Dulunya Sangat Benci Islam dan Berniat Mengebom, Mantan Tentara Ini Berakhir Jadi Mualaf. Begini Kisahnya


SURATKABAR.ID – Mantan sersan laut Amerika Serikat (AS) Richard McKinney secara resmi memeluk agama Islam. Padahal sebelumnya ia adalah sosok yang sangat keras membenci kaum Muslimin. Ia bahkan mencap orang Islam sebagai musuh terbesarnya.

Kebencian yang begitu dalam sampai-sampai membuatnya berharap agar semua pemeluk Islam mati. Tanpa terkecuali.

Selama berkiprah di dunia militer, ia sebenarnya menyatakan tidak membenci Islam. “Hanya saja banyak hal yang saya lihat adalah alasan mengapa saya merasakan hal yang saya lakukan di kemudian hari,” jelasnya seperti dilansir Republika.co.id dari Ilmfeed.com, Senin (8/4/2019).

Begitu masa tugasnya berakhir, McKinney kembali ke Tanah Airnya di AS. Ia berubah menjadi pemabuk dan kebenciannya terhadap Muslim justru semakin meningkat.

“Saya tidak berpikir dapat membenci umat Islam lebih jauh. Maksudnya, saya benar-benar memiliki kebencian sejati. Saya pikir dengan meledakkan masjid, akan melakukan hal baik untuk negara saya,” jelas mantan tentara AS tersebut.

Baca Juga: Subhanallah! Anak Artis Terkenal Ini Peluk Islam Gara-Gara Remote TV. Kisah Dibaliknya Bikin Trenyuh

Ia terang-terangan mengaku pernah berniat merakit bom sendiri kemudian menanamkannya di Islamic Center setempat. McKinney menginginkan bom buatannya bisa membantai setidaknya 200 orang Islam. Meski tahu akan ada hukuman mati menantinya jika aksi keji tersebut benar terlaksana, ia tak peduli.

Hingga pada akhirnya atas izin Allah SWT, hidayah justru menghampirinya. Rasa bencinya yang dalam malah berubah drastis ketika mengeluarkan komentar tentang kaum Muslimin di hadapan putrinya yang usianya masih kecil.

McKinney menyadari rencananya mengembom ratusan Muslim itu mungkin membuat sang putri tercintanya terperanjat. Terlebih lagi ketika ia memandang langsung ke kedua mata buah hatinya. Ia merasa bahwa putrinya meragukan rasa cintanya.

“Anak-anak tidak dilahirkan dengan prasangka, rasisme, atau kebencian. Tapi ketika orangtua memahami mereka, mereka mulai berbalik dan tumbuh untuk berpikir sama seperti kita,” jelas pria yang mengaku tak ingin putrinya memupuk kebencian kepada Islam seperti yang ia rasakan.

Oleh karena itu, McKinney pun berupaya keras mencari jalan keluar untuk mengatasi kebenciannya tersebut. Pria yang selama berada di militer sempat mengalami desensitisasi dalampembunuhan ini lalu mendatangi Islamic Center setempat.

Bukan untuk melancarkan aksinya dengan bom rakitan, McKinney justru mengajukan pertanyaan kepada para Muslim yang ada di sana. Ia kemudian mendapat Al-Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggris. Jika sudah membacanya, ia diperkenankan kembali bertanya.

“Sejak hari pertama sata berjalan ke pintu itu, tidak ada sedikit pun yang menyakiti sata. Mereka memperlakukan saya dengan cintam bahkan sebelum saya menjadi Muslim. Mereka sangat terbuka, ramah, dan menganggap saya seperti saudara,” ungkapnya.

McKinney lalu mulai menghabiskan waktunya berjam-jam berada di dalam Masjid. Delapan pekan berlalu dan ia mengambil keputusan penting dalam hidup, yakni dengan mengucapkan kalimat syahadat dan menjadi mualaf.

Kini ia mendorong semua orang untuk mempelajari agama Islam dan tentang Muslim. “Saya sudah melakukan banyak hal. Saya sudah menyakiti banyak orang. Saya harus hidup dengan itu, namun bila saya dapat menghentikan orang lain di jalan permusuhan, saya ingin melakukannya,” tandasnya tegas.