Nekat Lakukan Prosedur Sunat pada Kedua Putrinya, Wanita Ini Divonis Penjara


SURATKABAR.ID – Akibat nekat menyunat kedua orang putrinya, seorang Ibu harus mendekam di penjara. Wanita yang membawa dua putrinya ke Afrika untuk mutilasi alat kelamin perempuan ini telah dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Ibu ini pun menjadi orang pertama di Queensland, Australia, yang dipenjara akibat kejahatan tersebut.

Seperti ditukil dari laporan Republika.co.id, Jumat (22/03/2019), pada Pengadilan Distrik di Brisbane terungkap bahwa kedua gadis yang berusia 10 dan 13 tahun itu tidak diberi tahu sebelumnya bahwa mereka akan menjalani prosedur itu. Mereka hanya langsung dibawa untuk melakukan perjalanan ke Somalia dengan ibu mereka pada April 2015 lalu.

Bulan lalu, juri memutuskan bahwa ibu wanita itu (yang tak bisa disebutkan namanya) karena alasan hukum, telah bersalah atas dua tuduhan membawa keluar seorang anak dari negara bagian Queensland untuk mutilasi alat kelamin perempuan (FGM). Dia harus menjalani hukuman delapan bulan sebelum hukuman penjara empat tahun tersebut ditangguhkan.

Dalam hukumannya, Hakim Leanne Clare menuturkan FGM (Female Genital Mutilation) melibatkan “jenis kekerasan tertentu – tidak lahir dari kemarahan atau agresi, tetapi komitmen terhadap tradisi”. Ia menuturkan wanita itu menempuh langkah-langkah untuk menghindari jangkauan hukum Queensland.

“Dia sengaja membawa keluar kedua gadis itu dari negara yang akan melindungi mereka,” ujar Hakim Clare.

Baca juga: Manfaat Jamur Bagi Kesehatan Pria, Nomer 5 Mengejutkan

“Dia melakukan perjalanan itu dengan maksud mutilasi. Seorang ibu yang menempatkan putrinya pada tindakan itu benar-benar mengkhianati posisinya sebagai orang terpercaya.”

Kemudian, terungkaplah di pengadilan bahwa kedua gadis itu tinggal di rumah nenek mereka di Somalia sewaktu “seseorang diatur” untuk melakukan prosedur sunat pada mereka.

Menurut Jaksa penuntut utama Dejana Kovac, hal itu membuat kedua gadis itu pendarahan selama sehari dan kesakitan hingga tiga hari.

“[Salah satu dari gadis itu mengatakan] ibunya ada di sana. Dia tidak dibius, sepenuhnya terjaga dan merasa sakit,” tukasnya.

Hukuman maksimum untuk tuntutan mutilasi alat kelamin wanita di Queensland adalah 14 tahun penjara.

Kemungkinan ‘konsekuensi psikologis’ untuk anak perempuan

Diungkapkan Kovac, pada tahun 2008, ibu tersebut (yang menjalani prosedur serupa pada masa kanak-kanaknya) menyebutkan kepada petugas keselamatan anak bahwa dia tahu FGM ilegal di Australia dan tak berencana untuk mengirim putrinya ke Afrika untuk menjalaninya.

Bukti medis menunjukkan tidak ada jaringan parut permanen pada kedua gadis itu, tetapi “konsekuensi psikologis” yang terus-menerus mungkin terjadi, imbuh Kovac di pengadilan.

Sementara itu, pembela Patrick Wilson mengimbuhkan bahwa kliennya, ibu dari kedua anak perempuannya yang saat ini sedang menjalani kemoterapi itu didukung oleh anak-anaknya.

“[Mereka] berada di sisinya,” sebutnya.

Hakim Clare membenarkan bahwa itu akan menjadi vonis pertama di Queensland, dan mengatakan hanya dua kasus lain yang pernah diajukan ke pengadilan Australia, keduanya di New South Wales.

FGM Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), FGM (Female Genital Mutilation) melibatkan “penghapusan sebagian atau total organ genital eksternal perempuan, atau cedera lain pada organ genital wanita … karena alasan non-medis”.

Sebuah laporan Lembaga Kesehatan dan Kesejahteraan Australia, yang dirilis pada bulan Februari mengungkapkan PBB memperkirakan setidaknya 200 juta anak perempuan dan wanita telah menjalani prosedur ini, dengan 53 ribu di antaranya diperkirakan tinggal di Australia.