Ryamizard Beri Komentar Nyelekit Soal Kritikan Gatot Nurmantyo Mengenai Anggaran TNI


SURATKABAR.ID – Ryamizard Ryacudu selaku Menteri Pertahanan RI memberi komentar nyelekit soal kritikan mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal (Purnawirawan) Gatot Nurmantyo mengenai anggaran TNI yang dikatakan kecil. Ryamizard menuturkan, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk TNI saat ini jauh lebih besar daripada sebelumnya.

“Sudahlah, Gatot. Anggaran kita sebelumnya di bawah Rp 50 triliun kan? Rp 60 triliun, Rp 50 triliun, sekarang sudah seratus lebih, Rp 108 triliun. Kurang apalagi?” tegasnya di Jalan Abdul Muis, Jakarta, Senin (15/04/2019). Demikian dilansir dari reportase Tempo.co, Selasa (16/04/2019.

Sebelumnya, Gatot mengkritisi anggaran TNI yang ia anggap terlalu kecil, bahkan kalah oleh Kepolisian Republik Indonesia. Mantan panglima TNI ini menyampaikan pandangannya itu saat menghadiri acara pidato kebangsaan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, di Surabaya, Jumat pekan lalu.

Menurut penilaian Ryamizard, anggaran untuk TNI saat ini sudah cukup. Ia menyebutkan, jika menambah anggaran itu sama saja dengan mengambil uang rakyat.

“Enggak mungkin. Kita ini tentara rakyat, rakyat dululah yang diutamakan,” tandasnya kemudian.

Baca juga: Gatot: Begitu Saya Turun Maka Semua yang Terbaik Dicabut

Ryamizard Ryacudu lantas membandingkan kondisi Indonesia dengan India. Ia menambahkan, anggaran militer di India jauh lebih besar tapi kesejahteraan rakyatnya kurang diperhatikan.

“Rakyat banyak yang miskin. Kalau kepanasan mati, kedinginan mati. Itu jangan sampai terjadi di sini, dong,” demikian ia menekankan.

Atas dasar itulah, ia mengimbuhkan, Indonesia tak bisa serta merta mengesampingkan kepentingan rakyat demi penguatan militer.

“(Pandangan) ‘Pokoknya alutsista bagus, rakyat terserah’, enggak bener itu, bukan tentara rakyat itu. Rakyat didahulukan,” tukas Ryamizard.

Ancaman Nyata dan Belum Nyata

Dia menambahkan, saat ini Indonesia masih jauh dari ancaman perang berskala besar. Sebaliknya, ancaman yang banyak terjadi saat ini, ujar Ryamizard, adalah bencana dan terorisme sehingga itulah yang harus lebih diprioritaskan.

“Situasi pertahanan ini kan saya bilang, ancaman yang nyata dan belum nyata, yang nyata ini kan banyak gempa, teroris. Yang belum nyata yang perang besar, itu kan jauh. Kita tentara rakyat berasal dari rakyat masak rakyat dinomorduakan, nggak nomor 1 rakyat,” tutur eks KSAD tersebut, mengutip Detik.com.

Sebelumnya, Gatot berbicara soal kondisi nasional. Ada suatu hal yang dianggapnya kritis, yaitu mengenai kekuatan TNI yang tak didukung pemerintah dari segi anggaran.

“Saat ini yang kritis adalah anggaran. Saya tidak menyalahkan siapa pun juga, tapi saya harus sampaikan karena saya mantan Panglima TNI, agar rakyat bersatu, jangan terpecah-pecah,” ujar Gatot di Surabaya, Jumat (12/04/2019).

Gatot lantas berbicara soal APBN Perubahan tahun 2017 sewaktu ia masih menjadi Panglima TNI. Ia menyebutkan, tambahan untuk TNI tidak sebanding dengan institusi pertahanan-keamanan lainnya.

“Saat saya menjabat Panglima TNI, saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi saya tidak berdaya. APBN-P, TNI yaitu Dephan, Mabes TNI, TNI AD, TNI AL, dan TNI AU jumlah personelnya lebih dari 455 ribu mempunyai ratusan pesawat tempur, punya ratusan kapal perang, ribuan tank, dan senjata berat. Anggarannya hanya Rp 6 T lebih. Sehingga Dephan dapat Rp 1 T, AD dapat Rp 1 T lebih, AU Rp 1 T lebih, AL dapat Rp 1 T lebih Mabes TNI dapat Rp 900 miliar,” beber Gatot.