Kisah Prabowo yang Sarankan Soeharto Mundur dari Jabatan Presiden


    SURATKABAR.ID – Prabowo Subianto yang merupakan calon presiden nomor urut 02 mengklaim dirinya pernah menyarankan Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden saat memimpin negara RI. Seperti diketahui, selama 32 tahun Soeharto bersama rezim Orde Baru menduduki pemerintahan. Hal ini diungkapkan Prabowo dalam pidatonya saat menghadiri acara Silaturahmi Gerakan Elaborasi Rektor, Akademisi Alumni dan Aktivis Kampus Indonesia pada Jumat malam (05/04/2019).

    Menukil reportase Tempo.co, Sabtu (06/04/2019), Prabowo menyebutkan usul itu ia sampaikan sebagai upaya untuk ikut mengoreksi rezim Orde Baru dari dalam. Bahkan meski pun pucuk pimpinan rezim tersebut ialah bapak mertuanya sendiri.

    “Waktu itu saya ikut menyarankan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri,” tandas Prabowo Jumat malam (05/04/2019), di Balai Kartini, Jakarta Selatan.

    Awalnya Prabowo berbicara mengenai apa masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Berdasarkan analisanya, ia menemukan bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia adalah mengalirnya kekayaan bangsa ke luar negeri. Sebagai imbas, rakyat RI jadi tidak bisa menikmati apa yang menjadi kekayaan bangsanya sendiri.

    Menurut Prabowo, permasalahan ini terjadi karena para elite telah gagal mengelola kekayaan Ibu Pertiwi. Ketua Umum Gerindra ini pun bahkan mengaku bahwa dirinya sempat menjadi bagian dari elite tersebut.

    Baca juga: Ketika Jokowi Rela Kehujanan Demi Menyapa Pendukungnya di Jawa Tengah

    Namun, imbuh Prabowo, tiba pada saatnya ketika dia diharuskan mengambil keputusan siapa yang akan lebih dibelanya. Apakah keluarga, atau bangsa, negara, dan rakyat Indonesia.

    “Bukan karena saya tidak loyal sama Pak Harto, justru karena saya loyal sama Pak Soeharto. Justru karena saya cinta sama Pak Harto,” tambahnya kemudian.

    Prabowo lantas mengibaratkan, karena cinta kepada Soeharto itulah ia menilai sudah saatnya presiden kedua RI tersebut beristirahat. Prabowo menambahkan, tampuk kepemimpinan sudah waktunya diberikan kepada generasi berikutnya yang lebih muda.

    “Ibarat kalau kita cinta sama orang tua dan kita lihat orang tua memang dalam keadaan yang sulit, mungkin dari segi kapasitas fisik, kapasitas usia, sudah saatnya orang tua kita istirahat,” tukas mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus tersebut memaparkan.

    Dukung Reformasi 1998

    Sebagaimana diketahui, gelombang reformasi yang menghendaki berakhirnya kekuasaan Orde Baru dan Soeharto memuncak di tahun 1998. Prabowo mengaku dirinya dan kawan-kawannya saat itu juga ikut mendukung gerakan tersebut.

    “Dengan kawan-kawan kami melancarkan, kami mendukung gerakan reformasi waktu itu, walaupun pemimpin rezim yang berkuasa pada saat itu adalah mertua saya sendiri,” demikian sebagaimana dikisahkan oleh mantan suami dari Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto tersebut.

    Sebelumnya, dalam buku “Kasad dari Piyungan”, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Subagyo HS mengungkapkan karir militer Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Letnan Jenderal Prabowo Subianto sekitar Mei 1998.

    Pada 22 Mei 1998, di buku itu Jenderal Subagyo menerima perintah dari Panglima ABRI Jenderal Wiranto untuk mencopot Pangkostrad di hari itu juga.

    Prabowo menerima perintah itu dengan syarat jabatan Pangkostrad diserahkan kepada KASAD dan bukan kepada penggantinya. Hari itu tongkat komando lalu diserahkan ke Subagyo.

    Adapun dalam Majalah Tempo edisi 28 Oktober 2013, Dewan Kehormatan Perwira (DKP) bentukan Wiranto merekomendasikan pemberhentian Prabowo dari dinas keprajuritan. DKP memberhentikannya sebagai Pangkostrad atas perannya dalam kasus penculikan belasan aktivis pro demokrasi pada 1997-1998.

    Di Majalah Tempo edisi 29 Desember 1998, setelah Mei 1998 Prabowo terbang ke Amman, Yordania.

    Dalam catatan koran News Strait dan AP News, Prabowo dikabarkan mendapat tawaran status kewarganegaraan dari Pangeran Abdullah II. Namun tawaran ini ia tolak. Pangeran Abdullah II yang kemudian pada 1999 menjadi Raja Yordania diketahui merupakan sohib Prabowo di sekolah militer. Prabowo lantas kembali ke Tanah Air pada November 2001.

    [wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]