Wanita Medan dan Suaminya Hilang di Malaysia Sejak 2017, Belum Ada Kejelasan Hingga Kini


SURATKABAR.ID – Seorang wanita asal Medan yang hilang di Malaysia sejak 2017, hingga saat ini masih belum ada kejelasan. Adalah Rudangta ‘Ruth’ Sitepu, seorang warga Indonesia yang bermukim di Malaysia bersama suaminya. Dilaporkan hilang sejak Maret 2017, kasusnya hingga kini masih juga belum menemukan titik terang.

Berdasarkan laporan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (27/03/2019), Ruth dilaporkan hilang bersama suaminya yang merupakan warga Malaysia, Joshua Hilmy. Keduanya diketahui bermukim di Petaling Jaya, Selangor.

Pasangan tersebut diketahui menikah dengan adat Batak pada 2006. Ruth lantas dibawa suaminya yang merupakan seorang pendeta ke Malaysia setahun kemudian. Pada tahun 2009, Ruth kembali ke Medan, Sumatera Utara lantaran ayahnya wafat. Setelah itu dia kembali ke Malaysia.

Selama itu pulalah keluarga Ruth hanya berkomunikasi dan bertukar kabar melalui telepon dan media sosial Facebook Messenger. Namun, sejak November 2016 Ruth sudah tidak pernah lagi membalas pesan-pesan dari keluarga.

Memasuki Maret 2017, seorang kerabat di Malaysia mengabarkan kepada keluarga di Medan terkait adanya laporan bahwa Ruth dan Joshua hilang. Yang membuat laporan tersebut adalah tuan rumah tempat Ruth dan Joshua bermukim.

Baca juga: Gara-Gara Punya ‘Rudal’ Kelewat Besar, Pria Ini Dilaporkan Polisi Oleh Mertuanya

Akan tetapi, laporan itu ditolak Kepolisian Malaysia dengan alasan yang mengadu bukan keluarga. Polisi beralasan penyelidikan mereka mentok lantaran tak ada data yang jelas mengenai Ruth dan suaminya.

Di sisi lain, ada dua orang pemuka agama yang juga dilaporkan hilang tak berselang lama setelahnya. Mereka diketahui bernama Raymond Koh yang merupakan pemuka agama Kristen. Ia dilaporkan hilang pada Februari 2017. Yang kedua ialah Amri Che Mat yang merupakan tokoh Syiah pada November 2017.

Kemudian pada Februari 2018, keluarga Ruth di Medan berangkat ke Malaysia untuk membuat laporan. Mereka lantas melapor ke KontraS pada 26 Juni 2018.

KontraS dan kuasa hukum keluarga Ruth dari firma hukum Lubis, Santosa dan Maramis (LSM) melaporkan kejadian ini kepada Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia-Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, serta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Hal ini dilakukan pada Oktober 2018.

Sejauh ini, awak media telah berusaha mengontak Direktur PWNI-BHI, Lalu Muhammad Iqbal, untuk meminta konfirmasi mengenai masalah ini. Namun, pihaknya hingga kini masih belum memberikan pernyataan apapun.