Novel Baswedan: Kalau Tidak Mampu Mengungkap, Copot Saja Kapolri


SURATKABAR.ID Teror terhadap salah satu penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan akan genap dua tahun pada 11 April 2019 nanti. Sampai dengan saat ini, polisi belum juga bisa mengungkap pelaku serta dalang dibalik aksi penyiraman air keras tersebut.

Peringatan itu sendiri berdekatan dengan Pemilu dan Pilpres, sehingga sangat banyak yang menilai jika hal tersebut akan dipolitisasi. Namun Novel menganggap jika hal tersebut sangat tepat lantaran dapa masa kampanye para calon akan memberikan janji. Novel berharap ada yang mau berjanji untuk menuntaskan kasusnya.

Ketika Novel ditanya mengenai respon pimpinan KPK terhadap kasusnya, ia mengatakan jika mereka juga mendapat ancaman.

“Pimpinan juga berupaya. Tapi pimpinan kan diancam. Apakah pimpinan enggak diancam? Diancam,” jelas Novel ditemui di pusat perbelanjaan, di Jakarta Selatan pada Sabtu, (6/4/2019), dikutip dari tempo.co.

Baca Juga: Dianggap Hanya Diperalat Oleh Petahana, Ma’ruf Amin: Memangnya Saya Pacul?

Tetapi Novel tak bersedia mengungkap perihal siapa yang mengancam. “Saya tidak pada posisi untuk membuka itu di sini. Tanya saja ke pimpinan. Kalau dia jujur, dia akan bilang diancam,” jelasnya.

Ia juga mengaku masih sering mendapat ancaman setelah sering membicarakan kasus ini di ruang publik.

Novel menilai tim gabungan yang dibentuk untuk menangani kasusnya memiliki banyak kekurangan. “Poin pertama yang harus ditanyakan itu, kamu bisa bekerja dengan bebas apa enggak. Ketika masalah itu menjadi masalah utama, saya kira tidak perlu kita tanyakan lagi soal rekam jejak pekerjaannya. Tapi, sulit menaruh harapan pada orang yang tidak merdeka dan tidak independen,” kata Novel.

Mengenai adanya tuduhan mengenai peringatan dua tahun teror yang menimpanya akan dipolitisasi karena dekat dengan Pemilu, Novel berdalih bahwa dirinya merasa ini memontum yang tepat.

“Saya sadar betul sekarang akan ada Pemilu. Buat saya, justru ini kesempatan bagus. Kenapa? Kalau di masa pemilu atau kampanye, biasanya calon itu berjanji dan menunjukan komitmen yang sungguh-sungguh. Bagi saya ini momentum yang tepat untuk mempertanyakan kasus saya,” jelasnya.

“Kalau ada orang yang menarik kasus ini ke isu politik, menurut saya kesalahan ada pada presiden. Kalau presiden membentuk TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), kasus ini enggak akan dibawa ke mana-mana,” lanjutnya.

“Saya pikir Pak Jokowi tidak perlu menghindar untuk menjawab ini. Kalau seumpama Pak Jokowi memberi waktu pada Kapolri, ‘Pak Kapolri, Anda saya kasih waktu satu bulan, enggak bisa ungkap, Anda saya copot,’ saya mengharapkan janji seperti itu. Ini masa yang bagus bagi presiden untuk berjanji. Saya juga mengharapkan janji seperti itu untuk memaksa penegak hukum mau bekerja. Jangan sembunyi pada kepura-puraan,” sambungnya.

Novel mengungkapkan kekecewaanya mengenai kedua capres yang tidak pernah berani memberikan janji terhadap kasus yang menimpanya.

“Tidak ada, tapi kalau kawan dan kolega saya yang berpihak pada masing-masing capres ada yang bercerita kepada saya. Kata dia, beliau (capres) pasti akan bersikap. Dari masing-masing capres ada bicara seperti itu. Tapi kalau hal itu dibicarakan bukan di forum publik, saya kira itu bukan janji yang bisa ditagih,” terang Novel.

Novel menginginkan presiden berbicara secara konkrit, tidak sesuatu yang mengawang-awang. “Ini masa kampanye, calon presiden biasanya berjanji. Saya kira, bagaimana kalau presiden memberikan waktu kepada Kapolri selama sebulan. Kalau tidak mampu mengungkap, copot saja Kapolri. Saya kira itu bagus. Presiden jangan cuma bicara hal-hal yang mengawang-awang, tapi bicara konkret. Kalau tidak berani berjanji, apakah saya dan orang-orang akan percaya? Tidak mungkin. Berjanji saja tidak berani, apalagi berbuat,” tutup Novel.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaWow! Ternyata Ini Dampak Mengejutkan dari Rutin Makan Walnut
Berita berikutnyaPrabowo Akan Beri Pensiun ke Koruptor? ICW Tanggapi Begini