Reaksi Mengejutkan Cinta Laura Setelah Bahasa Inggrisnya Dibandingkan dengan Capres


SURATKABAR.ID – Artis dan penyanyi cantik, Cinta Laura Kiehl saat ini sedang ramai menjadi perbincangan netizen. Pasalnya, baru-baru ini beberapa pihak kerap membandingkan Bahasa Inggrisnya dengan calon presiden RI. Ya, belum lama ini, sebuah pernyataan disampaikan oleh seorang politisi. Ia menyebutkan bahwa Cinta Laura lebih layak menjadi presiden ketimbang salah satu calon presiden, karena Bahasa Inggrisnya.

Seperti dilansir dari reportase Liputan6.com, Kamis (07/03/2019), sang politisi mencatat bahwa syarat menjadi presiden itu harus hebat dalam berbahasa Inggris. Ia berkomentar, Bahasa Inggris Cinta Laura saja lebih baik dibandingkan salah satu capres.

Entah serius atau sekadar menyindir capres yang dimaksud, sang politikus itu pun mengajukan agar Cinta Laura saja yang menjadi presiden Indonesia.

Pernyataan mengejutkan tersebut disampaikan sang politisi saat sedang berdialog dengan generasi milenial di Bandar Lampung, Minggu, di sela-sela safari politiknya.

Jadi Presiden Itu Berat

Tak disangka, pernyataan politikus itu mendapat respons dari Cinta Laura. Di akun Twitter @xcintakiehlx, Cinta Laura menuliskan, “Jadi Presiden itu berat! Biar Pak @jokowi saja!

Baca juga: Berkaitan dengan Kasus yang Menimpa Ibunya, Anak Ratna Sarumpaet Sebut-Sebut Mahfud MD

Pernyataan Cinta Laura soal presiden ini, langsung memancing para netizen untuk berkomentar.

Komentar Usil Netizen

Akun media sosial Cinta Laura pun langsung dibanjiri komentar usil dari warganet.

Jadi Presiden itu berat! kamu ga bakal kuat, nanti hujan ga ada ojek becek-becek,” ujar pengguna Twitter @Jojonsuhendar.

Sebenarnya mending kaya Kim Jong-un, nggak bisa bahasa Inggris dia pake translator dari pada ngomong sendiri tapi terbata-bata,” tulis @toppingoreo.

Tanggapan Gerindra

Dikutip dari Medan.TribunNews.com, jawaban Cinta dan pernyataan Hasto ini ternyata langsung ditanggapi akun terverifikasi Partai Gerindra, @Gerindra, Selasa (05/03/2019).

Gerindra menyebutkan bahwa Hasto tidak paham apa yang dimaksudkannya. Gerindra menegaskan, kemampuan berbahasa asing bukan menjadi faktor utama menentukan pemimpin bangsa. Namun, kemampuan berbahasa asing itu sebaiknya dimiliki pemimpin bangsa. Karena, kata Gerindra, kemampuan bahasa akan membuat diplomasi antarnegara terjalin baik.

Gerindra lantas mengajak Cinta Laura mengenal sejumlah tokoh bangsa yang memiliki kemampuan berbahasa asing. Gerindra pun menyebutkan sejumlah nama itu.

Berikut kicauan lengkap Partai Gerindra:

“Selamat sore Mba Cinta. Menanggapi hal tersebut sepertinya Pak Hasto tidak paham. Kemampuan berbahasa asing bukan menjadi faktor utama kita dalam menentukan pemimpin bangsa ini.

Sekalian belajar sejarah Indonesia agar Mba Cinta tahu, admin ingin menyampaikan bahwa bangsa ini pernah memiliki putra-putra bangsa dengan kemampuan bahasa yang baik.

Seperti Alm. Gayatri Wailissa. Setidaknya beliau menguasai hingga 14 bahasa asing. Indonesia berduka kehilangan seorang polyglot terbaik bangsa seperti Alm.

Kemampuan berbahasa asing sebaiknya dimiliki oleh para pemimpin bangsa. Kemampuan berbahasa akan membuat diplomasi antarnegara terjalin baik. Apa jadinya, jika pemimpin bangsa tidak menguasai bahasa internasional?

Dalam sejarah bangsa Indonesia kita mengenal negarawan-negarawan yang menguasai setidaknya lima bahasa. Mereka disebut dengan polyglot. Bisa jadi mereka termasuk kategori orang-orang genius.

Dari ketekunan dan kedisiplinan kita pernah memiliki banyak negarawan dan tokoh bangsa. Kita tahu bahwa polyglot bukan keajaiban tapi ilmu yang digali.

Jadi jelas pemimpin harus memiliki ilmu, apapun itu, ilmu bahasa, ekonomi, strategi, dll.

Yuk kita belajar tentang sejarah tokoh-tokoh bangsa kita, biar Mba Cinta Laura mengerti sejarah bangsa Indonesia.

Agus Salim

Lelaki kelahiran Agam, Sumatera Barat, ini adalah negarawan dengan otak cemerlang. Dia banyak dipuji karena kemahirannya menguasai banyak bahasa.

Bahasa Belanda Agus Salim dipelajari pada saat beliau di kapal laut dalam perjalanan menuju Belanda. Dalam sejarah, Agus Salim pernah menjabat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia ke-3 pada periode 3 Juli 1947 – 20 Desember 1949.

Pada masa jabatannya Agus Salim menjadi ketua delegasi Indonesia dalam Inter Asian Relation Conference di India dan berusaha membuka hubungan diplomatik dengan sejumlah negara Arab, terutama Mesir dan Arab Saudi.

Dia pernah menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), yang merupakan sekolah khusus anak-anak Eropa. Salim melanjutkan pendidikannya ke Hoogere Burgerschool (HBS), dan lulus sebagai lulusan terbaik.

Setidaknya Haji Agus Salim menguasai sembilan bahasa, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki, dan Jepang. Bung Hatta sempat memuji betapa luar biasa kepandaian yang dimilikinya.

Pada 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi, untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada 1930, digelar konferensi Buruh Internasional di Jenewa. Agus Salim menghadiri konferensi tersebut. Dia didaulat sebagai penasehat delegasi buruh Belanda.

Pidato Salim dalam bahasa Inggris mengundang decak kagum dari peserta konferensi tersebut. Melihat hebatnya pidato Salim, seorang peserta konferensi menantangnya berpidato dalam bahasa Perancis. Salim menjawab tantangan tersebut. Lagi-lagi pidatonya mendapat pujian.

Soekarno

Presiden Republik Indonesia Pertama ini adalah seorang kutu buku. Selain menguasai sejumlah bahasa asing, Bung Karno memiliki keahlian berpidato yang luar biasa. Dia dapat menyatukan begitu banyak latar belakang etnik, budaya, dan agama dengan narasinya.

Kemampuan Bung Karno tersebut diperoleh melalui proses. Namun jelas bahwa buku-buku adalah bagian penting dari proses tersebut. Soekarno remaja sering larut menikmati beragam buku di perpustakaan ayahnya.

*Lumayan sama dengan Pak @prabowo ya

Kemampuan Bung Karno berbahasa asing juga terlihat dari kedekatannya dengan berbagai pemimpin dunia.

Howar Jones mengatakan, betapa terkesimanya dia melihat Bung Karno. Dalam pidatonya pemimpin Indonesia itu mampu mengutip panjang kata-kata Jefferson, Lincoln, atau pun Karl Marx persis dalam bahasa aslinya.

*Bukan unikon

Hamka

Kita memanggilnya dengan Buya Hamka, seorang sastrawan dan ulama yang dicintai di Indonesia. Masyarakat juga mengenal Hamka sebagai ahli filsafat dan aktivis politik. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, demikian nama lengkap beliau.

Beliau lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908, Hamka adalah seorang yang mempelajari berbagai ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik baik Islam maupun Barat secara otodidak.

Proses belajar secara otodidak sangat ditunjang dengan kemampuan bahasanya, terutama bahasa Arab. Hamka mahir berbahasa Arab. Itu sebabnya dapat meneliti karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah, seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti.

Berkat kemampuannya berbahasa Arab itu juga, dia meneliti karya sastra Perancis, Inggris, dan Jerman, seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Hamka adalah salah satu orang Indonesia yang paling produktif menulis dan menerbitkan buku. Buya, berasal dari bahasa Arab, abi atau abuya, yang berarti ayahku. Itu adalah panggilan yang ditujukan untuk seseorang yang dihormati.

R.M. Panji Sosrokartono

Bung Hatta pernah berkata, “…Kartono, intelektual yang menguasai 17 bahasa asing itu mudah diterima kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan bahkan Perancis.

Dia berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Mandarin, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin. Bahkan dia juga pandai berbahasa Basken (Basque) suatu suku bangsa Spanyol.

Raden Mas Panji Sosrokartono adalah putera R.M Adipati Ario Sosroningrat, seorang Bupati Jepara. Jika nama Kartono masih tidak familiar, Mba Cinta tentu mengenal sosok Raden Ajeng Kartini. Kartini tidak lain adalah adik kandung dari Sosro.

RA Kartini

Mba Cinta tahu RA Kartini kan?

Pada 1898 Sosrokartono melanjutkan sekolahnya ke negeri Belanda setelah menamatkan pendidikan dari Eropesche Lagere School di Jepara. Awalnya dia masuk sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tapi dia putuskan beralih ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur.

Dia adalah adalah mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda.

Gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden digenggamnya, Sosro melanglang buana ke seluruh Eropa menjelajahi berbagai pekerjaan.

Dia ditugaskan untuk memadatkan berita dalam bahasa Perancis menjadi berita yang terdiri dari 30 kata, dan ditulis dalam empat bahasa, Inggris, Spanyol, Rusia, dan Perancis. Beliau pun terpilih sebagai wartawan perang surat kabar The New York Herald Tribune.

Sosrokartono merupakan seorang polyglot yang menguasai banyak bahasa. Sebanyak 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara beliau pelajari.

Dari tanah Eropa, Sosro selalu mengirimkan buku dan buletin kepada adiknya Kartini. Dari buku-buku kiriman sang kakak itu lah Kartini mendapat pencerahan untuk melahirkan emansipasi perempuan di Tanah Air.

*Semoga Mba Cinta juga bisa menjadi pencerahan bagi wanita Indonesia

Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh bangsa kita yang cukup baik dengan kemampuan berbahasanya menorehkan sejarah bagi bangsa kita, bangsa Indonesia.

Jadi sekali lagi maksud admin disini ingin menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa asing memang bukanlah menjadi faktor utama. Tapi apakah itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi seorang pemimpin bangsa??

Disini admin tidak ingin membandingkan kemampuan berbahasa Calon Presiden Mba Cinta dengan Pak @prabowo.

Admin hanya ingin menanggapi pernyataan Pak Hasto yang Mba Cinta share sekaligus sedikit memberi kuliah kepada Mba Cinta tentang sejarah tokoh-tokoh bangsa kita, bangsa Indonesia,” demikian ditulis Gerindra.