Bukti-bukti Keganasan Terorisme Kulit Putih


SURATKABAR.ID – Sejak kurang lebih 10 tahun lalu, pelaku aksi-aksi terorisme di Amerika Serikat didominasi oleh warga asli kulit putih; bukan muslim apalagi pendatang. Dan kemarin, Fraser Anning selaku Senator Australia yang kontroversial mengeluarkan pernyataan yang membuatnya dikecam banyak pihak. Soal aksi teror di dua masjid di Selandia Baru, Fraser Anning menuding jika aksi brutal itu ialah bentuk dari ketakutan yang meningkat lantaran banyaknya imigran muslim yang masuk ke negaranya.

Melansir dari ulasan Detik.com, Sabtu (16/03/2019), tak lama setelah penembakan brutal di 2 masjid di kota Christchurch, Anning yang mewakili negara bagian Queensland di Senat Australia itu melontarkan tanggapan lewat Twitter.

“Apakah ada yang masih membantah hubungan antara imigrasi Muslim dan kekerasan?” ungkapnya dalam salah satu cuitan tersebut.

Menurutnya, aksi teror yang menewaskan sedikitnya 49 orang itu merupakan akibat dari banyaknya imigran yang masuk ke Selandia Baru.

Bandingkan dengan Negeri Paman Sam. Mengutip Tirto.ID, saat Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang telah direvisi untuk melarang orang-orang dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim masuk ke Amerika Serikat. Trump mengklaim kebijakan itu dikeluarkannya untuk melindungi rakyat dari “teroris Islam radikal”.

Baca juga: Aksi Teror di Masjid Selandia Baru, Senator Australia Salahkan Imigran Muslim

Namun, sejak ia berkantor di Gedung Putih, warga AS justru lebih banyak dibunuh oleh teroris kulit putih — jajaran teroris yang tak ada hubungannya dengan Islam atau imigran Timur Tengah.

Mari mengilas balik. Pada Senin (02/10/2017) dini hari waktu AS, Steven Paddock (64), warga asal Nevada, menembaki 22.000 penonton konser di Las Vegas Strip dari kamarnya di lantai 32 Mandala Bay Resort dan Casino dengan menggunakan beberapa senjata otomatis laras panjang. Sedikitnya, 59 orang tewas dan 527 lainnya luka ringan hingga luka berat.

Pertunjukan terakhir festival musik country Route 91 yang digelar tiga hari sebelumnya berjalan lancar hingga Paddock menyerang. Ribuan orang yang tengah menikmati pertunjukan oleh penyanyi top Jason Aldean itu bergegas mencari perlindungan. Mereka lari atau menelungkupkan diri ke tanah. Mereka bergegas keluar arena konser dan membantu orang lain untuk melarikan diri saat Paddock memberondong lokasi itu dari tempat yang lebih tinggi.

Insiden ini menjadi tragedi penembakan massal terburuk dalam sejarah Amerika. Paddock lalu b***h diri saat polisi menyerbu ruangannya dan menemukan 10 pucuk senjata. Hingga waktu berlalu, pihak berwenang masih menyelidiki apa sebenarnya motif pelaku. Namun Agen FBI, Aaron Rouse memastikan sejauh ini tindakan Paddock tak ada kaitannya dengan organisasi teroris internasional.

Labelisasi Teroris

Paddcok sendiri adalah orang berkulit putih. Dan media serta otoritas setempat tak menyebutnya sebagai “teroris” meski jelas-jelas ia telah melakukan tindakan teror.

Netizen sedunia pun marah. Sebab pemberian label oleh media dan pejabat setempat dianggap bias. Paddock disebut “pelaku yang barangkali punya gangguan jiwa”, “kriminal lone wolf”, dan lain sebagainya. Sedangkan jika pelakunya non-kulit putih plus orang Muslim, maka media akan segera melabelisasi dengan istilah “teroris”.

Kasus ini otomatis membuka kembali ingatan publik atas beragam aksi terorisme serupa yang terjadi beberapa tahun belakangan di mana pelakunya ialah warga AS kulit putih. Militan yang terhubung dengan ISIS memang telah meneror warga Inggris, Perancis, hingga Kanada.

Namun di AS, berkebalikan dengan omongan Trump. Teror justru berasal dari pihak-pihak yang tak ada hubungannya dengan agama secara umum, atau Islam secara khusus, dan juga bukan dari kalangan imigran.

Pada Agustus 2017 lalu, James Alex Fields Jr (20), seorang pengikut gerakan Alt-Right atau supremasi kulit putih dari organisasi Vanguard America, menabrakkan mobil Dodge Challenger-nya ke tengah ratusan massa aksi anti-rasis dan anti-fasis di Kota Charlottesville, Virginia. Insiden rusuh tersebut menyebabkan 3 orang tewas dan 35 orang luka-luka. Fields diamankan kepolisian dan didakwa dengan pembunuhan tingkat satu.

Mundur lagi ke bulan Maret 2017, pria kulit putih berusia 28 tahun bernama James Jackson melakukan perjalanan dari Baltimore ke Kota New York dengan niat membunuh orang kulit hitam sebanyak-banyaknya dengan modal sebilah pisau. Ia lantas menemukan korbannya: Timothy Caughman (66) yang kebetulan sedang mengumpulkan kaleng dan botol bekas untuk didaur ulang di Ninth Avenue. Timothy ditusuk sampai mati dan didakwa melakukan terorisme oleh otoritas New York, demikian reportase Guardian.

Sedangkan pada Mei 2017 sebelumnya, pria kulit putih Jeremy Joseph Christian (35) menikam Taliesin Myrddin Namkai-Meche dan Ricky John Best di sebuah kereta pada Jumat (26/05/2017) di Portland. Keduanya tewas.

Jeremy sebelumnya mengintimidasi dua wanita muslim di kereta. Taliesin, Ricky, dan seorang lain berusaha melindungi kedua perempuan itu, namun Jeremy berbalik menyerang dengan bermodalkan sebuah pisau. Saat mengintimidasi, Jeremy berteriak “Kita butuh orang Amerika asli di sini!”, “Semua Muslim seharusnya mati saja”, dan ujaran kebencian lainnya.

Lebih Banyak Teror Kulit Putih

Angka statistik juga tak bisa berbohong. Dalam laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS yang dipublikasikan pada April 2017, tercatat ada 85 kasus teror di AS yang berujung 225 kematian sepanjang periode 12 September 2001 (pasca tragedi 9/11) hingga 31 Desember 2016. Dari 85 kasus, 62 kasus (73%) di antaranya ternyata dilakukan oleh ekstremis sayap kanan atau penganut supremasi kulit putih, sementara sisanya yang 23 (27%) dilakoni oleh para ekstremis muslim.

Temuan versi Investigative Fund yang dicatat Huffington Post menyatakan hasil yang serupa. Dari total 201 kasus teror di AS sepanjang 2008-2016, ada 115 kasus di antaranya, atau yang terbanyak, didalangi oleh ekstremis kulit putih. Ekstremis Islam berada di tempat kedua dengan catatan 63 kasus, sementara 19 kasus dilakoni oleh ekstremis sayap kiri. Sementara sisanya dari kalangan faksi lain atau tak terafiliasi dengan faksi tertentu.

George Michael, akademisi Westfield State University yang telah bertahun-tahun memfokuskan studinya pada terorisme milisi Islam dan sayap kanan, menuturkan dalam bukunya Confronting Right-Wing Extremism and Terrorism in the USA (2003) bahwa terorisme sayap kanan punya sejarah panjang di AS. Mereka berkembang terutama setelah kekuatan kiri di AS menurun, dan selalu mengekor politisi yang punya visi rasisme serupa.

Pada era 1980-an lebih dari 75 ekstremis sayap kanan dan penganut supremasi kulit putih yang ditangkap di AS untuk enam aksi penyerangan. Pada tahun 1983, Gordon Kahl, anggota organisasi supremasi kulit putih Posse Comitatus, membunuh dua anggota polisi federal. Di tahun yang sama kelompok revolusioner faksi nasionalis kulit putih The Order merampok bank dan membom sebuah teater, sinagoga dan membunuh pengisi acara radio Alan Berg.

Kasus-kasus serupa juga terjadi di sepanjang 1990-an, bahkan lebih berdarah lagi. Pada April 1995 terjadi serangan di Oklahoma oleh dua orang ekstremis kulit putih Timothy McVeigh dan Terry Nichols yang merenggut nyawa 168 orang. Keduanya diduga melaksanakan balas dendam terhadap dua aksi aparat keamanan AS di Ruby Ridge dan Waco dan meningkatkan sentimen anti-pemerintah. Peristiwa ini dinyatakan sebagai kasus terorisme domestik paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Ada juga Eric Rudolph yang melakukan serangkaian aksi teror pada tahun 1996-1998. Ia melakukan pemboman Contennial Olympic Park pada 1996 lantaran dianggap mempropagandakan sosialisme global dan mempermalukan pemerintah AS. Kejadiannya yang menyeret nyawa dua orang dan melukai 100-an lainnya. Ia lalu mengebom klinik aborsi di Atlanta pada 1997, bar lesbian, dan tempat lain sehingga mengakibatkan dua orang lain meninggal serta banyak lainnya terluka. Akhirnya ia bisa diamankan oleh aparat kepolisian yang dinilai terlalu lambat dalam mencari jejak Eric.

Gagal Lindungi Diri dari Teroris

Naiknya Trump tidak terilepas dengan naiknya pamor kaum pemuja supremasi kulit putih, neo-Nazi, nasionalis sayap kanan, hingga kelompok anti-LGBT dan anti-imigran di AS. Soutern Poverty Law Center, situs yang didedikasikan untuk melawan kebencian antar kelompok di AS, mencatat gelombang kebencian dan intimidasi yang melibatkan kekerasan fisik dan aksi terorisme terjadi sebanyak 1.094 kasus selama satu bulan pertama pemerintahan Trump.

Kasus penembakan di Las Vegas juga memunculkan wacana pengetatan bahkan penghapusan aturan kepemilikan senjata api di AS. Kepemilikan senjata api oleh warga negara di AS dilindungi lewat Amandemen Kedua Konstitusi AS tahun 1971. Akibat kebijakan ini, menurut Small Arms Survey tahun 2007, AS menjadi negara dengan orang sipil bersenjata paling banyak di dunia. Setidaknya setiap 100 orang, 88,8 persen di antaranya memiliki senjata api.

Salah satu alasan mempunyai senjata api bagi warga AS adalah usaha untuk mencegah kejahatan, terutama oleh serangan teroris. Menariknya sepanjang 2005-2015, sebanyak 71 warga negara Amerika terbunuh oleh teroris di negaranya, tapi 301.787 terbunuh karena senjata api dalam periode yang sama. Tingkat kekerasan yang berkaitan dengan senjata api di Amerika Serikat merupakan yang paling tinggi di dunia. Sebuah fenomena yang tak ditemui di negara-negara maju lainnya.

Senjata untuk perlindungan diri ialah alasan yang telah dipatahkan oleh data statistik. Namun warga AS masih saja berpikir jika punya senjata, atau semakin banyak punya senjata, maka akan semakin aman dari aksi terorisme. Hal ini dibuktikan dengan naiknya penjualan senjata api pascaterjadi tragedi penembakan massal. Sulit dinalar akal sehat, namun fenomena ini benar-benar terjadi di AS.

Sehari usai tragedi penembakan di Las Vegas, saham perusahaan pembuat senjata seperti Sturm, Ruger & Co dan Smith & Wesson naik hingga 3 persen lebih. American Outdoor Brands naik hingga 5 persen, sementara Vista Outdoor naik 2 persen. Sebagaimana diberitakan Fortune, para investor juga berbondong-bondong membeli saham perusahaan pembuat senjata api AS. Kondisi yang sama juga terjadi usai tragedi penembakan di kelab malam gay di Orlando maupun pasca aksi teror Dylann Roof di Columbia.