Memanas! Andi Arief Minta Karni Ilyas Minta Maaf, Tanggapannya Malah Begini


SURATKABAR.ID – Karena merasa dirugikan, Andi Arief meminta kepada pihak Karni Ilyas untuk minta maaf. Ia meminta agar Karni Ilyas selaku Pemimpin Redaksi TV One meminta maaf lantaran telah merugikan nama baiknya dan keluarga dalam kasus dugaan penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Andi mengemukakan, mestinya TV One tidak menggunakan foto-foto saat dirinya ditangkap di hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat. Hal itu dikarenakan sumbernya yang tidak jelas.

“Saya berharap bang @karniilyas dan tv one yang sudah menjadi algojo dalam menghabisi saya meminta maaf,” demikian Andi mencuitkannya melalui akun Twitter @AndiArief_ pada Minggu (10/03/2019).

Seperti dikutip dari reportase CNNIndonesia.com, Senin (11/03/2019), Andi tampak menyikapi hal ini dengan serius. Pasalnya, ia mencuitkan dan menyinggung akun serta nama Karni sebanyak 11 kali.

Awalnya, Andi mengaku tahu bahwa Karni mengirim wartawan TV One ke Badan Reserse Kriminal Direktorat IV pada pukul 10.00 Senin lalu (04/03/2019). Itu terjadi satu hari setelah Andi ditangkap di Menara Peninsula, Jakarta, Minggu (03/03/2019).

Setelahnya, Andi melanjutkan, TV One menayangkan foto-foto dirinya sewaktu sedang diperiksa polisi di Menara Peninsula. Dan itu berikut barang-barang yang ada di lokasi. Andi merasa disudutkan dengan hal tersebut.

Baca juga: Cuitan Menohok Andi Arief untuk Budiman Sudjatmiko

“Saya bukan tersangka bang Karni. Anda wartawan senior tapi abai,” imbuh Andi.

Karni tidak tinggal diam. Dia sempat memberikan klarifikasi melalui akun Twitternya @karniilyas.

Dia mengungkapkan Andi telah keliru. Karni menjelaskan orang yang memerintahkan wartawan ke Bareskrim bukan dirinya, melainkan koordinator liputan TV One. Dia juga mengaku baru tahu informasi bahwa Andi ditangkap sehari kemudian yakni Senin (04/03/2019), sekitar pukul 14.00 WIB.

“Sebab Senin itu saya tidur subuh dan bangun siang,” tutur Karni melalui akun Twitternya @karniilyas, Minggu (10/03/2019).

Sampai di situ, Andi belum mau berhenti. Dia tak puas dengan tanggapan Karni.

Andi menambahkan, Karni sendiri yang mengaku tahu info penangkapan dirinya pada Senin pagi. Andi menyebut Karni mengakui hal itu di acara Indonesia Lawyers Club yang ditayangkan langsung TV One pada Selasa (05/03/2019).

Andi menyebutkan dirinya bahkan telah dilepas kepolisian dua jam sebelum program ILC dimulai. Akan tetapi, acara ILC tetap dilanjutkan. Andi merasa diadili di forum itu meski tidak berstatus sebagai tersangka.

“Bang Karni menghajar orang yang secara hukum tidak bersalah,” ujar Andi.

“Persoalan Bang Karni menghabisi saya lewat tayangan foto, pada waktunya saya akan melakukan perhitungan,” tandas mantan aktivis reformasi 1998 tersebut.

Dalam hal ini, Andi Arief juga mengaku tak berada di posisi mengkritik kebebasan pers. Namun, ia menggarisbawahi bahwa pers tak boleh mengesampingkan fakta hukum. Staf khusus presiden di era Kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut menuturkan hal itu bukan tujuan dari kebebasan pers. Dan Andi merasa dirugikan atas pemberitaan yang ada saat itu.

Ia lalu menjelaskan, dalam kasusnya polisi sudah bekerja secara profesional.  Dia mengemukakan barang yang disita pun hanya uang sebesar Rp 20.000. Andi mengatakan polisi berhak melakukan penyelidikan. Dan saat itu berlangsung, pers tidak berhak menyebarkan foto atau material apapun dalam pemberitaan. Apalagi jika diiringi dengan narasi menghakimi.

“Ini standar dasar penyelidikan dan pemberitaan media.  Saya tidak bermaksud menggurui. Ini masuk skandal pers lho, Bang Karni,” tukas Andi.

Andi lalu bertanya-tanya soal alasan Karni sembrono karena menyebarkan foto dirinya dan barang-barang di Menara Peninsula. Seharusnya, lanjut Andi, Karni tahu hal itu tak boleh dilakukan karena telah malang melintang begitu lama di dunia media.

Menyinggung Soal Undang-undang Pers

Andi juga menyinggung soal Undang-Undang Pers. Dia mengunggah bagian Bab II Cara Pemberitaan dan Menyatakan Pendapat. Dalam foto yang diunggahnya, Andi melingkari pasal 5, 6 dan 7. Ia menekankan soal aspek kecermatan media dalam memberitakan yang termaktub dalam tiga pasal itu.

Andi pun menyebutkan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, siapa pun bisa dipidana jika menyebarkan konten dari offline ke online yang bisa mencemarkan nama baik orang lain.

“Bang Karni tahu kerugian immaterial saya dan keluarga?” tandas Andi kemudian.

“Saya berharap Bang Karni yang sudah memulai ini menjadi ‘bara’ untuk menjadi bagian memadamkannya. Saya bukan kriminal dan bukan persepsi buruk tentang foto-foto yang dimuat sudah meluas. Termasuk dilakukan media lain. Terima kasih,” tegasnya.