Ada di Zona Merah, Rupiah Jadi Terlemah Ketiga di Asia


SURATKABAR.ID – Bukannya menguat, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Senin (8/4), terpantau terus melempem di perdagangan pasar spot. Sejak pembukaan pasar, pelemahan rupiah tercatat semakin dalam.

Pada Senin (8/4), pukul 09.00 WIB, seperti yang dilansir dari laman CNBIndonesia.com, untuk US$ 1 dipasang dengan harga Rp 14.145. Jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu, rupiah tercatat melemah sebesar 0,18 persen.

Saat pembukaan pasar, rupiah sudah melemah sebanyak 0,07 persen. Dan seiring perjalanan, depresasi rupiah pun semakin dalam. Pada Senin pagi pukul 09.18 WIB, per dolar AS sama dengan Rp 14.150. Dengan begini rupiah melemah 0,21 persen.

Pelemahan terhadap rupiah yang terjadi hari ini masih terasa wajar. Pasalnya rupiah memang telah terapresiasi selama 5 hari perdagangan berturut-turut. Hal ini menyebabkan rupiah berisiko terserang koreksi teknikal, lantaran pihak investor tergoda mencairkan laba yang telah dikantongi.

Tak hanya rupiah. Pelemahan juga dialami berbagai mata uang utama Asia yang terdepresiasi dengan dolar AS. Hanya yuan China dan yen Jepang saja yang hingga kini masih sanggup bertahan di dalam zona hijau.

Baca Juga: Soal Melemahnya Rupiah, Sandiaga Sebut Karena Pemerintah Kurang Tegas

Karena pelemahan tersebut, rupiah kini mencatatkan diri sebagai salah satu mata uang terlemah di Benua Kuning. Posisi juru kunci direbut oleh rupee India, kemudian disusul peso Filipina, serta rupiah yang berada di peringkat ketiga paling buncit.

Apa Penyebab Makin Lesunya Rupiah?

Rupanya perkembangan harga minyak turut menjadi faktor yang menekan rupiah belakangan ini. Senin pagi, pukul 09.11 WIB, harga minyak jenis brent dan light sweet mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,54 persen dan 0,59 persen.

Indonesia yang merupakan negara net importer minyak, tentu tak bisa tidak mengimpor jika ingin memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ketika harga minyak naik, maka otomatis biaya impor pun ikut membengkak sehingga menjadi beban transaksi berjalan (current account).

Padahal seperti yang diketahui, current account merupakan pondasi paling vital yang menyokong nilai tukar. Pasalnya transaksi berjalan mencerminkan aliran devisa dari ekspor-impor barang dan jasa, yang mana lebih berjangka panjang dibandingkan dengan pasokan valas dari portofolio pada sektor keuangan alias hot money.

Oleh karena itu, rupiah bakalan rentan terdepresiasi ketika defisit transaksi semakin melebar. Kenaikan yang dialami harga minyak tentu akan menjadi sentiment negatif bagi rupiah.

Selain itu, posisi dolar AS sendiri secara umum memang sedang perkasa. Dolar AS dialiri kekuatan dari data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam yang dirilis pada akhir pekan lalu.

Pada Maret, sebanyak 196.000 lapangan pekerjaan berhasil diciptakan perekonomian AS. Angka tersebut jauh lebih baik dibanding konsensus pasar yang dihimpun Reuters, yakni hanya 180.000 dan ketimbang posisi Februari, di mana hanya 33.000 (direvisi dari sebelumnya 20.000).

Sementara angka pengangguran tercatat sebanyak 3,8 persen pada Maret. Angka ini tidak mengalami perubahan dibanding bulan sebelumnya dan masih menjadi yang paling rendah sejak bulan November 2018.

Dalam plot terbarunya, The Federal Reserve/The Fed, memang telah memprediksi tidak ada kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Akan tetapi yang perlu dicatat adalah Jerome ‘Jay’ Powell dan kolega juga menyatakan tetap menanti data-data ekonomi paling anyar sembari menentukan langkah berikut.

“Untuk menentukan waktu dan besaran penyesuaian suku bunga acuan selanjutnya, Komite akan mengkaji realisasi dan perkiraan kondisi ekonomi dalam rangka mencapai target pembukaan lapangan kerja yang maksimum dan target inflasi 2 persen,” bunyi pernyataan tertulis usai rapat komite pengambil kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) bulan sebelumnya.

Dengan data ketenagakerjaan, ditambah tingginya angka penciptaan lapangan pekerjaan, membuktikan ekonomi negara adidaya tersebut masih berada dalam fase ekspansi. Apabila The Fed merasa ekspansi tersebut terlalu cepat hingga berpotensi menimbulkan overheating, bukan tidak mungkin Federa; Funds Rate akan dinaikkan kembali.

Meski besar kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, namun potensi kenaikan suku bunga acuan bakal menjadi dorongan bagi laju dolar AS. Pasalnya kenaikan suku bunga acuan akan membuat menanamkan investasi di dolar AS makin menarik, terutama untuk instrument berpendapatan tetap.