Selamatkan 22 Wisatawan Asing Saat Longsor di Lombok Utara, Bocah Disabilitas Ini Jadi Sorotan


SURATKABAR.ID – Publik tengah menyoroti aksi heroik seorang bocah 12 tahun bernama Taufik, yang menyelamatkan 22 orang wisatawan asal Malaysia ketika bencana longsor akibat gempa berkekuatan 5,8 SR melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu (17/3) lalu.

Bencana longsor tersebut, dihimpun dari laman Grid.ID, Selasa (26/3/2019), menggempur kawasan wisata air terjun Tiu Kelep, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB. Diketahui, Taufik berhasil mengevakuasi para wisatawan asing tersebut untuk keluar dari lokasi bencana.

Meski masih terbilang sangat belia, namun hal tersebut tak menghalangi Taufik untuk menjalani profesi sebagai pemandu wisata alias guide cilik di Tiu Kelep. Keadaan ekonomi keluarga mengharuskan bocah penyandang tunarungu ini menjadi tulang punggung keluarga.

Tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana bersama nenek, yang sudah berusia 60 tahun dan ketiga sepupunya, Taufik sekeluarga hidup dalam kondisi yang jauh dari kata nyaman. Segalanya serba terbatas dan kekurangan.

Ia baru menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB), Sabtu (23/3) sore. Setelah itu Taufik diantar dengan ambulans menuju rumahnya di Desa Senaru. Selama berbincang dengan kru dan jurnalis yang ikut ke rumahnya, Taufik menggunakan bahasa isyarat dipandu saudara sepupunya.

Baca Juga: Sosok Inspiratif, Begini Perjuangan Difabel Ini Jadi Driverl Ojek Online Meski Duduk di Kursi Roda

Adalah Renawadi, saudara sepupu Taufik, atau kakak dari Tomi Albayani (14)-salah satu sepupu yang kehilangan nyawa lantaran tertimpa batu besar dalam peristiwa longsor di Tiu Kelep-yang bertugas menjadi pemandu tim jurnalis untuk berkomunikasi dengan sosok inspiratif tersebut.

Ketika ditemui tim jurnalis, Taufik terlihat sangat sumringah. Membawa lima buah durian, ia mengaku ingin segera sampai di rumah. Sesekali ia menyesalkan kondisi cuaca yang tak kunjung cerah karena hujan masih terus turun.

Menurut Renawadi, Taufik merupakan sosok yang suka berbagi, tak peduli kepada siapa pun. “Tadi dia beli (durian) sebelum tiba di Bayan. Dia suka berbagi. Semua orang mau dia kasih apa yang dia suka dan makan. Perhatian orangnya,” ungkap Renawadi.

Begitu turun dari ambulans yang membawanya dari RSUP ke kediamannya, Taufik bergegas menemui sang nenek, Siranim. Ia kemudian membuka durian kesukaannya bersama dengan teman-teman sebaya yang saat itu sudah ramai berkumpul.

Durian yang disantap Taufik memang tidak banyak, namun ia tetap memanggil siapa saja yang melintas untuk ikut mencicipi rajanya buah yang ia bawa tersebut. Kebiasaan Taufik berbagi dengan orang lain ini membuatnya sangat disukai warga dan kawan-kawan.

Taufik dikenal sebagai bocah yang hobi berbagi tentang apa saja kepada orang lain meski menggunakan bahasa isyarat. Namun demikian, semua orang di kampungnya dapat memahami serta mengerti apa yang disampaikan bocah tersebut tanpa kata.

“Kita harus membahasakan dengan bahasa isyarat, apa pun itu. Taufik sama sekali tidak bisa mendengar. Dia lahir tanpa daun telinga, itu yang menyebabkan dia tak mendengar apa pun, dan jadi tidak bisa bicara,” tutur Renawadi.