Kisah Ibu yang Malah Tertawa Ketika Motornya Dibawa Kabur Orang


SURATKABAR.ID – Apa yang akan Anda lakukan jika kendaraan bermotor dibawa orang? Biasanya, tiap orang bisa marah, sedih atau panik saat mengetahui motornya kena gondol pencuri. Tapi tidak dengan ibu yang satu ini. Ia malah tertawa. Insiden yang terjadi di pulau seluas 50 hektare ini malah bisa membuat pencurian motor mengundang tawa. Bagaimana runut kisahnya?

Menukil Detik.com, Selasa (12/03/2019), sepeda motor biasa berseliweran menjelajahi pulau sepanjang 4 km tersebut. Jumlahnya tampak lebih banyak daripada yang ada di pulau-pulau lain di kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta. Beberapa sepeda motor di pulau wisata ini tak dipasangi pelat nomor polisi. Pulau yang dimaksud ialah Pulau Tidung.

Ketika pengendaranya berhenti dan menuju titik yang dituju, sepeda motor kadang tak dikunci setang. Bahkan di sana, kunci motornya pun kerap tak dicabut dan dibiarkan menggantung. Saat awak pers memantau berjalan-jalan di pulau ini pada malam Jumat (21/02/2019), tampak jelas sepeda motor dengan kuncinya masih tertancap dibiarkan begitu saja di samping-samping rumah.

Kendati begitu, ada pula sepeda yang dikunci setang oleh pemiliknya tanpa meninggalkan kunci kontak.

Dan siang harinya, terjadi peristiwa yang cukup membuat heran orang darat. Orang darat merupakan sebutan setempat untuk orang-orang dari daratan Jakarta.

Baca juga: Warga Mencari Uang Gobog dan Emas Purbakala di Lokasi Proyek Jalan Tol Malang

Di depan Toko Danu Sell, Bu Yeye, Bu Kukut, dan Bang Untung sedang nongkrong. Bu Kukut yang ikut menjaga lapak bensin eceran menyapa Ibu Yeye yang datang mengendarai sepeda motor, membeli kebutuhan harian di Toko Danu Sell.

Bu Yeye memarkirkan sepeda motor lima langkah dari Toko Danu Sell. Sekitar 10 menit kemudian, sepeda motor warna merah Bu Yeye dibawa pergi seorang pria yang baru saja berbelanja di toko ini. Peristiwa ini berlangsung cepat saja, pemilik motor menyadari dengan lambat.

“Heh! Itu motor kok dia yang bawa?” teriak Bu Yeye, sambil menengok ke Bu Kukut.

“Whaa…! Ketukar!” tukas Bu Kukut menyimpulkan.

Terlihat wajah Bu Yeye panik, namun kepanikan ini segera disusul dengan tertawa bersama-sama.

“Tolol ini, ha-ha-ha…,” ujar Bu Kukut.

Anehnya, motor si pria yang membawa lari motor Ibu Kukut masih tertinggal di sini, yakni motor bebek matik warna putih tanpa pelat nomor. Kunci kontaknya juga masih menempel, lengkap dengan gantungan kunci warna hijau.

“Punya saya warna merah, yang punya dia ini kan warna putih. Ya jelas bedalah punya saya dengan punya dia,” ungkap Yeye sambil geleng-geleng kepala.

Yeye mengidentifikasi si pembawa sepeda motornya merupakan pria berkulit gelap yang tinggal di bagian pojok pulau. Dia sering melihat pria itu, lantaran memang pulau ini tak besar-besar amat. Jadi tiap warga setempat tak terlalu asing satu sama lain. Jika tidak kenal nama, minimal mereka kenal wajah.

Lima menit berlalu, mereka masih tertawa-tawa memikirkan kejadian ini. Semakin dipikirkan, justru semakin menggelikan. Hujan deras kemudian turun. Bu Yeye mulai resah karena tak bisa pulang. Dan dia agak ragu bila harus membawa sepeda motor putih di depannya, karena sepeda motor itu bukan miliknya. Dia pun menelepon keluarganya.

Udah bawa aja, gampang, entar saya bilang ke orangnya yang punya,” tutur Bu Kukut ke Bu Yeye.

Singkat cerita, Bu Yeye memutuskan membawa motor putih itu saja ketimbang harus menunggu lebih lama lagi, mumpung hujan berhenti.

Bu Kukut memaparkan, orang Pulau Tidung punya kebiasaan untuk tidak mencabut kunci kontak dari sepeda motor. Kebiasaan ini memang tak berakibat pada hilangnya sepeda motor di sini. Namun tentu hal ini bisa berakibat fatal jika tidak diubah sesampainya di daratan Kota Jakarta.

“Makanya anak tetangga saya itu sepeda motornya hilang pas baru dibawa ke Jakarta kemarin, motornya nggak dikunci, ya hilang. Padahal baru beli itu,” celoteh Bu Kukut.