Gatot: Begitu Saya Turun Maka Semua yang Terbaik Dicabut


SURATKABAR.ID – Tampak hadir dalam acara pidato kebangsaan Capres Prabowo Subianto di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/04/2019), Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo menyinggung soal sejumlah perwira tentara yang punya prestasi bagus namun dicopot tanpa jabatan di pemerintahan saat ini. Ia mengatakan, begitu dirinya turun maka semua personil yang terbaik malah dicabut. Hal ini diungkapkan Gatot dalam kesempatannya berpidato.

“Begitu saya turun maka semua yang terbaik dicabut, kepala badan intelijen strategis, Mayjen TNI Ilyas, dialah yang menyelesaikannya Poso, silakan diskusi dengan siapapun siapa yang menyelesaikan Poso. Tetapi dicopot sampai dengan sekarang tanpa jabatan,” tutur Gatot, seperti dilansir dari laporan Liputan6.com, Sabtu (13/04/2019).

“Termasuk direktur A Komandan satuan tugas intelijen yang membongkar senjata, sekarang dicopot tanpa jabatan, investasi sumber daya manusia di TNI itu adalah jabatan-jabatan tersebut,” ungkapnya kemudian.

Gatot lantas mengimbuhkan, ada Komandan Jenderal Kopassus dan salah satu pangdam yang dicopot tanpa jabatan. Serta Panglima divisi infanteri satu dan dua.

“Dan saya tidak salah menyebutkan orang-orang yang bermasalah menempati jabatan strategis,” tukas Gatot.

Baca juga: Gempar! Rocky Gerung Masuk Daftar Kandidat Menteri Kabinet Prabowo-Sandiaga

Di samping itu, Gatot juga menyinggung soal anggaran pertahanan TNI yang masih kecil. Padahal kebutuhan TNI besar sesuai dengan perangkat perangnya.

“Dari segi anggaran pada saat saya menjabat Panglima TNI, saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi saya tak berdaya,” sebut Gatot.

Gatot merincikan, anggaran TNI yang personelnya saat ini 455.000 ribu prajurit dari angkatan darat, laut, udara yang hanya mendapat anggaran 6 triliun.

“Ratusan pesawat terbang tempur, mempunyai ratusan kapal perang, ribuan tank dan senjata berat anggarannya hanya 6 triliun lebih sehingga departemen pertahanan dapat 1 triliun, angkatan darat 1 triliun lebih, AL 1 triliun lebih, angkatan udara 1 triliun lebih, dan mabes TNI 900 miliar,” paparnya.

Tapi, ungkap Gatot, ada institusi yang tak punya pesawat tempur, senjatanya pendek dicampur sedikit senjata panjang, dan jumlah personelnya tak sampai 3000 tapi diberi anggaran 4 triliun.

“Dan kepolisian Republik Indonesia 17 triliun, tidak ada yang salah semuanya benar, benar saja, tetapi ini adalah dari segi anggaran mengecilkan Tentara Nasional Indonesia,” tegas Gatot.

Efek Elektoral Gatot di 02

Seperti diketahui, nama mantan Panglima TNI Jenderal (Pur) Gatot Nurmantyo kembali jadi perbincangan setelah tadi malam muncul di pidato kebangsaan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto di Surabaya, Jawa Timur. Gatot jadi salah satu dari deretan tokoh yang dikenalkan Prabowo sebagai orang yang kelak akan membantunya jika terpilih menjadi presiden.

Perihal ini, Peneliti Populi Center Afrimadona melihat masuknya Gatot Nurmantyo di kubu Prabowo itu hanya akan berpengaruh pada pemilih mengambang yang potensial berganti haluan atau swing voters di internal saja.

“Sebenarnya nama Gatot cukup populer di kalangan pemilih Prabowo. Dia kan cukup dekat dengan kelompok muslim basis Prabowo. Jadi saya pikir ini hanya lebih menguatkan swing voters yang ada di kubu Prabowo,” ujar Afrimadona di kawasan Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu (13/0/2019), menukil Tempo.co.

Sedangkan, nama Gatot tak terlalu dikenal dekat dengan swing voters di kubu Jokowi-Ma’ruf Amin. Namun secara umum, sambung Afrimadona, tak akan ada perubahan peta politik secara signifikan. Karena dari berbagai survei yang dilakukan Populi Center, karakter basis pendukung kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden berbeda.

“Contohnya di kubu 02, kekuataan tokoh agama sangat berpengaruh,” ujar Afrimadona.

Tapi, di kalangan pendukung kubu 01, tokoh agama itu tak menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan.

Selama ini, Gatot Nurmantyo dikenal dekat dengan kelompok Islam. Banyak dari kelompok itu yang menginginkan Gatot berada di kubu 02. Namun saat ituĀ Gatot memilih untuk tak menyatakan pilihannya kepada siapa. Bahkan saat fotonya terpampang di baliho pos pemenangan Prabowo-Sandiaga di Solo, Gatot meminta baliho itu diturunkan. Gatot merasa tak pernah diajak bicara soal baliho tersebut.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.