerap disebut sebagai masuk angin bisa jadi merupakan gejala serangan jantung.

“Ketika serangan jantung prang sering menganggap masuk angin sehingga yang dilakukan kerokan,” terang Ahli Spesialis Penyakit Jantung Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), belum lama ini di sela konferensi pers bersama RS Columbia Asia.

Jika seperti itu, saat merasakan masuk angin apakah kita diperbolehkan kerokan?

Baca Juga: Mitos Bangun Tidur Langsung Berdiri Akibatkan Kematian Mendadak, Begini Penjelasan Ahli Jantung

Yoga menyebutkan jika tanda-tanda masuk angin seperti yang banyak dikeluhkan masyarakat, seperti mual hingga muntah, memang seperti gejala yang ditimbulkan oleh serangan jantung. Karena itu, jika rasa mual sampai muntah disertai nyeri pada dada, disarankan untuk segera ke rumah sakit.

Selain itu sangat tidak disarankan mengerok bagian tubuh. Pasalnya, diungkapkan Yoga, kerokan itu bisa melukai pembuluh darah pada tubuh. Apalagi saat orang tersebut mengonsumsi obat pengencer darah.

Padahal, sensasi melegakan yang dirasakan tubuh usai kerokan itu disebabkan oleh penggunaan balsam pereda nyeri ketika kerokan.

“Diberikan obat pengencer darah bisa menambah masalah. Jadi kalau masuk angin, nyeri dada, mual, muntah, jangan-jangan serangan jantung. Tak boleh dikerok, sebab jika dikasih pengencer darah bisa pendarahan,” jelasnya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk diketahui jika biasanya nyeri pada dada datang sebelum serangan jantung. Ketika serangan jantung terjadi secara total pada waktu-waktu awal, penderita bisa saja mengalami komplikasi gangguan irama. Hal ini bisa menyebabkan denyut jantung menjadi sangat cepat.

Kondisi tersebut sangat mungkin dialami penderita pada 24 jam pertama. Pada jam-jam pertama pembuluh darah pasien tersumbat. Hal ini yang menjadi penyebab seseorang meninggal mendadak. Keadaan ini, dalam terminology masyarakat awam, disebut juga sebagai serangan angin duduk.